<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak Kata &#187; Rasulullah.</title>
	<atom:link href="http://rujakkata.com/tag/rasulullah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujakkata.com</link>
	<description>Kala Kata Berjumpa Makna</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Jun 2010 10:36:50 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Kesibukan Mematikan Ketersegeraan</title>
		<link>http://rujakkata.com/2010/03/03/kesibukan-mematikan-ketersegeraan.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2010/03/03/kesibukan-mematikan-ketersegeraan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 03:56:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tumbuk Asam]]></category>
		<category><![CDATA[Adi bin Hatim]]></category>
		<category><![CDATA[Hudzaifah Ibn Yaman]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ashim]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah.]]></category>
		<category><![CDATA[Said bin Musayyib]]></category>
		<category><![CDATA[Umar bin Khattab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[
Dunia memang selalu menggoda, isinya penuh dengan hamparan perwujudan cara bagaimana memuaskan ambisi di dada. Dunia selalu penuh dengan warna yang menghadirkan pencitraan-pencitraan berbeda. Manusia sebagai anggota didalamnya pun memiliki peran besar dalam kehidupan di dunia. Hal ini terkait dengan untuk apa dirinya diciptakan, dan apa yang semestinya dilakukan di dunia. Seorang yang di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" title="Kesibukan Mematikan Ketersegeraan" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:tueY4CJO3V3QFM" alt="" width="246" height="184" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dunia memang selalu menggoda, isinya penuh dengan hamparan perwujudan cara bagaimana memuaskan ambisi di dada. Dunia selalu penuh dengan warna yang menghadirkan pencitraan-pencitraan berbeda. Manusia sebagai anggota didalamnya pun memiliki peran besar dalam kehidupan di dunia. Hal ini terkait dengan untuk apa dirinya diciptakan, dan apa yang semestinya dilakukan di dunia. Seorang yang di dalam hatinya memiliki keimanan pasti tahu apa yang semestinya ia lakukan di dunia, seseorang yang di dalam dirinya terdapat kejahilan pun tahu bagaimana cara memuaskan kejahilannya lebih dalam lagi di dunia. Tak sampai disana, seseorang yang menggunakan klaim bahwa dirinya beriman pun tahu bagaimana cara menggunakan klaim tersebut untuk menempatkan dirinya pada posisi aman yang diinginkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-57"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang sahabat mulia, Hudzhaifah Ibnul Yaman. Sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi kepercayaan Nabi, pengemban amanah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjadi mata-mata pertama dalam Islam di barisan para musyrikin. Seorang sahabat yang acapkali bertanya soal keburukan dikala ketika itu sahabat lainnya menanyakan soal-soal kebaikan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Hudzhaifah bin Yaman radhiyallohu ‘anhu berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Kelak akan datang satu masa dimana Islam menjadi usang seperti usangnya kain. Manusia membaca al-Qur’an, akan tetapi dia tidak merasakan manisnya. Mereka tidur di malam hari dan di pagi hari. Dia telah meninggalkan al-Qur’an seakan-akan belum pernah ada satu kitab pun yang diturunkan. Dia tidak tahu lagi waktu shalat, waktu shaum, waktu haji dan dia pun tidak mengetahui satu kewajiban pun yang diberikan kepadanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Perkataan yang sama pun pernah terlontar dari lisan Al Faruq Umar bin Khattab, yakni tali Islam yang pertamakali terlepas adalah kepemimpinan dan hingga akhirnya seorang tidak tahu kewajiban lain dalam Islam melainkan hanya shalat saja.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ya, masa yang dikatakan dua sahabat mulia tadi sudah tiba kini. Betapa banyak kaum muslimin yang mudah melalaikan bukan lagi perkara-perkara yang sifatnya anjuran ataupun sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan lebih dari itu, yakni banyaknya kewajiban ditengah-tengah ummat yang hilang atau tak diabaikan secara sengaja.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Mungkin kita bisa melihatnya, betapa miris ketika tak jauh dari suara masjid yang terdengar adzannya hingga jarak beberapa kilometer, beberapa pengayuh becak tetap acuh saja diatas besi mata pencahariannya. Tak jauh pula darisana pengemudi angkutan umum terus menikmati kopi hangat disuguhi lantunan dendang dangdut di kedai milik seorang janda yang nakal menggoda. Disekitarnya lagi seorang tukang ojek tetap setia melihat wajahnya di depan kaca spion sembari mencabut kumis dan memencet jerawat genitnya, belum lagi di warung makan, belum lagi di perusahaan besar tempat peredaran uang berputar kencang, tak terkecuali disela rapat sidang pemimpin rakyat. Panggilan Allah yang sudah hilang sirna hingga nantinya, tidaklah ada suatu masjid yang ketika waktu shalat tiba hanya diisi tiga orang saja setiap jamaahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Begitulah kenyataan. Selalu berakibat karena ada sebab yang menuntunnya. Betapa bersegera itu telah hilang. Betapa rindu telah hilang dari dada karena beberapa potong kue kenikmatan dunia. Kesegeraan untuk menempuh jalan kebaikan dan menjadi penyebab dari keberkahan harta yang di setiap harinya selalu berusaha sekuat tenaga. Jauhlah bila kita membandingkan dengan apa yang dimiliki oleh generasi-generasi penuh kemuliaan. Bagi generasi itu, harta bukanlah semata alat pengekang hingga menjadi pemasung dari terhalangnya kenikmatan mengadu kepada Rabbnya. Disana ada Adi bin Hatim yang berkata, “Tidaklah waktu shalat itu datang melainkan aku telah siap dengan perlengkapan untuk shalat, dan aku sangat merindukan waktu tersebut.” Atau perkataan Said bin Musayyib yang berkata, “Selama tiga puluh tahun aku telah bearada di masjid sebelum muadzin mengumandangkan adzan.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Atau sebuah teguran lembut dari Imam Ashim bin Abi An Nujud Al-Asadi dimana setiap kali beliau berangkat ke masjid, ia senantiasa berkata kepada orang-orang disepanjang jalannya itu “Sudahlah, mari ikut kami, sebab apa yang menjadi kebutuhan kalian tidak akan hilang.” Kemudian beliau masuk kedalam masjid dan melakukan shalat.</p>
<p style="text-align: justify;">Masa ini memang bukanlah masa-masa kejayaan dalam Islam, akan tetapi lihatlah perkataan Imam Ashim tadi, betapa pesan yang ia berikan sangat tepat penyampaiannya. Meninggalkan sejenak aktivitas kesibukan untuk memnuhi panggilan Allah tidaklah akan menghilangkan rizki seseorang. Apatah lagi tak ada kesibukan bagi dirinya untuk bersegera memnuhi panggilan Allah Azza wa Jalla.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Merunut kesibukan tidaklah akan ada habisnya. Namun yang terbaik bagi seseorang ialah hendaknya kesibukan tidak menjadi alasan setiap kali panggilan dari Allah Ta’ala hadir ditelinga. Kesibukan dimiliki oleh semua orang, dan tak sepantasnya seseorang mengeluh secara berlebihan diatas kesibukannya yang menjadikan alasan untuk tidak menunaikan ketaatan. Tak ada yang lebih sibuk dari Allah Ta’ala, dengan rahmat dan kasih sayangnya, Dia tetap memelihara langit dan bumi. Rabb yang tak pernah lelah serta tak pernah tidur. Sedangkan manusia, betapa ingkarnya ia dari perjanjian yang telah dibuat Rabbnya untuk taat dan menjalankan aturan Allah yang telah ditentukan hanya dengan alasan kesibukan mengejar harta dunia. Sangat gembira bila berjumpa dengan harta, akan tetapi sangat ingkar terhadap Pemilik dan Pemberi harta sesungguhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Wallahu ‘alam bii shawwab.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2010/03/03/kesibukan-mematikan-ketersegeraan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Menunggu Dikala Rindu</title>
		<link>http://rujakkata.com/2010/03/03/ada-menunggu-dikala-rindu.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2010/03/03/ada-menunggu-dikala-rindu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 03:51:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulek Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakr]]></category>
		<category><![CDATA[Hanzhalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnul Qayyim]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[

Aku suka mati karena rindu kepada Rabb. Aku suka fakir (miskin) karena tawadhu’ kepada Rabb. Dan aku suka sakit karena itu bisa menghapus kesalahanku. (Hilyatul Auliya : 1/217)

Perkataan tadi keluar dari seorang shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Abu Darda. Salah seorsang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang taqwa nan wara’ dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em><img class="aligncenter" title="Menunggu Menetes" src="http://1.bp.blogspot.com/_Yiz02Yn6YZE/SmsW-GlPjPI/AAAAAAAAAGg/wd-klAJbpgs/s400/pembeli+rindu.jpg" alt="" width="191" height="143" /></em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Aku suka mati karena rindu kepada Rabb. Aku suka fakir (miskin) karena tawadhu’ kepada Rabb. Dan aku suka sakit karena itu bisa menghapus kesalahanku.</em> (Hilyatul Auliya : 1/217)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Perkataan tadi keluar dari seorang shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Abu Darda. Salah seorsang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang taqwa nan wara’ dalam hidupnya. Istiqomah dalam beribadah serta dicintai oleh para sahabat lainnya. Perkataan itu merupakan nasihat yang menyejukkan dan seharusnya menjadi penyejuk jiwa dan pelapang dada atas apa yang terjadi pada setiap muslim. Karena hidup ini adalah siklus. Perputaran kehidupan terus terjadi di gelanggang dunia, setiap orang adakalanya mati, dan ketika itu pula di belahan dunia lain ada yang hidup. Dibelahan dunia barat ada yang fakir, maka disebelah timur tumbuhlah kekayaan yang diskriminan. Terus berputar dan silih berganti. Sebagaimana hari-hari yang diisi oleh matahari terbit dan terbenam berganti bulan bersinar dan menjadi sabit kembali.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-55"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kerinduan adalah asa yang menggelayut dalam dada. Semakin tinggi pautan kerinduan seseorang, maka akan semakin nyata pula tingkat harapan pencapaiannya. Rindu kadang menggelayut dan menorehkan seberkas senyum dalam wajah datar seorang ibu. Disaat menanti kedatangan anaknya setelah merantau sekian lama. Rindu pula menggelayut seorang pemuda dikala asa menggenapkan separuh agama sudah di depan mata, ataukah rindu para pendosa untuk mengakhiri hidupnya diatas sajadah taqwa. Seperti pula senandung rindu istri seorang mujahid yang bersiaga di medan jihad saat Umar bin Khattab mendengar syair kerinduannya, lalu Umar bertanya kepada anaknya Hafshah, soal sampai kapan seorang wanita dapat menahan kerinduan atas suaminya. Rindu itu adalah nyata dan sulit terhapus dalam dada.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Selalu ada nilai dalam momentum kerinduan. Menyibakkan nilai suka dan membakar nilai nestapa. Kadangkala rindu itu tiba dikala aktivitas seseorang terkabulkan oleh Allah atas doanya, dimasa yang sekarang dirindunya. Ketika ia rindu untuk membaca Al Qur’an dan mempunyai keluangan waktu untuk memahami secara mendalam kandungannya, maka rindu itu hadir menyeruak saat ia berada diatas meja kerja ketika kesibukan menyita waktunya. Disaat terbayang momentum indah dari kehidupan yang dirayakan penuh suka cita, maka rindu bisa menjadi obat untuk melepas kepenatan dan kejenuhan yang jemu mendera nilai-nilai hampa.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Handzhalah mengajarkan kita soal bagaimana membayar kerinduan senyatanya. Namanya adalah Hanzhalah Al Asadi, juru tulis pilihan Nabi. Suatu ketika ia berjumpa dengan Abu Bakar Ash Shiddiq. Hanzhalah menuturkan kisahnya, Suatu ketika, aku berjumpa dengan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu &#8216;anhu.   “Ada apa denganmu, wahai Hanzhalah?” tanyanya (dalam riwayat lain ketika itu Hanzhalah melewati hadapan Abu Bakr sambil menangis).</p>
<p style="text-align: justify;">“Hanzhalah ini telah berbuat nifaq,” jawabku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Subhanallah, apa yang engkau ucapkan?” tanya Abu Bakr.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bila kita berada di sisi Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau mengingatkan kita tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kita bisa melihatnya dengan mata kepala kita. Namun bila kita keluar meninggalkan majelis Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, istri, anak dan harta kita menyibukkan kita, hingga kita banyak lupa / lalai,” kataku.<br />
“Demi Allah, kami juga menjumpai yang semisal itu,” Abu Bakr menanggapi perasaan Hanzhalah. Aku pun pergi bersama Abu Bakar menemui Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam hingga kami dapat masuk ke tempat beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
”Hanzhalah ini telah berbuat nifaq, wahai Rasulullah,” kataku.<br />
“Apa yang engkau katakan? Mengapa engkau bicara seperti itu?” tanya beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. “Wahai Rasulullah, bila kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kami dapat melihatnya dengan mata kepala kami. Namun bila kami keluar meninggalkan majelismu, istri, anak dan harta kami (sawah ladang ataupun pekerjaan, –pent.) melalaikan kami, hingga kami banyak lupa/ lalai,” jawabku. Mendengar penuturan yang demikian itu, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda
</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tetap berada dalam perasaan sebagaimana yang kalian rasakan ketika berada di sisiku dan selalu ingat demikian, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di atas tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah, ada saatnya begini dan ada saatnya begitu.” Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim no. 6900, kitab At-Taubah, bab Fadhlu Dawamidz Dzikr wal Fikr fi Umuril Akhirah wal Muraqabah, wa Jawazu Tarki Dzalik fi Ba’dhil Auqat wal Isytighal bid Dunya).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat lain disebutkan sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di atas dengan lafadz “Wahai Hanzhalah, ada saatnya begini, ada saatnya begitu. Seandainya hati-hati kalian senantiasa keadaannya sebagaimana keadaan ketika ingat akan akhirat, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian, hingga mereka mengucapkan salam kepada kalian di jalan-jalan.” (HR. Muslim no. 6901). Hanzhalah radhiallahu &#8216;anhu dengan kemuliaan dirinya sebagai salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, tidaklah membuatnya merasa aman dari makar Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Bahkan ia merasa khawatir bila ia termasuk orang munafik, karena saat berada di majelis Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam rasa khauf (takut kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan azab-Nya yang pedih) terus menyertainya, dibarengi muraqabah (merasa terus dalam pengawasan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala), berpikir dan menghadapkan diri kepada akhirat. Namun ketika keluar meninggalkan majelis Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, ia disibukkan dengan istri, anak-anak dan penghidupan dunia. Hanzhalah khawatir hal itu merupakan kemunafikan, maka Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun mengajari Hanzhalah dan para shahabat yang lain bahwa keadaan seperti itu bukanlah kemunafikan. Karena mereka tidaklah dibebani untuk terus menerus harus memikirkan dan menghadapkan diri hanya pada kehidupan akhirat. Ada waktunya begini dan ada waktunya begitu. Ada saatnya memikirkan akhirat dan ada saatnya mengurusi penghidupan di dunia. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 17/70).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Begitulah rindu, adakalanya berisi kegelisahan yang mendalam terhadap hal-hal yang ditakutkan, terlebih sebelumnya perindu memiliki kesan indah membekas pada momentum yang pernah direguk kenikmatan diatasnya. Balada sang perindu selalu hadir dalam antrian-antrian lorong tunggu. Menunggu bagaimana waktu merealisasikan hasil usaha yang ditempuh. Rindu bukan kumpulan fatamorgana kesia-siaan, ia hadir karena adanya panggilan jiwa. Lubuk hati yang menggelora dan hasrat asa berkumpul bersama. Pada hakikatnya rindu itu sendiri adalah tujuan dari garis-garis impian yang tersadarkan untuk memenuhi relung jiwa yang terpaut suatu kenikmatan dan kebahagiaan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Indah nian perkataan Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Ighatsatul Lahfan 2/194, “Sesungguhnya hati itu akan melewati waktu-waktu yang penuh dengan kegembiraan karena kerinduan dan kecintaannya kepada Allah Azza wa Jalla.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Wallahu ‘alam bi shawwab…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2010/03/03/ada-menunggu-dikala-rindu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perubahan Selalu Membutuhkan Bimbingan</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/11/09/perubahan-selalu-membutuhkan-bimbingan.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/11/09/perubahan-selalu-membutuhkan-bimbingan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 02:30:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulek Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Thalhah]]></category>
		<category><![CDATA[Anas bin Malik]]></category>
		<category><![CDATA[Malik bin Nadhlar]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah.]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Sulaim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[

Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah. Seorang wanita Bani Khazraj yang masuk Islam di awal-awal. Parasnya yang cantik dan akhlaknya yang baik mendorong para pria di masanya memperebutkan dirinya untuk memperistri. Ia menikah dengan Malik bin Nadhlar, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: centre;"><img class="aligncenter" src="http://www.zubeyr-kureemun.com/SaudiArabia/Mosques%20of%20Medina/054.jpg" alt="" width="253" height="217" /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah. Seorang wanita Bani Khazraj yang masuk Islam di awal-awal. Parasnya yang cantik dan akhlaknya yang baik mendorong para pria di masanya memperebutkan dirinya untuk memperistri. Ia menikah dengan Malik bin Nadhlar, yang darisana lahirlah seorang pembantu Rasulullah terbaik pada masanya, dan seorang yang Rasulullah pernah doakan agar memiliki keberkahan umur dan banyaknya keturunan. Anak itu bernama Anas bin Malik.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-13"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Seiring dengan cahaya nubuwwah dan dakwah tauhid menyapa mereka-mereka yang berakal sehat dan fitrah yang lurus menghampiri hati setiap orang yang mendengar dan mempelajarinya. Tak terkecuali dengan Ummu Sulaim. Ia masuk Islam dengan kokoh sekalipun sang suami menentangnya. Suaminya menentang ke-Islaman Ummu Sulaim hingga akhirnya sang suami meninggalkannya karena merasa sang istri sudah keras kepala. Ada percakapan kemarahan sang suami yang dibantah dengan jawaban kecerdasan penuh kebijakan nan memenangkan. Kemarahan Malik suaminya yang baru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, “Apakah engkau murtad dari agamamu?”. Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab: ”Tidak, bahkan aku telah beriman”.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika beliau menuntun Anas (putra beliau) sembari mengatakan: “Katakanlah La ilaha illallah.” (Tidak ada ilah yang haq kecuali Allah). Katakanlah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) kemudian Anas mau menirukannya. Akan tetapi ayah Anas mengatakan, “Janganlah engkau merusak anakku”. Maka beliau menjawab: “Aku tidak merusaknya akan tetapi aku mendidik dan memperbaikinya”. Indah, begitulah semestinya seorang ibu, memiliki sikap dan tekad untuk mendidik anaknya dengan cermat dan menentukan apa yang tepat bagi kebaikan agamanya. Para pendahulu mengajarkan bahwasanya kebaikan bagi seorang ibu adalah terlihat dengan bagaimana kondisi sang anak. Bila sang anak terdidik dengan baik, maka tentulah ia lahir dari seorang ibu yang baik pula. Tidaklah suatu kebaikan melainkan Islam telah mengajarkannya dengan sempurna. <em>“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”</em> (QS. Al Baqarah : 110)</p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan waktu selalu tak menentu, hanya yang dapat mengatur dengan baiklah mereka-mereka yang bisa menjadi pemenangnya. Sang suami pun akhirnya terbunuh dalam sebuah peperangan. Setelah kegengsian dirinya yang tak mau masuk Islam pasca meninggalkan seorang istri mulia serta anak yang dibangga. Babak baru kehidupan Ummu Sulaim pun berlanjut, ia bertekad untuk membesarkan sang anak dengan perkataannya, ““Aku tidak akan menyampih Anas sehingga dia sendiri yang memutusnya, dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku”. Lalu ia menyerahkan Anas kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam agar dijadikan pembantu sekaligus dapat menimba ilmu sebanyak-banyaknya kepada tauladan terbaik bagi ummatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang bercerita tentang ketegaran hati dan kesabaran juga mulianya ibu dan anak ini. Terdengarlah berita ini ke telinga Zaid bin Sahal an-Najjary atau yang populer dengan nama Abu Thalhah, seorang berstatus sosial tinggi, kaya raya, serta terkenal sebagai penunggang kuda yang cekatan di kalangan Bani Najjar, selain itu juga pemanah jitu dari Yatsrib yang harus diperhitungkan..</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menginginkan Ummu Sulaim karena telah mengetahui bahwasanya Ummu Sulaim memiliki kecakapan akhlak dan perangai disertai sifat-sifat wanita yang mulia. Berbeda jauh mungkin dengan saat ini, ketika para pemuda tertarik dengan gadis dengan paras yang lebih didahulukan dan agama dikebelakangkan. Dengan semangat sekarang atau tidak sama sekali, Abu Thalhah tahu sudah banyak pria yang berharap pula untuk memperistri Ummu Sulaim. Maka Abu Thalhah memberanikan diri untuk menemui Ummu Sulaim dengan harapan dapat menerima pinangannya. Dengan didampingi sang putra, diperkenankanlah Abu Thalhah untuk masuk kerumah dan menyampaikan maksud kedatangannya. Namun berbalik arah kapal yang dilaju oleh Abu Thalhah. Ummu Sulaim menolaknya dengan ucapan, &#8220;Sesungguhnya laki-laki seperti Anda, wahai Abu Thalhah, tidak pantas saya tolak lamarannya. Tetapi aku tidak akan kawin dengan Anda, karena Anda kafir.&#8221; Abu Thalhah terpaksa menggigit jari atas penolakan tersebut, pupus sudah rasa percaya diri atas criteria yang ia miliki. Popularitas dan materi tak berarti di hadapan Ummu Sulaim hanya karena sang peminang masih sebagai seorang musyrik. Abu Thalhah tetap penasaran dengan persangkaan ada laki-laki lain di hati Ummu Sulaim.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Abu Thalhah mencoba untuk menanyakannya kepada Ummu Sulaim, &#8220;Demi Allah! Apakah sesungguhnya yang menghalangi engkau untuk menolak lamaranku, hai Ummu Sulaim?&#8221; Jawab Ummu Sulaim, &#8220;Tidak ada, selain itu.&#8221;  Tanya Abu Thalhah, &#8220;Apakah yang kuning ataukah yang putih &#8230;? Emas atau perak?&#8221;  Ummu Sulaim balik bertanya, &#8220;Emas atau perak &#8230;?&#8221;  &#8220;Ya, emas atau perak?&#8221; jawab Abu Thalhah menegaskan. Kata Ummu Sulaim, &#8220;Kusaksikan kepada Anda, hai Abu Thalhah, kusaksikan kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya jika engkau Islam, aku rela Anda menjadi suamiku tanpa emas dan perak, cukuplah emas itu menjadi mahar bagiku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar ucapan dari Ummu Sulaim tersebut, Abu Thalhah teringat akan patung sembahannya yang terbuat dari kayu bagus dan mahal. Patung itu khusus dibuatnya untuk pribadinya, seperti kebiasaan bangsawan-bangsawan kaumnya, Bani Najjar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ummu Sulaim telah bertekad hendak menempa besi itu selagi masih panas (mengislamkan Abu Thalhah). Sementara Abu Thalhah terbengong-bengong melihat berhala sesembahannya, Ummu Sulaim melanjutkan bicaranya, &#8220;Tidak tahukah Anda, wahai Abu Thalhah, patung yang Anda sembah itu terbuat dari kayu yang tumbuh di bumi?&#8221; Tanya Ummu Sulaim.&#8221;Ya, Betul!&#8221; jawab Abu Thalhah. &#8220;Apakah Anda tidak malu menyembah sepotong kayu menjadi Tuhan, sementara potongannya yang lain Anda jadikan kayu api untuk memasak? Jika Anda masuk Islam, hai Abu Thalhah, aku rela engkau menjadi suamiku. Aku tidak akan meminta mahar darimu selain itu,&#8221; kata Ummu Sulaim. &#8220;Siapakah yang harus mengislamkanku?&#8221; Tanya Abu Thalhah. &#8220;Aku bisa,&#8221; jawab Ummu Sulaim.  &#8220;Bagaimana caranya?&#8221; tanya Abu Thalhah. &#8220;Tidak sulit. Ucapkan saja kalimat syahadah! Saksikan tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah. Sesudah itu pulang ke rumahmu, hancurkan berhala sembahanmu, lalu buang!&#8221; kata Ummu Sulaim menjelaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Thalhah tampak gembira. Lalu, dia mengucapkan dua kalimat syahadah. Sesudah itu Abu Thalhah menikah dengan Ummu Sulaim. Mendengar kabar Abu Thalhah menikah dengan Ummu Sulaim dengan maharnya Islam, maka kaum muslimin berkata, &#8220;Belum pernah kami mendengar mahar kawin yang lebih mahal daripada mahar kawin Ummu Sulaim. Maharnya ialah masuk Islam. Sejak hari itu Abu Thalhah berada di bawah naungan bendera Islam. Segala daya yang ada padanya dikorbankan untuk berkhidmat kepada Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ada Kerja Dan Bahagia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah usaha, selalu menampakkan sisi bahagia di akhirnya. Seseorang bisa saja merasa percaya diri dan berani atas apapun kehendaknya. Namun kehendak terbesar berada di tangan Allah. Sapaan hidayah adalah sapaan akrab dan penuh pesona. Menarik setiap akal sehat yang penuh rona. Tak terkecuali bagi Abu Thalhah dan Ummu Sulaim yang banyak catatan sejarah mengisi hari-harinya. Keislaman Abu Thalhah adalah eksistensi pencapaian tekad untuk berubah. Perubahan selalu membutuhkan bimbingan dan panduan. Maka kelak tidak akan mungkin seseorang bisa mengikuti kafilah hidayah jika tak ada rombongan yang mengajaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah berapa banyak sapaan mampir di hati-hati ini, dan sudah berapa banyak pula kekerasan dan ego Malik bin Nadhlar selalu menghalangi. Tipu daya dunia telah menghancurkan dan membutakan diri. Sekalipun surga sudah tersaji dan Malik pun mengakui bahwasanya Islam memang sempurna. Tapi sekali lagi, keegoisan meruntuhkan perubahan. Maka tepatlah sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam “<em>Tiga perkara yang merusak jiwa; kebakhilan yang ditaati, pengikut hawa nafsu, dan sombong dengan ketenaran popularitasnya.”</em> (Mushannaf Abdurrozaq, status hasan oleh Al Albani dalam Dhaif Jami’ush Shaghir 12/297).</p>
<p style="text-align: justify;">Maka kecongkakan apalagi yang bisa dibanggakan. Hidayah dalam Islam telah menunjukkan cengkeraman maknanya. Semua berpadu menjadi satu. Siapa yang pernah mulia dalam keadaan kafirnya, maka Islam pun akan memberikan kemuliaan atas dirinya saat ia mau berserah hanya Allah yang berhak untuk diibadahi. Kekuatan cinta Abu Thalhah telah mengubah jalan hidupnya, Keteguhan Ummu Sulaim telah memberikan keberkahan melalui lisan Nabi shallalahu ‘alayhi wa sallam “Semoga Allah memberikan keberkahan pada kalian berdua”. Terakhir, hidayah telah mengajarkan kita bagaimana menjadi mulia setelahnya dan bahagia di akhirnya. Berangkatlah menuju rombongan hidayah agar menjadi bagian darinya. Tak ada celah untuk egoisme dan takjub diri. Berikanlah sedikit sisa untuk kepasrahan dan biarkan keiklasan yang bekerja mencari maknanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Wallahu ‘Alam Bi Shawwab</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/11/09/perubahan-selalu-membutuhkan-bimbingan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
