<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak Kata &#187; Abu Hurairah</title>
	<atom:link href="http://rujakkata.com/tag/abu-hurairah/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujakkata.com</link>
	<description>Kala Kata Berjumpa Makna</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Jun 2010 10:36:50 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Adakalanya Perintang Kebenaran Datang Berulang</title>
		<link>http://rujakkata.com/2010/04/27/adakalanya-perintang-kebenaran-datang-berulang.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2010/04/27/adakalanya-perintang-kebenaran-datang-berulang.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 09:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tumbuk Asam]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Dzar Al Ghifari]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Hurairah]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Muslim Al Khaulani]]></category>
		<category><![CDATA[Aswad Al Ansi]]></category>
		<category><![CDATA[bu Ubaidah bin Jarrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hubaib bin Zaid bin Ashim]]></category>
		<category><![CDATA[Musailamah Al Kadzdzab]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Imarah Nusaibah bintu Ka’ab bin Amru bin Auf bin Mabdzul Al-Anshariyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[
Sungguh Islam merupakan agama yang indah, agama yang berjalan diatas bimbingan kebenaran. Agama yang terjaga hingga akhir masa, agama yang dengannya Allah Ta’ala menurunkan Nabi akhir zaman dan takkan ada lagi nabi sesudah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Namun selalu ada penentangan diatas jalan kebenaran. Tak selamanya kebenaran berjalan mulus tanpa hambatan. Akan tetapi selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://timecapsule.phasedrift.com/photos_generated/barbed_wire_fence-575x450.jpg" alt="" width="204" height="286" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh Islam merupakan agama yang indah, agama yang berjalan diatas bimbingan kebenaran. Agama yang terjaga hingga akhir masa, agama yang dengannya Allah Ta’ala menurunkan Nabi akhir zaman dan takkan ada lagi nabi sesudah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Namun selalu ada penentangan diatas jalan kebenaran. Tak selamanya kebenaran berjalan mulus tanpa hambatan. Akan tetapi selalu ada rintangan yang menghalanginya, namun justru rintangan itulah yang mengokohkan bahwa begitulah kebenaran. Tak tergoyahkan dengan guncangan dahsyat sebab kokohnya berada dibawah perlindungan Ar Rahman dan selalu ada insan-insan pilihan yang meneguhkan keimanan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-68"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Peperangan itu terjadi di masa khalifah Abu Bakar radhiyallohu ‘anhu. Sebuah peperangan yang berawal dari keputusan karena dillandasi adanya beberapa kabilah yang murtad setelah Rasulullah wafat. Usungan peperangan itu salah satunya adalah memberangus makar Musailamah Al Kadzdzab yang pernah dipermalukan oleh Abu Hurairah dengan sebutan seseorang yang mendapatkan wahyu dari syaithan. Di dalam perang ini ikutlah serta Hubaib bin Zaid bin Ashim, putra pemberani dari ibu seorang pemberani yang juga shahabiyah yakni Ummu Imarah Nusaibah bintu Ka’ab bin Amru bin Auf bin Mabdzul Al-Anshariyyah dari Bani Mazin An-Najjar. Wanita tangguh yang berkali-kali turun ke medan jihad. Hubaib pada saat memerangi pasukan Musailamah harus merelakan dirinya tertawan oleh pasukan Musailamah beserta gembong makarnya. Maka ketika Hubaib tertawan, terjadilah dramaturgi penyiksaan demi mendapatkan pengakuan bahwasanya Musailamah adalah sang Nabi pengganti. Terjadi pulalah dialog antara Hubaib dengan Musailamah. Musailamah bertanya kepada Hubaib, “ Engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?” Hubaib pun menjawab, “Ya”. Lalu Musailamah kembali bertanya, “Engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?” Hubaib pun menjawabnya dengan jawaban yang indah penuh makna, “Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan itu.” Sehingga akhirnya Musailamah pun mencapai titik nadir, emosinya tak tertahan, wahyu dari syaithan pun kembali datang lantas ia memotong-motong bagian tubuh Hubaib hingga akhirnya Hubaib pun mendapatkan syahidnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Musailamah dipermalukan oleh Hubaib dengan perkataan <em>“Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan itu.”</em> Ya, ganjaran yang pas bagi penyeru kebatilan kala menggoyang-goyang keimanan pejuang kebenaran. Hubaib memerangi Musailamah untuk mendapatkan syahid yang diawali dengan tertawan dirinya, justru ditawarkan untuk melakukan pengakuan dengan pemaksaan. Episode memalukan bagi seorang Nabi palsu. Penghinaan sekaligus pelecehan terhadap simbol-simbol keangkuhan yang dilakukan hanya dengan beberapa kalimat lontaran.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sejarah berjalan bersamaan, Nabi palsu pun kembali datang. Masanya pun tak jauh dari masa dimana Musailamah melakukan kedunguan yang serupa. Gaya yang dikampanyekan sama, dan momentum yang dipakai lebih dahulu dilakukan duplikasinya. Aswad Al Ansi mendapatkan wahyu dari syaithan untuk kembali kepada kekafiran setelah ia mendengar tersebarnya berita di seluruh penjuru jazirah Arab bahwasanya sepulang haji wada, Rasulullah jatuh sakit. Aswad Al Ansi, sosok yang jauh dari sifat-sifat kriteria untuk menjadi seorang Nabi. Sebagaimana Musailamah, Aswad adalah sosok yang kuat fisiknya, besar ambisinya, keras jiwanya, dan satu hal yang membuat ia punya citra ialah ahli dalam hal ihwal perdukunan jahiliyah. Proses mencari dukungannya adakala tak menggunakan kekerasan, caranya dengan membagikan hadiah dan aksi sosial, hal ini dilakukan untuk menghadirkan sosok rahmah dalam dirinya. Karena dimanapun seseorang untuk mendapatkan simpati berlatarbelakang riya serta eksistensi mesti melakukan perjuangan dan pengorbanan. Aswad Al Ansi pun ketika tampil di khalayak publik selalu mengenakan topeng hitam agar terlihat sosok layaknya ia menjadi Nabi bagi penentangnya dan agar terkesan angker serta terasa kuat kehebatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dakwahnya menjalar di penjuru Yaman, bala bantuannya ialah kabilah Bani Madhaj. Proses citra diri yang dilakukan pun sangat jitu, bak sistematika bisnis marketing untuk menggait mangsa. Ia menempatkan mata-mata ditengah masyarakat untuk mendengar keluhan masyarakat, menguak rahasia-rahasia ditengah mereka, memancing cita-cita dan harapan yang tersimpan di benak mereka, pada saat yang sama pula Aswad mengusahakan agar orang-orang meminta tolong kepadanya. Ketika orang-orang datang, Aswad memberikan pelayanan publik yang memuaskan. Acapkali ia memenuhi segala kebutuhan masyarakat, menampilkan hal-hal ajaib dengan kekuatan sihirnya, membuka rahasia yang mengundang decak kagum, dan dahsyatnya membeberkan bahwa malaikat turun dari langit untuk memberikan wahyu dan membuka tabir-tabir ghaib bagi dirinya serta menambahkan bubuk rekayasa untuk meramaikan industri kenabian yang ia perankan. Kesesatan semakin menjalar, dan Shan’a menjadi bagian dari kendali kekuasaanya, tak luput pula Hadhramaut, Aden, Tha’if, dan Bahrain.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Namun Allah senantiasa menjaga agama ini dari tangan-tangan berlumuran noda. Makar Allah lebih besar dibandingkan makar mereka. Tatkala Aswad berhadap[an dengan pejuang-pejuang keimanan yang di dadanya terdapat sumbu kebenaran, maka seketika itu pula Aswad menyalakan suluh keberatan. Ditrangkap dan disiksa sebagaimana gaya Musailamah memperlakukan Hubaib. Namun dari sekian banyak penentang Aswad, darisanalah muncul jiwa-jiwa seperti Hubaib. Abu Muslim Al Khaulani, seorang tabi’in yang telah masuk Islam ketika Rasulullah masih hidup, namun belum sempat bertemu dengan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Muslim Al Khaulani murid dari sahabat terkemuka seperti Abu Ubaidah bin Jarrah ataupun Abu Dzar Al Ghifari. Abu Muslim tertangkap oleh Aswad Al Ansi karena ia memiliki simpati tersendiri di mata penduduk Yaman. Membinasakannya bagi Aswad merupakan terbukanya jalan tersendiri untuk memuluskan langkahnya menjadi Nabi lebih baik lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Gatal tangan Aswad terobati setelah sukses menangkap Abu Muslim. Di lapangan Shan’a telah berkobar nyala api untuk membakar Abu Muslim yang telah disiapkan oleh prajurit Al Ansi. Semua orang dipanggil untuk melihat bagaimana seorang ahli fikih dan ahli ibadah Yaman itu hendak ‘berserah diri’ atas kenabian Aswad. Sampailah saat yang telah dinanti, Aswad masuk ke lapangan dan menduduki singgasana megah miliknya, didepannya ada api yang menjilat-jilat kayu bakar lalu mengepulkan asap tebal. Aswad menatap Abu Muslim dengan penuh kecongkakan. Padahal sejatinya episode baru satu babak mempermalukan akan dimulai. Percakapan pun terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Aswad bertanya, <em>“Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?”</em> Abu Muslim pun menjawab, <em>“Benar, Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Dialah sayyidul mursalin dan khatamun nabiyyin.” </em>Berkerut dahi si pendusta yang mengaku Nabi, marah tergambar pada alisnya yang mengangkat tak seperti biasa. Untuk meyakinkan kembali, maka Aswad kembali bertanya, <em>“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?” </em>lantas Abu Muslim pun menjawab, <em>“Telingaku tersumbat, tak bisa mendengar kata-katamu.”</em> Al Aswad semakin naik pitam, <em>“Jika demikian, aku akan mencampakkanmu kedalam api itu!!”</em> Abu Muslim menjawab, <em>“Bila engkau membakar aku dengan api dari kayu, engkau akan dibalas dengan api yang bahan bakarnya manusia dan batu-batu, dibawah penjagaan malaikat-malaikat yang perkasa, yang tidak menentang Allah Ta’ala dan senantias mematuhi perintah-perintah yang diberikan kepada mereka.”</em> Al Aswad pun merajuk rayu, <em>“Aku tidak tergesa-gesa, aku beri engkau kesempatan untuk menggunakan otakmu. Apakah engkau tetap mengakui bahwa Muhammad adalah Rasulullah?”</em> Abu Muslim pun menjawab rayuannya, <em>“Benar aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Allah mengutusnya dengan membawa agama dan petunjuk yang benar. Allah menutup seluruh risalah-Nya dengan risalah yang dibawa oleh Muhammad.”</em> Aswad al Ansi meninggikan suaranya, <em>“Kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah??”</em> Abu Muslim menjawabnya kembali, <em>“Sudah aku katakan kepadamu, bahwa telingaku tersumbat sehingga tak bisa mendengar kata-katamu.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Adakalanya Perintang Kebenaran Datang Berulang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Penentang kebenaran selalu ada ditengah dan pinggir jalan. Dan penentangan itu kadang datangnya silih berulang. Bertambah memang, tapi karakter tiruan membekas pada pengawalan sejarah lampaunya. Salah satu cerita yang tak lekang adalah balada Nabi palsu, selalu ada ditiap masa, bahkan tak jarang muncul sekaligus dua atau tiga. Fenomena usang yang acapkali berulang, namun acapkali pula selalu ada pendukungnya dari barisan-barisan korban pembodohan. Sebagaimana kebenaran memiliki rujukan dan ada teladan, semestinya kesesatan juga memiliki rujukan dan teladan, agar para pengikut kebatilan tersebut memiliki indikator sejauh mana ia akan merasakan akibatnya bila usungan kesasatannya menemui jalan buntu beralamat kegagalan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dari sejarah itulah semestinya kita belajar, soal cerita teguhan kebenaran dalam menapaki jejak luhur nan mulia yang tak pernah sirna dari masa ke masa. Dalam konteks keseharian, sejatinya kita seringkali mendapat perintang-perintang melalui mulusnya jalan menapaki kehidupan yang diusahakan untuk benar dan baik. Rintangan ada yang berulang dan ada yang mengulangkan. Sedemikian itu pula kita sering menggubris perintang itu. Padahal acapkali datang berulang atau mengulang dengan model yang telah dimodifikasi nilai serta harganya. Waktu yang terbuang padahal sebelumnya kita telah bisa menyelesaikan potongan solusi dari perintang itu. Namun karena lupa, atau entah lalai bagaimana mendera. Lalu hilang sudah kesempatan mengefektifkan waktu meredam perintang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Generasi terbaik, telah mewariskan banyak rumusan untuk membentuk formula-formula kehidupan yang membahagia lubuk jiwa. Hanya dengan menutup telinga, kedua potret sejarah dalam waktu yang nyaris bersamaan tanpa alat komunikasi canggih pada masanya, telah bisa mengerdilkan perintang-perintang jalan kebahagiaan yang ada. Sejatinya sejarah memang tidak untuk dilupakan, demikian adanya agar bisa menjadi rumus paduan menjalani kehidupan. Menutup telinga adalah hal sederhana untuk diucapkan, namun berharga bila dilakukan untuk membungkam perintang. Apatah pernah diulang ataukah mengulang. Dan siapapun bias melakukannya bila telinga itu masih menempel sempurna di sisi muka manusia. Tutuplah telinga untuk menghalau kegagalan ataulah perintang jalan yang benar. Sebab adakalanya tutup telinga itu sangat berarti untuk meyakinkan diri. Bukan juga menutup telinga yang berarti tak menerima kritik atau saran, akan tetapi tutup ntelinga disini bermakna dan member harga pada mereka yang teguh diatas jalan kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Wallahu ‘alam bii shawwab.</em></p>
<p style="text-align: center;">Banyumas, 09/04/10</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2010/04/27/adakalanya-perintang-kebenaran-datang-berulang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbakti Kepadanya</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/11/10/berbakti-kepadanya.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/11/10/berbakti-kepadanya.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 08:02:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulek Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Mas'ud]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Hurairah]]></category>
		<category><![CDATA[birul walidain]]></category>
		<category><![CDATA[chemoreceptor trigger zone (CTZ)]]></category>
		<category><![CDATA[HCG (Human Corionic  Gonadotropin)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim…

 
Dari Abu Hurairah radhiyallohu’anhu dikisahkan, Rasululloh Shalallohu’Alaihi Wassalam pernah ditanya oleh seseorang yang ketika itu datang kepada beliau, “Ya Rosululloh..siapakah manusia yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari ku?”. Dan Rosululloh menjawab, “Ibumu…”. Orang tersebut kemudian bertanya lagi, “Siapa lagi ya Rosul?”. Rosul menjawab, “Ibumu..”. “Kemudian siapa lagi ya Rosul?”. “Ibumu….”. “Lalu siapa lagi..?”. “Ayahmu….dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Bismillahirrahmanirrahim…</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-19  aligncenter" title="15ROSERAIN" src="http://rujakkata.com/wp-content/uploads/2009/11/15ROSERAIN.gif" alt="15ROSERAIN" width="215" height="163" /></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Hurairah radhiyallohu’anhu dikisahkan, Rasululloh Shalallohu’Alaihi Wassalam pernah ditanya oleh seseorang yang ketika itu datang kepada beliau,<em> “Ya Rosululloh..siapakah manusia yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari ku?”</em>. Dan Rosululloh menjawab, <em>“Ibumu…”</em>. Orang tersebut kemudian bertanya lagi, <em>“Siapa lagi ya Rosul?”</em>. Rosul menjawab, <em>“Ibumu..”. “Kemudian siapa lagi ya Rosul?”. “Ibumu….”</em>. “<em>Lalu siapa lagi..?”. “Ayahmu….dan kemudian saudara-saudarmu…”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Ibu..Bunda..Mama..Emak..Ummi… Siapapun kita memanggilnya…mereka adalah pahlawan kita!! Dan sungguh.. Islam telah memuliakan seorang wanita tangguh bernama ibu..yang namanya telah disebutkan oleh Rosulullah Shallallohu’Alaihi Wassalam dalam hadist tersebut diatas…</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-18"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ibu…. Tak pernah terhitung, berapa kali nama itu (dan penyebutan lainnya) disebut, dalam hitungan detik, menit, jam bahkan hari diseluruh sudut bumi ini. Nama yang menetramkan setiap kali disebut manakala hati dan jiwa kita merasa galau.. Nama yang membuat rindu manakala kita jauh darinya…. Nama yang akan selalu ada dan tinggal di hati kita….</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Wajahnya yang teduh..suara yang lembut…sentuhan yang menghangatkan…nasehat yang menguatkan…dan senyuman yang menenangkan…. Sungguh… semua yang ada didalam diri beliau tidak akan pernah tergantikan oleh sosok manusia manapun atau bahkan tambatan hati kita sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh.. Islam adalah agama yang sempurna. Salah satu bentuk kesempurnannya adalah dengan adanya pengaturan bagaimana seorang anak bermuamalah dengan kedua orangtuanya. Berbakti, mengabdi, dan berbuat baik kepada mereka berdua adalah suatu kewajiban yang mungkin saat ini telah luntur dalam ingatan anak-anak atau bahkan telah dilupakan seiring kemajuan jaman??</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ingatlah firman ALLOH di dalam surat Luqman ayat 14 :</p>
<p style="text-align: justify;">“ <em>Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya</em>…..”</p>
<p style="text-align: justify;">ALLOH Azza Wa’Jalla telah memberitakan  secara jelas dan tegas bahwa setiap manusia pada umumnya, dan setiap anak pada khususnya wajib berbuat baik kepada setiap orangtua, kepada ibu-bapak mereka. Adapun kewajiban berbuat baik disini adalah meliputi semua perkara-perkara kebaikan baik ucapan maupun perbuatan secara maknai maupun nyata (Birul Walidain). Dan tentunya, kewajiban dalam perkara ini tidak bertentangan dengan perintah ALLOH.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun hadist yang menjelaskan bagaimana kedudukan dan keutamaan  birul walidain yakni, Dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallohu’anhu, Rasululloh Shallallohu’Alaihi Wassalam pernah ditanya, <em>“ya Rosul..Amalan apakah yang paling dicintai oleh ALLOH?”</em>. Dan  Beliau menjawab : <em>“ Shalat tepat pada waktunya..”.</em> Kemudian beliau ditanya lagi,<em>“ Lalu apalagi ya Rosul?” </em>Rosul menjawab : <em>“ Birul Walidain…”.</em> Dan beliaupun ditanya kembali, <em>“Kemudian apa ya Rosul?”. </em>Beliaupun menjawab: <em>“ Jihad Fi Shabilillah..”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan lihatlah wahai ikhwah fillah…bagaimana kedudukan dari birul walidain itu. Baginda Nabi menempatkan perkara itu setelah shalat dan sebelum jihad!!</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa? Karena shalat adalah hak ALLOH atas hambaNya dan itu merupakan kewajiban yang utama bagi seorang hamba. Adapun birul walidain itu memiliki keutamaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jihad fi sabilillah, karena itulah Rosul menempataknnya diatas jihad. Bila Rosul tidak mengetahui keutamaan yang jauh lebih tinggi dan juga istimewa tentang birul walidain, tentu beliau akan menyebutkan perkara jihad terlebih dahulu  dibandingkan perkara birul walidain (karena jihad bagi kaum muslimin memiliki keutamaan yang sangat besar). Sungguh…segala perkataan Rosulullah adalah benar!</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa kita sadari, ada perkara “mudah” dan mungkin sering kita lalaikan padahal perkara itu bisa mengatarkan kita semua pada suatu keutamaan dan juga kemulian. Keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jihad  yang mungkin bagi kita (kaum muslimah tentunya tidak bisa mendapatkannya)</p>
<p style="text-align: justify;">Ya..birul walidain..berbuat baik kepada kedua orang tua kita sepanjang hayat kita… Subhanallah…..nikmat yang senantiasa terlupakan…..</p>
<p style="text-align: justify;">Terkait dengan perkara berbuat baik kepada kedua orangtua kita, Rasululloh telah memberikan contoh kepada kita semua, bagaimana kita berbuat baik kepada ke-2 orangtua kita. Telah disebutkan pada hadist pertama di atas..bahwa yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari seorang anak adalah orangtuanya, dimana ibu memliliki kedudukan yang 3x jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ayah!</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mengapa Rosulullah menyebut nama IBU sampai 3 kali?? Sementara ayah dan saudara-saudara itu disebut 1 kali dan penyebutannya setelah ibu??</p>
<p style="text-align: justify;">Hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah  diatas telah memberikan gambaran pada kita bahwa seorang ibu yang mana memiliki keistimewaan luar biasa ini dimuliakan dengan semulia-mulianya manusia yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun mengapa Rosul menyebutkan sampai 3 kali, hal ini terkait oleh 3 perkara yang mendasari yakni,</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.   Karena Ibu yang      mengandung kita selama 9 bulan 10 hari..</strong></p>
<ol style="text-align: justify;"></ol>
<p style="text-align: justify;">Telah disebutkan di dalam Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 14 :</p>
<p style="text-align: justify;">“ Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada  kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu..”</p>
<p style="text-align: justify;">Telah terang didalam firman ALLOH diatas, bagaimana  ALLOH melukiskan kondisi seorang wanita ketika mengandung anak-anaknya. Diatas kelemahan dan kepayahan (walaupun kondisi seorang wanita satu dengan yang lain itu berbeda-beda).Seorang ibu tetap berjuang untuk merawat dan menjaga benih yang ada di dalam rahimnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika setetes mani telah berhasil membuahi sebuah ovum, maka atas ijinNya dalam waktu singkat terjadilah berbagai fase dari proses pembentukan manusia. Fase-fase itulah akan menimbulkan kondisi yang jauh berbeda bagi seoranng wanita. Dimulai dengan perubahan kadar hormonal tubuh, kondisi fisik dan kondisi psikologisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adanya perubahan kadar hormonal tubuh, dimana nantinya plasenta si janin akan mengeluarkan suatu hormon bernama HCG (Human Corionic  Gonadotropin) yang kadarnya akan meningkat diawal-awal kehamilan. Lalu apa akibatnya dari peningkatan kormon ini? Morning Sickness atau yang lebih familiar adalah mual dan muntah di pagi hari. Mengapa demikian? Karena diduga hormone hCG ini merangsang pusat mual dan muntah di chemoreceptor trigger zone (CTZ) di hipotalamus (bagian pada otak). Adanya perangsangan inilah yang membuat ibu-ibu yang tengah hamil muda cenderung merasakan mual yang amat sangat, tiap kali makan akan dimuntahkan kembali, hingga mereka merasakan kepayahan dan kelemahan. Bahkan mungkin, karena makanan tidak dapat masuk sama sekali melalui mulut, sang ibu dengan ikhlas merelakan sebuah jarum infus menembus venanya dan sungguh hal ini merupakan sebagian bentuk cintanya kepada calon anaknya… Subhanallah….</p>
<p style="text-align: justify;">Belumlah cukup rasa kelemahan fisik yang dirasakan oleh si ibu akibat perubahan kadar hormonal itu, ditambah lagi dengan kelemahan psikologisnya. Kondisi psikologis seorang wanita yang tengah hamil, sedikit banyak akan berubah berubah. Mungkin si ibu menjadi lebih sensitive, lebih sabar, lebih manja, lebih gampang marah, lebih gampang meneteskan air mata, atau bahkan lebih ‘aneh’ karena ngidam?? Wallohu’alam….</p>
<p style="text-align: justify;">Dan semakin bertambah usia kehamilannya, semakin berat pula “beban” yang harus ditanggungnya. Membawa buah cinta kemanapun beliau pergi. menjaganya dengan penuh kehati-hatian, merelakan malam-malamnya dengan “kenyamanan ala kadarnya” karena sulitnya mengatur posisi tidur. Tengkurap tidak bisa, miring ke kanan atau kekiri akan terasa capek, terlentang tidak nyaman. Belum lagi ketika sedang sedikit terlelap, tiba-tiba sang jagoan kecil menyapanya dengan sentuhan-sentuhan yang mengejutkan, berputar-putar mengelilingi “rumahnya” atau dengan tendangan-tendangan yang cukup membuat sang ibu menahan sakit.Tapi, apakah mereka protes? Tidak!!</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka akan tersenyum dan menyentuh dengan penuh cinta sang buah hati dan mengajaknya berkomunikasi…dalam kelelahan…mereka masih tersenyum bahagia… Subhanallah….</p>
<p style="text-align: justify;">Masa-masa sulit itu belumlah berakhir wahai saudaraku… Ketika harinya telah tiba… disaat sang bayi meminta untuk dilahirkan kedunia… Dengan sakit yang teramat sangat, beliau memulai perjuangan yang panjang.. Perjuangan dengan taruhan nyawa!!! Dengan segala risiko kelahiran yang telah siap “menunggu” dibelakangnya…prediksi kelahiran yang semula normal..bisa tiba-tiba saja berubah dalam sepersekian second!! Posisi bayi yang sungsang..tekanan darah yang tiba-tba tinggi (eklamsia).. tidak ada tenaga..perdarahan…solusio plasenta ..plasenta akreta ..ketuban pecah dini..semua itu bisa mengancam nyawa si ibu!! Kapanpun bila ALLOH berkendak…</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.   Karena Ibu yang merawat….</strong></p>
<ol style="text-align: justify;"></ol>
<p style="text-align: justify;">Belumlah selesai perjuangan sang ibu…post partum (pasca melahirkan), Ibu harus langsung menyusui, memberikan ASI pertamanya kepada sang buah hati. Apalagi dengan adanya program IMD (inisiasi menyusu dini) ya karena ASI pertama mengandung banyak collostrum dan zat gizi penting lainnya yang sangat berguna dan menjadi “modal” bagi sang buah hati dalam kehidupannya kelak. Bayangkanlah wahai saudaraku..dalam kelelahan pasca melahirkan dengan sisa-sisa tenaga yang ada…beliau masih mempedulikan buah hatinya………Subhanallah…</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak hanya menyusui,ibu juga dengan penuh senyum melayani segala kebutuhan sang anak. Dia harus merelakan malam-malamnya untuk terjaga dan menggendong anaknya ketika menangis, menina-bobokan hingga sang anak terlelap kembali, menyusui ketika lapar, mengganti popoknya ketika sang anak kencing dan BAB, memandikannya, juga melakukan hal-hal “kecil” yang menakjubkan bagi si kecil…menyentuhnya dengan penuh cinta!</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lagi ketika sang buah hati tiba-tiba jatuh dalam keadaan sakit. Segala rasa gundah, cemas, khawatir, sedih..bercampur jadi satu.. mau makan ndak enak..tidur apalagi?! Anak..anak..dan anak…..!! Itulah yang terpenting baginya….</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.   Seorang Ibu adalah      pengasuh  bagi anak-anaknya..</strong></p>
<ol style="text-align: justify;"></ol>
<p style="text-align: justify;">“Rumah adalah madrasah pertama bagi seorang anak..” begitulah bunyi ungkapan kata hikmah serta bijak yang menggambarkan betapa semua dan semula bermuara pada rumah. Bangsa besar dimulai dari bangunan rumah yang besar. Bangunan tersebut bukanlah bangunan rumah dengan pencakar langit atau pengeruk luas bumi. Melainkan fondasi keimanan, saling sinergi yang menyatukan nilai-nilai harmoni.</p>
<p style="text-align: justify;">Madrasah dengan “guru” yang super jenius yang tidak akan pernah dijumpai di madrasah atau sekolah-sekolah favorit lainnya.. Ibu..dialah guru itu. Beliaulah yang pertama mengajari sang buah hati tentang segala sesuatu.  Pelajaran pertama yang hendaknya sang ibu berikan adalah pengajaran mengenai dienNya. Disinilah sang ibu hendaknya pertama mulai mengenalkan anaknya pada ALLOH, Rabb Sang Pencipta. Mengajarkan lafadz ALLOH sambil mengisyaratkan menunjuk ke atas, membiasakan membaca basmallah ketika hendak melakukan sesuatu, juga mengajarkan hal-hal kecil yang nantinya akan diingat si anak sampai besar kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan telah terang bagi kita, mengapa Rosululloh menyebutkan “ibu” pertama kali yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari seorang anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibu yang pastinya, semua anak mencintainya, menyayanginya, membanggakannya….</p>
<p style="text-align: justify;">Dan detik ini..tenggoklah wanita separuh baya di sudut rumah cinta kita…</p>
<p style="text-align: justify;">Yang sedang asyik menyapu, mengepel, menyuci, memasak, duduk tertidur karena kelelahan… beliau ..yang kita panggil “IBU”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sudahkah kau menyapanya hari ini? Sudahkah kau melayani keperluannya hari ini?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">*catatan juli &#8216;08</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/11/10/berbakti-kepadanya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
