<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak Kata</title>
	<atom:link href="http://rujakkata.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujakkata.com</link>
	<description>Kala Kata Berjumpa Makna</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Jun 2010 10:36:50 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Tergesa-gesa Lalu Salah Cara Serta Hasilnya</title>
		<link>http://rujakkata.com/2010/06/18/tergesa-gesa-lalu-salah-cara-serta-hasilnya.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2010/06/18/tergesa-gesa-lalu-salah-cara-serta-hasilnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 10:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serut Pedas]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Ghufron]]></category>
		<category><![CDATA[Amrozi bin Nur Hasyim]]></category>
		<category><![CDATA[Bom Bali I]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[Kyai Senari]]></category>
		<category><![CDATA[Mukhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[
Saya cukup bergeming dan mengernyitkan dahi tatkala membaca buku yang ditulis oleh Amrozi bin Nur Hasyim. Eksekutor yang memiliki kebanggaan ketika dirinya melakukan operasi Bom Bali Jilid 1. Sebuah operasi yang mengantarkan dirinya menjadi pesakitan dengan dakwaan eksekusi mati. Sebelum pelaksanaan, beliau dan dua orang lainnya menyusun sebuah buku yang menjadi sebuah trilogi tersendiri. Salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://3.bp.blogspot.com/_7LrF6iz7XxQ/SWSV6SV7XFI/AAAAAAAAACw/LjgeIZacNEU/s400/failed.gif" alt="" width="249" height="198" /></p>
<p style="text-align: justify;">Saya cukup bergeming dan mengernyitkan dahi tatkala membaca buku yang ditulis oleh Amrozi bin Nur Hasyim. Eksekutor yang memiliki kebanggaan ketika dirinya melakukan operasi Bom Bali Jilid 1. Sebuah operasi yang mengantarkan dirinya menjadi pesakitan dengan dakwaan eksekusi mati. Sebelum pelaksanaan, beliau dan dua orang lainnya menyusun sebuah buku yang menjadi sebuah trilogi tersendiri. Salah satu buku yang ditulis dari ketiganya ialah buku yang ditulis oleh Amrozi berjudul Senyum Terakhir Sang Mujahid.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-75"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ada sebuah hal yang menggelitik saya ketika membaca tulisan tersebut. Bagi kita yang paham akan agama sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam. Tentu akan memahami bagaimana kaidah dan tata cara amar ma&#8217;ruf yang benar. Bagaimana melakukan tashfiyah dan tarbiyah serta memahami tata cara dan konsekuensinya dalam mendakwahkan ajaran Islam. Seseorang pun mesti mengetahui dan memahami siapa yang dihadapinya dalam melakukan amar ma&#8217;ruf nahi munkar. Tak dinafikan bahwa dakwah memang penting dan memiliki keagungan yang sangat tinggi dalam Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Amrozi di usia mudanya mengisahkan dalam buku tersebut secara panjang lebar. Namun dari sekian ulasan yang panjang lebar tersebut saya mendapati hal yang menarik soal tata cara ia melaksanakan amar maruf di masa mudanya. Ia belajar agama Islam dari kakaknya yang juga terpidana mati hukuman mati yakni Ali Ghufron alias Mukhlas. Ia memahami mana syirik, khurafat, bid&#8217;ah, dan takhayul yang menjadi penyakit serta parasit bagi akidah lebih banyak juga ditimbanya di bawah asuhan Ali Ghufron.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam bukunya, Amrozi menceritakan di hal 93 &#8211; 99 dibawah sub judul &#8216;Kembali ke Tenggulun lagi’, bahwa setelah ia memahami dan mengetahui hakikat penyimpangan akidah dari ilmu agama yang ia pelajari selama ini. Menggugah dirinya untuk menghancurkan sebuah bangunan keramat di daerahnya. Bangunan keramat tersebut berupa cungkup yang diyakini terdapat dibawahnya makam orang shalih bernama Kyai Senari. Sebuah bangunan dimana banyak penduduk memberikan sesaji dan meminta banyak hal atas kubur tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita setelah belajar agama, Amrozi muda berharap bisa menghancurkan bangunan tersebut. Dua kali kesempatan ia sempat gagal mengeksekusi, kepulangan dari Malaysia mengantarkan ia menjadi seorang montir sepeda motor hingga akhirnya disuatu malam yang telah direncanakan bersama temannya, Amrozi melakukan aksi yang telah dipendamnya selama ini. Bersama dengan temannya, Amrozi berupaya untuk menghancurkan cungkup keramat tersebut. Berbekal beberapa galon minyak tanah dan bensin, maka aksi pun dimulai pukul 11.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia dan temannya tersebut pun sukses untuk membakar cungkup tersebut. Ya! Sebuah cungkup kebanggan warga setempat sukses dibakar oleh Amrozi. Kabar yang menggemparkan warga sekitar bahkan masuk ke surat kabar lokal. Namun lihatlah pembaca, apa yang dikisahkan Amrozi tersebut justru tidak mendatangkan kemaslahatan. Nahi Munkar yang dilakukannya justru mengantarkan warga mengumpulkan ung kembali dan berencana untuk membangun dengan bentuk yang permanen!</p>
<p style="text-align: justify;">Perhatikanlah wahai pembaca sekalian, Amrozi menghancurkan bangunan keramat sederhana tersebut. Terbukti sukses! Yaa sebuah kesuksesan yang mengantarkan kemadharatan berikutnya. Karena penduduk sekitar berencana membangun kembali dengan bangunan permanen yang sebelumnya hanya terbuat dari bambu.</p>
<p style="text-align: justify;">Amrozi berkata dalam bukunya, <em>&#8220;Ternyata aksi pembakaran bangunan cungkup yang telah saya lakukan belum berhasil menyadarkan sebagian warga untuk menghentikan tindakan mereka dalam mengeramatkan cungkup. Terbukti bahwa mereka hendak membangunnya kembali bahkan dengan cara permanen pula.&#8221;</em> (Amrozi : 2009, hal 96).</p>
<p style="text-align: justify;">Terbukti hingga akhirnya pada tanggal 13 Mei 1983 tepatnya Kamis dini hari. Amrozi beserta seorang temannya berupaya untuk melakukan sebuah penghancuran kembali atas makam tersebut. Kali ini aksinya ialah membongkar tanah makam tersebut. Ia dan temannya berbekal linggis dan berhasil meratakan tanah pada makam tersebut. Namun ternyata ia tak menemukan bekas mayat satupun yang disebut-sebut sebagai Kyai Senari.</p>
<p style="text-align: justify;">Amrozi sukses membongkar kebohongan makam tersebut tapi hanya untuk dirinya sendiri, seandainya ia menjadikan itu sebagai bukti salahnya pengkeramatan masyarakat atas makam tersebut. Bisa jadi hal tersebut lebih masuk logika masyarakat dan menjadikan masyarakat terbuka nuraninya sebab selama ini mereka melakukan sebuah kesalahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun Amrozi muda yang penuh semangat nahi munkar tersebut justru membawa batu nisan pada makam tersebut dan membuangnya ke rawa. Keesokan harinya masyarakat pun bertanya-tanya serta menjadi perbincangan kembali setelah aksi pertamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah, tak ada manfaat yang didatangkan dari apa yang telah dilakukan oleh Amrozi di aksinya tersebut, yang ada justru menjadikan Amrozi masuk bui (polsek Paciran) selama beberapa hari lamanya akibat ulahnya. Lalu apakah yang dilakukan Amrozi sukses? Ternyata sama sekali tidak, justru ia mendapatkan sebuah kejengkelan kembali sebagaimana perkataannya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Ternyata peristiwa pembongkaran yang saya lakukan terhadap kuburan ini tidak menyurutkan keinginan sebagian penduduk desa untuk melanjutkan renovasi. Apalagi bahan-bahan material sudah terlanjur tersedia. Di tengah-tengah proyek renovasi ini mereka berusaha untuk mencari pelaku pembongkaran kuburan yang mereka keramatkan&#8230;&#8221; </em>(Amrozi : 2009, hal 99).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Salah Cara Maka Salah Hasilnya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah ketergesa-gesaan yang mendatangkan sebuah kehancuran. Tergesa-gesa ketika semangat sudah menyala dalam dada. Hanya dengan berbekal pemahaman seadanya tanpa guru yang benar-benar mumpuni keilmuannya menyebabkan seseorang tergelincir pada sebuah kesalahan dalam memahami dakwah yang sebenarnya. Amar Maruf dan Nahi Munkar merupakan perkara mulia, namun ketika sebuah perbuatan nahi munkar dilaksanakan dengan jalan yang salah maka hilanglah kemuliaan berganti menjadi sebuah kenistaan. Maksud hati adalah kebaikan, namun cara yang dilakukan menuai kesalahan. Bukan hanya sekedar keburukan yang terjadi namun masuk ke dalam lembah kehancuran yang menanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Justru bisa jadi ketergesa-gesaan dengan maksud untuk sebuah pengabdian kepada Allah Ta’ala justru menjadikan seseorang jatuh kepada sifat yang merupakan tipu daya syaithan. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam<em>, “Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.”</em> (HR. Baihaqi dan Abu Ya’la dan dihasankan oleh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shoghir).</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh kisah Amrozi diatas sebaiknya menjadikan seseorang agar tidak hanya mengandalkan semangat. Sebuah hikmah dalam berdakwah disertai dengan tata caranya kepada masyarakat akan lebih efektif dibandingkan tindakan gegabah. Sebuah bangunan keramat dihancurkan maka muncullah ide untuk membuat bangunan tersebut menjadi permanen. Bukan kemenangan Islam melainkan kemenangan kultus yang berada diatas kemusyrikan menjadi merajalela. Padahal seandainya seseorang mau belajar lebih baik, niscaya ia akan mendapatkan kebaikan yang banyak. Ada sebuah perkataan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat berharga bagi kita agar tidak berbuat tergesa-gesa dalam bertindak hanya bermodal pada pengetahuan yang didapatkan secara spontan dan konsisten.<em>“Wahai ‘Aisyah, andaikata kaummu (penduduk Makkah) bukan orang yang baru (meninggalkan) kekufuran, niscaya saya merobohkan Ka’bah kemudian saya akan menjadikannya dua pintu: pintu tempat manusia masuk dan pintu mereka keluar</em> .<em>”</em> (Diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah apa yang dilakukan oleh Rasulullah disaat kaumnya baru masuk Islam. Beliau seharusnya lebih berhak untuk melakukan apa yang seharusnya beliau lakukan ketika itu, namun beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan penghancuran atau perubahan terhadap Ka’bah tersebut dikarenakan ketika itu mereka muallaf yang masih memberikan penghormatan atas Ka’bah. Mereka ketika itu masih mengagunggkan Ka’bah disebabkan ratusan berhala pernah berada di sekitarnya. Namun Nabi tidak menghancurkan. Nabi tidak melakukan perubahan terhadap Ka’bah. Akan tetapi Nabi merubah kaumnya terkebih dahulu dengan tashfiyah dan tarbiyah secara sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Amrozi kita belajar, bukan karena aksi eksekusi matinya yang mengagumkan istri serta anaknya. Namun dari betapa ketergesa-gesaan dapat menghancurkan. Ketergesa-gesaan dapat mengundang kemudharatan. Masyarakat kita hari ini adalah masyarakat yang butuh dengan cahaya ilmu. Masyarakat yang membutuhkan sebuah pembersihan akidah. Dengan cara yang tepat, niscaya masyarakat akan menyambut dengan baik apa yang disampaikan. Bahkan dapat meresap kedalam dada dan terkenang sepanjang masa, sebagaimana harumnya nama Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dalam menentang sebuah kemusyrikan di masanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terakhir saya bawakan ucapan Amrozi yang tak lagi mengernyitkan dahi melainkan membuat saya menyunggingkan senyum diatasnya, <em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Yach…beginilah nasibnya orang yang melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di negeri ini.”</em> (Amrozi : 2009, hal 99)</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Wallahu ‘Alam bii Shawwab</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2010/06/18/tergesa-gesa-lalu-salah-cara-serta-hasilnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Adakalanya Perintang Kebenaran Datang Berulang</title>
		<link>http://rujakkata.com/2010/04/27/adakalanya-perintang-kebenaran-datang-berulang.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2010/04/27/adakalanya-perintang-kebenaran-datang-berulang.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 09:04:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tumbuk Asam]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Dzar Al Ghifari]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Hurairah]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Muslim Al Khaulani]]></category>
		<category><![CDATA[Aswad Al Ansi]]></category>
		<category><![CDATA[bu Ubaidah bin Jarrah]]></category>
		<category><![CDATA[Hubaib bin Zaid bin Ashim]]></category>
		<category><![CDATA[Musailamah Al Kadzdzab]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Imarah Nusaibah bintu Ka’ab bin Amru bin Auf bin Mabdzul Al-Anshariyyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[
Sungguh Islam merupakan agama yang indah, agama yang berjalan diatas bimbingan kebenaran. Agama yang terjaga hingga akhir masa, agama yang dengannya Allah Ta’ala menurunkan Nabi akhir zaman dan takkan ada lagi nabi sesudah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Namun selalu ada penentangan diatas jalan kebenaran. Tak selamanya kebenaran berjalan mulus tanpa hambatan. Akan tetapi selalu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://timecapsule.phasedrift.com/photos_generated/barbed_wire_fence-575x450.jpg" alt="" width="204" height="286" /></p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh Islam merupakan agama yang indah, agama yang berjalan diatas bimbingan kebenaran. Agama yang terjaga hingga akhir masa, agama yang dengannya Allah Ta’ala menurunkan Nabi akhir zaman dan takkan ada lagi nabi sesudah beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Namun selalu ada penentangan diatas jalan kebenaran. Tak selamanya kebenaran berjalan mulus tanpa hambatan. Akan tetapi selalu ada rintangan yang menghalanginya, namun justru rintangan itulah yang mengokohkan bahwa begitulah kebenaran. Tak tergoyahkan dengan guncangan dahsyat sebab kokohnya berada dibawah perlindungan Ar Rahman dan selalu ada insan-insan pilihan yang meneguhkan keimanan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-68"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Peperangan itu terjadi di masa khalifah Abu Bakar radhiyallohu ‘anhu. Sebuah peperangan yang berawal dari keputusan karena dillandasi adanya beberapa kabilah yang murtad setelah Rasulullah wafat. Usungan peperangan itu salah satunya adalah memberangus makar Musailamah Al Kadzdzab yang pernah dipermalukan oleh Abu Hurairah dengan sebutan seseorang yang mendapatkan wahyu dari syaithan. Di dalam perang ini ikutlah serta Hubaib bin Zaid bin Ashim, putra pemberani dari ibu seorang pemberani yang juga shahabiyah yakni Ummu Imarah Nusaibah bintu Ka’ab bin Amru bin Auf bin Mabdzul Al-Anshariyyah dari Bani Mazin An-Najjar. Wanita tangguh yang berkali-kali turun ke medan jihad. Hubaib pada saat memerangi pasukan Musailamah harus merelakan dirinya tertawan oleh pasukan Musailamah beserta gembong makarnya. Maka ketika Hubaib tertawan, terjadilah dramaturgi penyiksaan demi mendapatkan pengakuan bahwasanya Musailamah adalah sang Nabi pengganti. Terjadi pulalah dialog antara Hubaib dengan Musailamah. Musailamah bertanya kepada Hubaib, “ Engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?” Hubaib pun menjawab, “Ya”. Lalu Musailamah kembali bertanya, “Engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?” Hubaib pun menjawabnya dengan jawaban yang indah penuh makna, “Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan itu.” Sehingga akhirnya Musailamah pun mencapai titik nadir, emosinya tak tertahan, wahyu dari syaithan pun kembali datang lantas ia memotong-motong bagian tubuh Hubaib hingga akhirnya Hubaib pun mendapatkan syahidnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Musailamah dipermalukan oleh Hubaib dengan perkataan <em>“Aku tidak mendengar apa yang kamu katakan itu.”</em> Ya, ganjaran yang pas bagi penyeru kebatilan kala menggoyang-goyang keimanan pejuang kebenaran. Hubaib memerangi Musailamah untuk mendapatkan syahid yang diawali dengan tertawan dirinya, justru ditawarkan untuk melakukan pengakuan dengan pemaksaan. Episode memalukan bagi seorang Nabi palsu. Penghinaan sekaligus pelecehan terhadap simbol-simbol keangkuhan yang dilakukan hanya dengan beberapa kalimat lontaran.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sejarah berjalan bersamaan, Nabi palsu pun kembali datang. Masanya pun tak jauh dari masa dimana Musailamah melakukan kedunguan yang serupa. Gaya yang dikampanyekan sama, dan momentum yang dipakai lebih dahulu dilakukan duplikasinya. Aswad Al Ansi mendapatkan wahyu dari syaithan untuk kembali kepada kekafiran setelah ia mendengar tersebarnya berita di seluruh penjuru jazirah Arab bahwasanya sepulang haji wada, Rasulullah jatuh sakit. Aswad Al Ansi, sosok yang jauh dari sifat-sifat kriteria untuk menjadi seorang Nabi. Sebagaimana Musailamah, Aswad adalah sosok yang kuat fisiknya, besar ambisinya, keras jiwanya, dan satu hal yang membuat ia punya citra ialah ahli dalam hal ihwal perdukunan jahiliyah. Proses mencari dukungannya adakala tak menggunakan kekerasan, caranya dengan membagikan hadiah dan aksi sosial, hal ini dilakukan untuk menghadirkan sosok rahmah dalam dirinya. Karena dimanapun seseorang untuk mendapatkan simpati berlatarbelakang riya serta eksistensi mesti melakukan perjuangan dan pengorbanan. Aswad Al Ansi pun ketika tampil di khalayak publik selalu mengenakan topeng hitam agar terlihat sosok layaknya ia menjadi Nabi bagi penentangnya dan agar terkesan angker serta terasa kuat kehebatannya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dakwahnya menjalar di penjuru Yaman, bala bantuannya ialah kabilah Bani Madhaj. Proses citra diri yang dilakukan pun sangat jitu, bak sistematika bisnis marketing untuk menggait mangsa. Ia menempatkan mata-mata ditengah masyarakat untuk mendengar keluhan masyarakat, menguak rahasia-rahasia ditengah mereka, memancing cita-cita dan harapan yang tersimpan di benak mereka, pada saat yang sama pula Aswad mengusahakan agar orang-orang meminta tolong kepadanya. Ketika orang-orang datang, Aswad memberikan pelayanan publik yang memuaskan. Acapkali ia memenuhi segala kebutuhan masyarakat, menampilkan hal-hal ajaib dengan kekuatan sihirnya, membuka rahasia yang mengundang decak kagum, dan dahsyatnya membeberkan bahwa malaikat turun dari langit untuk memberikan wahyu dan membuka tabir-tabir ghaib bagi dirinya serta menambahkan bubuk rekayasa untuk meramaikan industri kenabian yang ia perankan. Kesesatan semakin menjalar, dan Shan’a menjadi bagian dari kendali kekuasaanya, tak luput pula Hadhramaut, Aden, Tha’if, dan Bahrain.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Namun Allah senantiasa menjaga agama ini dari tangan-tangan berlumuran noda. Makar Allah lebih besar dibandingkan makar mereka. Tatkala Aswad berhadap[an dengan pejuang-pejuang keimanan yang di dadanya terdapat sumbu kebenaran, maka seketika itu pula Aswad menyalakan suluh keberatan. Ditrangkap dan disiksa sebagaimana gaya Musailamah memperlakukan Hubaib. Namun dari sekian banyak penentang Aswad, darisanalah muncul jiwa-jiwa seperti Hubaib. Abu Muslim Al Khaulani, seorang tabi’in yang telah masuk Islam ketika Rasulullah masih hidup, namun belum sempat bertemu dengan beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam. Abu Muslim Al Khaulani murid dari sahabat terkemuka seperti Abu Ubaidah bin Jarrah ataupun Abu Dzar Al Ghifari. Abu Muslim tertangkap oleh Aswad Al Ansi karena ia memiliki simpati tersendiri di mata penduduk Yaman. Membinasakannya bagi Aswad merupakan terbukanya jalan tersendiri untuk memuluskan langkahnya menjadi Nabi lebih baik lagi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Gatal tangan Aswad terobati setelah sukses menangkap Abu Muslim. Di lapangan Shan’a telah berkobar nyala api untuk membakar Abu Muslim yang telah disiapkan oleh prajurit Al Ansi. Semua orang dipanggil untuk melihat bagaimana seorang ahli fikih dan ahli ibadah Yaman itu hendak ‘berserah diri’ atas kenabian Aswad. Sampailah saat yang telah dinanti, Aswad masuk ke lapangan dan menduduki singgasana megah miliknya, didepannya ada api yang menjilat-jilat kayu bakar lalu mengepulkan asap tebal. Aswad menatap Abu Muslim dengan penuh kecongkakan. Padahal sejatinya episode baru satu babak mempermalukan akan dimulai. Percakapan pun terjadi.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Aswad bertanya, <em>“Apakah engkau bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah?”</em> Abu Muslim pun menjawab, <em>“Benar, Aku bersaksi bahwa dia adalah hamba Allah dan utusan-Nya. Dialah sayyidul mursalin dan khatamun nabiyyin.” </em>Berkerut dahi si pendusta yang mengaku Nabi, marah tergambar pada alisnya yang mengangkat tak seperti biasa. Untuk meyakinkan kembali, maka Aswad kembali bertanya, <em>“Apakah engkau bersaksi bahwa aku adalah Rasulullah?” </em>lantas Abu Muslim pun menjawab, <em>“Telingaku tersumbat, tak bisa mendengar kata-katamu.”</em> Al Aswad semakin naik pitam, <em>“Jika demikian, aku akan mencampakkanmu kedalam api itu!!”</em> Abu Muslim menjawab, <em>“Bila engkau membakar aku dengan api dari kayu, engkau akan dibalas dengan api yang bahan bakarnya manusia dan batu-batu, dibawah penjagaan malaikat-malaikat yang perkasa, yang tidak menentang Allah Ta’ala dan senantias mematuhi perintah-perintah yang diberikan kepada mereka.”</em> Al Aswad pun merajuk rayu, <em>“Aku tidak tergesa-gesa, aku beri engkau kesempatan untuk menggunakan otakmu. Apakah engkau tetap mengakui bahwa Muhammad adalah Rasulullah?”</em> Abu Muslim pun menjawab rayuannya, <em>“Benar aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba Allah dan Rasul-Nya. Allah mengutusnya dengan membawa agama dan petunjuk yang benar. Allah menutup seluruh risalah-Nya dengan risalah yang dibawa oleh Muhammad.”</em> Aswad al Ansi meninggikan suaranya, <em>“Kamu bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah??”</em> Abu Muslim menjawabnya kembali, <em>“Sudah aku katakan kepadamu, bahwa telingaku tersumbat sehingga tak bisa mendengar kata-katamu.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Adakalanya Perintang Kebenaran Datang Berulang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Penentang kebenaran selalu ada ditengah dan pinggir jalan. Dan penentangan itu kadang datangnya silih berulang. Bertambah memang, tapi karakter tiruan membekas pada pengawalan sejarah lampaunya. Salah satu cerita yang tak lekang adalah balada Nabi palsu, selalu ada ditiap masa, bahkan tak jarang muncul sekaligus dua atau tiga. Fenomena usang yang acapkali berulang, namun acapkali pula selalu ada pendukungnya dari barisan-barisan korban pembodohan. Sebagaimana kebenaran memiliki rujukan dan ada teladan, semestinya kesesatan juga memiliki rujukan dan teladan, agar para pengikut kebatilan tersebut memiliki indikator sejauh mana ia akan merasakan akibatnya bila usungan kesasatannya menemui jalan buntu beralamat kegagalan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dari sejarah itulah semestinya kita belajar, soal cerita teguhan kebenaran dalam menapaki jejak luhur nan mulia yang tak pernah sirna dari masa ke masa. Dalam konteks keseharian, sejatinya kita seringkali mendapat perintang-perintang melalui mulusnya jalan menapaki kehidupan yang diusahakan untuk benar dan baik. Rintangan ada yang berulang dan ada yang mengulangkan. Sedemikian itu pula kita sering menggubris perintang itu. Padahal acapkali datang berulang atau mengulang dengan model yang telah dimodifikasi nilai serta harganya. Waktu yang terbuang padahal sebelumnya kita telah bisa menyelesaikan potongan solusi dari perintang itu. Namun karena lupa, atau entah lalai bagaimana mendera. Lalu hilang sudah kesempatan mengefektifkan waktu meredam perintang itu.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Generasi terbaik, telah mewariskan banyak rumusan untuk membentuk formula-formula kehidupan yang membahagia lubuk jiwa. Hanya dengan menutup telinga, kedua potret sejarah dalam waktu yang nyaris bersamaan tanpa alat komunikasi canggih pada masanya, telah bisa mengerdilkan perintang-perintang jalan kebahagiaan yang ada. Sejatinya sejarah memang tidak untuk dilupakan, demikian adanya agar bisa menjadi rumus paduan menjalani kehidupan. Menutup telinga adalah hal sederhana untuk diucapkan, namun berharga bila dilakukan untuk membungkam perintang. Apatah pernah diulang ataukah mengulang. Dan siapapun bias melakukannya bila telinga itu masih menempel sempurna di sisi muka manusia. Tutuplah telinga untuk menghalau kegagalan ataulah perintang jalan yang benar. Sebab adakalanya tutup telinga itu sangat berarti untuk meyakinkan diri. Bukan juga menutup telinga yang berarti tak menerima kritik atau saran, akan tetapi tutup ntelinga disini bermakna dan member harga pada mereka yang teguh diatas jalan kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Wallahu ‘alam bii shawwab.</em></p>
<p style="text-align: center;">Banyumas, 09/04/10</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2010/04/27/adakalanya-perintang-kebenaran-datang-berulang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>16</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kesibukan Mematikan Ketersegeraan</title>
		<link>http://rujakkata.com/2010/03/03/kesibukan-mematikan-ketersegeraan.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2010/03/03/kesibukan-mematikan-ketersegeraan.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 03:56:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tumbuk Asam]]></category>
		<category><![CDATA[Adi bin Hatim]]></category>
		<category><![CDATA[Hudzaifah Ibn Yaman]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ashim]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah.]]></category>
		<category><![CDATA[Said bin Musayyib]]></category>
		<category><![CDATA[Umar bin Khattab]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[
Dunia memang selalu menggoda, isinya penuh dengan hamparan perwujudan cara bagaimana memuaskan ambisi di dada. Dunia selalu penuh dengan warna yang menghadirkan pencitraan-pencitraan berbeda. Manusia sebagai anggota didalamnya pun memiliki peran besar dalam kehidupan di dunia. Hal ini terkait dengan untuk apa dirinya diciptakan, dan apa yang semestinya dilakukan di dunia. Seorang yang di dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" title="Kesibukan Mematikan Ketersegeraan" src="http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:tueY4CJO3V3QFM" alt="" width="246" height="184" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dunia memang selalu menggoda, isinya penuh dengan hamparan perwujudan cara bagaimana memuaskan ambisi di dada. Dunia selalu penuh dengan warna yang menghadirkan pencitraan-pencitraan berbeda. Manusia sebagai anggota didalamnya pun memiliki peran besar dalam kehidupan di dunia. Hal ini terkait dengan untuk apa dirinya diciptakan, dan apa yang semestinya dilakukan di dunia. Seorang yang di dalam hatinya memiliki keimanan pasti tahu apa yang semestinya ia lakukan di dunia, seseorang yang di dalam dirinya terdapat kejahilan pun tahu bagaimana cara memuaskan kejahilannya lebih dalam lagi di dunia. Tak sampai disana, seseorang yang menggunakan klaim bahwa dirinya beriman pun tahu bagaimana cara menggunakan klaim tersebut untuk menempatkan dirinya pada posisi aman yang diinginkan.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-57"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Seorang sahabat mulia, Hudzhaifah Ibnul Yaman. Sahabat Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam yang menjadi kepercayaan Nabi, pengemban amanah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ketika menjadi mata-mata pertama dalam Islam di barisan para musyrikin. Seorang sahabat yang acapkali bertanya soal keburukan dikala ketika itu sahabat lainnya menanyakan soal-soal kebaikan kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Hudzhaifah bin Yaman radhiyallohu ‘anhu berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Kelak akan datang satu masa dimana Islam menjadi usang seperti usangnya kain. Manusia membaca al-Qur’an, akan tetapi dia tidak merasakan manisnya. Mereka tidur di malam hari dan di pagi hari. Dia telah meninggalkan al-Qur’an seakan-akan belum pernah ada satu kitab pun yang diturunkan. Dia tidak tahu lagi waktu shalat, waktu shaum, waktu haji dan dia pun tidak mengetahui satu kewajiban pun yang diberikan kepadanya.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Perkataan yang sama pun pernah terlontar dari lisan Al Faruq Umar bin Khattab, yakni tali Islam yang pertamakali terlepas adalah kepemimpinan dan hingga akhirnya seorang tidak tahu kewajiban lain dalam Islam melainkan hanya shalat saja.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ya, masa yang dikatakan dua sahabat mulia tadi sudah tiba kini. Betapa banyak kaum muslimin yang mudah melalaikan bukan lagi perkara-perkara yang sifatnya anjuran ataupun sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan lebih dari itu, yakni banyaknya kewajiban ditengah-tengah ummat yang hilang atau tak diabaikan secara sengaja.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Mungkin kita bisa melihatnya, betapa miris ketika tak jauh dari suara masjid yang terdengar adzannya hingga jarak beberapa kilometer, beberapa pengayuh becak tetap acuh saja diatas besi mata pencahariannya. Tak jauh pula darisana pengemudi angkutan umum terus menikmati kopi hangat disuguhi lantunan dendang dangdut di kedai milik seorang janda yang nakal menggoda. Disekitarnya lagi seorang tukang ojek tetap setia melihat wajahnya di depan kaca spion sembari mencabut kumis dan memencet jerawat genitnya, belum lagi di warung makan, belum lagi di perusahaan besar tempat peredaran uang berputar kencang, tak terkecuali disela rapat sidang pemimpin rakyat. Panggilan Allah yang sudah hilang sirna hingga nantinya, tidaklah ada suatu masjid yang ketika waktu shalat tiba hanya diisi tiga orang saja setiap jamaahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Begitulah kenyataan. Selalu berakibat karena ada sebab yang menuntunnya. Betapa bersegera itu telah hilang. Betapa rindu telah hilang dari dada karena beberapa potong kue kenikmatan dunia. Kesegeraan untuk menempuh jalan kebaikan dan menjadi penyebab dari keberkahan harta yang di setiap harinya selalu berusaha sekuat tenaga. Jauhlah bila kita membandingkan dengan apa yang dimiliki oleh generasi-generasi penuh kemuliaan. Bagi generasi itu, harta bukanlah semata alat pengekang hingga menjadi pemasung dari terhalangnya kenikmatan mengadu kepada Rabbnya. Disana ada Adi bin Hatim yang berkata, “Tidaklah waktu shalat itu datang melainkan aku telah siap dengan perlengkapan untuk shalat, dan aku sangat merindukan waktu tersebut.” Atau perkataan Said bin Musayyib yang berkata, “Selama tiga puluh tahun aku telah bearada di masjid sebelum muadzin mengumandangkan adzan.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Atau sebuah teguran lembut dari Imam Ashim bin Abi An Nujud Al-Asadi dimana setiap kali beliau berangkat ke masjid, ia senantiasa berkata kepada orang-orang disepanjang jalannya itu “Sudahlah, mari ikut kami, sebab apa yang menjadi kebutuhan kalian tidak akan hilang.” Kemudian beliau masuk kedalam masjid dan melakukan shalat.</p>
<p style="text-align: justify;">Masa ini memang bukanlah masa-masa kejayaan dalam Islam, akan tetapi lihatlah perkataan Imam Ashim tadi, betapa pesan yang ia berikan sangat tepat penyampaiannya. Meninggalkan sejenak aktivitas kesibukan untuk memnuhi panggilan Allah tidaklah akan menghilangkan rizki seseorang. Apatah lagi tak ada kesibukan bagi dirinya untuk bersegera memnuhi panggilan Allah Azza wa Jalla.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Merunut kesibukan tidaklah akan ada habisnya. Namun yang terbaik bagi seseorang ialah hendaknya kesibukan tidak menjadi alasan setiap kali panggilan dari Allah Ta’ala hadir ditelinga. Kesibukan dimiliki oleh semua orang, dan tak sepantasnya seseorang mengeluh secara berlebihan diatas kesibukannya yang menjadikan alasan untuk tidak menunaikan ketaatan. Tak ada yang lebih sibuk dari Allah Ta’ala, dengan rahmat dan kasih sayangnya, Dia tetap memelihara langit dan bumi. Rabb yang tak pernah lelah serta tak pernah tidur. Sedangkan manusia, betapa ingkarnya ia dari perjanjian yang telah dibuat Rabbnya untuk taat dan menjalankan aturan Allah yang telah ditentukan hanya dengan alasan kesibukan mengejar harta dunia. Sangat gembira bila berjumpa dengan harta, akan tetapi sangat ingkar terhadap Pemilik dan Pemberi harta sesungguhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Wallahu ‘alam bii shawwab.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2010/03/03/kesibukan-mematikan-ketersegeraan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ada Menunggu Dikala Rindu</title>
		<link>http://rujakkata.com/2010/03/03/ada-menunggu-dikala-rindu.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2010/03/03/ada-menunggu-dikala-rindu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 03:51:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulek Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakr]]></category>
		<category><![CDATA[Hanzhalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnul Qayyim]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[

Aku suka mati karena rindu kepada Rabb. Aku suka fakir (miskin) karena tawadhu’ kepada Rabb. Dan aku suka sakit karena itu bisa menghapus kesalahanku. (Hilyatul Auliya : 1/217)

Perkataan tadi keluar dari seorang shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Abu Darda. Salah seorsang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang taqwa nan wara’ dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em><img class="aligncenter" title="Menunggu Menetes" src="http://1.bp.blogspot.com/_Yiz02Yn6YZE/SmsW-GlPjPI/AAAAAAAAAGg/wd-klAJbpgs/s400/pembeli+rindu.jpg" alt="" width="191" height="143" /></em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Aku suka mati karena rindu kepada Rabb. Aku suka fakir (miskin) karena tawadhu’ kepada Rabb. Dan aku suka sakit karena itu bisa menghapus kesalahanku.</em> (Hilyatul Auliya : 1/217)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Perkataan tadi keluar dari seorang shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Abu Darda. Salah seorsang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang taqwa nan wara’ dalam hidupnya. Istiqomah dalam beribadah serta dicintai oleh para sahabat lainnya. Perkataan itu merupakan nasihat yang menyejukkan dan seharusnya menjadi penyejuk jiwa dan pelapang dada atas apa yang terjadi pada setiap muslim. Karena hidup ini adalah siklus. Perputaran kehidupan terus terjadi di gelanggang dunia, setiap orang adakalanya mati, dan ketika itu pula di belahan dunia lain ada yang hidup. Dibelahan dunia barat ada yang fakir, maka disebelah timur tumbuhlah kekayaan yang diskriminan. Terus berputar dan silih berganti. Sebagaimana hari-hari yang diisi oleh matahari terbit dan terbenam berganti bulan bersinar dan menjadi sabit kembali.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-55"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kerinduan adalah asa yang menggelayut dalam dada. Semakin tinggi pautan kerinduan seseorang, maka akan semakin nyata pula tingkat harapan pencapaiannya. Rindu kadang menggelayut dan menorehkan seberkas senyum dalam wajah datar seorang ibu. Disaat menanti kedatangan anaknya setelah merantau sekian lama. Rindu pula menggelayut seorang pemuda dikala asa menggenapkan separuh agama sudah di depan mata, ataukah rindu para pendosa untuk mengakhiri hidupnya diatas sajadah taqwa. Seperti pula senandung rindu istri seorang mujahid yang bersiaga di medan jihad saat Umar bin Khattab mendengar syair kerinduannya, lalu Umar bertanya kepada anaknya Hafshah, soal sampai kapan seorang wanita dapat menahan kerinduan atas suaminya. Rindu itu adalah nyata dan sulit terhapus dalam dada.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Selalu ada nilai dalam momentum kerinduan. Menyibakkan nilai suka dan membakar nilai nestapa. Kadangkala rindu itu tiba dikala aktivitas seseorang terkabulkan oleh Allah atas doanya, dimasa yang sekarang dirindunya. Ketika ia rindu untuk membaca Al Qur’an dan mempunyai keluangan waktu untuk memahami secara mendalam kandungannya, maka rindu itu hadir menyeruak saat ia berada diatas meja kerja ketika kesibukan menyita waktunya. Disaat terbayang momentum indah dari kehidupan yang dirayakan penuh suka cita, maka rindu bisa menjadi obat untuk melepas kepenatan dan kejenuhan yang jemu mendera nilai-nilai hampa.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Handzhalah mengajarkan kita soal bagaimana membayar kerinduan senyatanya. Namanya adalah Hanzhalah Al Asadi, juru tulis pilihan Nabi. Suatu ketika ia berjumpa dengan Abu Bakar Ash Shiddiq. Hanzhalah menuturkan kisahnya, Suatu ketika, aku berjumpa dengan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu &#8216;anhu.   “Ada apa denganmu, wahai Hanzhalah?” tanyanya (dalam riwayat lain ketika itu Hanzhalah melewati hadapan Abu Bakr sambil menangis).</p>
<p style="text-align: justify;">“Hanzhalah ini telah berbuat nifaq,” jawabku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Subhanallah, apa yang engkau ucapkan?” tanya Abu Bakr.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bila kita berada di sisi Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau mengingatkan kita tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kita bisa melihatnya dengan mata kepala kita. Namun bila kita keluar meninggalkan majelis Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, istri, anak dan harta kita menyibukkan kita, hingga kita banyak lupa / lalai,” kataku.<br />
“Demi Allah, kami juga menjumpai yang semisal itu,” Abu Bakr menanggapi perasaan Hanzhalah. Aku pun pergi bersama Abu Bakar menemui Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam hingga kami dapat masuk ke tempat beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
”Hanzhalah ini telah berbuat nifaq, wahai Rasulullah,” kataku.<br />
“Apa yang engkau katakan? Mengapa engkau bicara seperti itu?” tanya beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. “Wahai Rasulullah, bila kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kami dapat melihatnya dengan mata kepala kami. Namun bila kami keluar meninggalkan majelismu, istri, anak dan harta kami (sawah ladang ataupun pekerjaan, –pent.) melalaikan kami, hingga kami banyak lupa/ lalai,” jawabku. Mendengar penuturan yang demikian itu, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda
</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tetap berada dalam perasaan sebagaimana yang kalian rasakan ketika berada di sisiku dan selalu ingat demikian, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di atas tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah, ada saatnya begini dan ada saatnya begitu.” Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim no. 6900, kitab At-Taubah, bab Fadhlu Dawamidz Dzikr wal Fikr fi Umuril Akhirah wal Muraqabah, wa Jawazu Tarki Dzalik fi Ba’dhil Auqat wal Isytighal bid Dunya).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat lain disebutkan sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di atas dengan lafadz “Wahai Hanzhalah, ada saatnya begini, ada saatnya begitu. Seandainya hati-hati kalian senantiasa keadaannya sebagaimana keadaan ketika ingat akan akhirat, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian, hingga mereka mengucapkan salam kepada kalian di jalan-jalan.” (HR. Muslim no. 6901). Hanzhalah radhiallahu &#8216;anhu dengan kemuliaan dirinya sebagai salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, tidaklah membuatnya merasa aman dari makar Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Bahkan ia merasa khawatir bila ia termasuk orang munafik, karena saat berada di majelis Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam rasa khauf (takut kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan azab-Nya yang pedih) terus menyertainya, dibarengi muraqabah (merasa terus dalam pengawasan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala), berpikir dan menghadapkan diri kepada akhirat. Namun ketika keluar meninggalkan majelis Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, ia disibukkan dengan istri, anak-anak dan penghidupan dunia. Hanzhalah khawatir hal itu merupakan kemunafikan, maka Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun mengajari Hanzhalah dan para shahabat yang lain bahwa keadaan seperti itu bukanlah kemunafikan. Karena mereka tidaklah dibebani untuk terus menerus harus memikirkan dan menghadapkan diri hanya pada kehidupan akhirat. Ada waktunya begini dan ada waktunya begitu. Ada saatnya memikirkan akhirat dan ada saatnya mengurusi penghidupan di dunia. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 17/70).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Begitulah rindu, adakalanya berisi kegelisahan yang mendalam terhadap hal-hal yang ditakutkan, terlebih sebelumnya perindu memiliki kesan indah membekas pada momentum yang pernah direguk kenikmatan diatasnya. Balada sang perindu selalu hadir dalam antrian-antrian lorong tunggu. Menunggu bagaimana waktu merealisasikan hasil usaha yang ditempuh. Rindu bukan kumpulan fatamorgana kesia-siaan, ia hadir karena adanya panggilan jiwa. Lubuk hati yang menggelora dan hasrat asa berkumpul bersama. Pada hakikatnya rindu itu sendiri adalah tujuan dari garis-garis impian yang tersadarkan untuk memenuhi relung jiwa yang terpaut suatu kenikmatan dan kebahagiaan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Indah nian perkataan Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Ighatsatul Lahfan 2/194, “Sesungguhnya hati itu akan melewati waktu-waktu yang penuh dengan kegembiraan karena kerinduan dan kecintaannya kepada Allah Azza wa Jalla.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Wallahu ‘alam bi shawwab…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2010/03/03/ada-menunggu-dikala-rindu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelak, Jangan Salahkan Kami!</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/12/22/kelak-jangan-salahkan-kami.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/12/22/kelak-jangan-salahkan-kami.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 07:38:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serut Pedas]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Al Baghawi]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad bin Ismail Ash Shaigh]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Nashiruddin Al Albani]]></category>
		<category><![CDATA[Said bin Musayyib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[
Masa senantiasa berganti dan menunjukkan selalu ada orang-orang yang mengisinya. Periode waktu menunjukkan bahwa adakalanya masa lampau dan ada pula masa yang datang. Kehidupan menyilihkan pergantian bagai siang menggeser malam. Islam, sebuah agama yang mulia dan tak ada yang mampu menandingi kemuliaannya. Islam senantiasa tetap akan ada hingga akhir jaman dan menjadi salah satu agama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://i115.photobucket.com/albums/n303/rblakester/150px-Icon-Warning-Red.png" alt="" width="150" height="125" /></p>
<p style="text-align: justify;">Masa senantiasa berganti dan menunjukkan selalu ada orang-orang yang mengisinya. Periode waktu menunjukkan bahwa adakalanya masa lampau dan ada pula masa yang datang. Kehidupan menyilihkan pergantian bagai siang menggeser malam. Islam, sebuah agama yang mulia dan tak ada yang mampu menandingi kemuliaannya. Islam senantiasa tetap akan ada hingga akhir jaman dan menjadi salah satu agama yang benar dan diakui kebenarannya dari masa ke masa. “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imraan : 85).</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-52"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Telah berlalu jauh Islam dari masa keemasannya, masa yang memiliki penuh limpahan ilmu dimanapun dan kapanpun, menjadi masa yang diliputi oleh banyak kebodohan dan kesesatan lebih dominan dibandingkan dengan kebenaran dan kebaikan. Wafatnya para pewaris para Nabi yakni ulama telah menunjukkan pula hilangnya ilmu sedikit demi sedikit di atas bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">Generasi muda sebagai tumpuan dan harapan lebih banyak mengisi aktivitasnya mengikuti dunia. Pergerakan musuh Islam yang membocorkan perahu-perahu keimanan para pemuda itu menjadi semakin besar dan meluas. Sebaliknya, kelompok tua tak ada lagi yang mewarisi keimanannya kepada anak-anaknya. Sebab acapkali sang ayah mengajak anaknya kepada jalan keimanan, acapkali pula sang anak lebih memilih berada di jalanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seiring dengan berjalannya waktu, lahirlah generasi-generasi Islam yang memiliki semangat dan mental berjuang kuat. Namun sangat disayangkan semangat dan mental tersebut jauh dari nilai-nilai kebenaran dan ilmu yang mendasarinya. Mental dan semangat keberanian itu pun sirna seiring dengan bertambahnya aktivitas. Gerakan tanpa ilmu pun berubah menjadi gerakan tak punya malu.</p>
<p style="text-align: justify;">Disisi lain muncul pula generasi yang sama mudanya, sama usia dan tingkatan generasi serta bisa jadi satu madrasah menuntut ilmu ketika dahulu. Mereka-mereka muda usia namun jauh dari agama. Ketika kecil anjangsana ke beberapa TPA merupakan bagian yang wajib setelah ashar tiba. Masjid-masjid penuh dengan kicauan mereka semasa kecil saat maghrib tegak waktunya. Orang tua sempat kewalahan mengatur tindak-tanduk mereka yang berlarian kesana kemari dan berbicara saat sedang shalat sehingga acapkali terjadi para bapak berbicara dalam hati soal tragedi betapa anaknya sangat mengusik kekhusyukan di hati. Tapi kini, warung makan dan tempat tongkrongan adalah aktivitas rutin sepulang kuliah dan selepas kerja. Menunggu macet sirna lebih asyik menghabiskan waktu ditengah kota bersama meja-meja berwarna hijau dengan bola berat bernomor satu sampai delapan atau sembilan. Istilahnya melepas penat dan jenuh dibangku kerja. Hadirnya teman-teman mesra menjadi pelengkap sang bocah yang dahulu duduk tenang di TPA. Gagang stick dan korek api di saku menjadi teman setia cerutu yang selalu sambung-menyambung menjadi satu bagaikan pulau-pulau.</p>
<p style="text-align: justify;">Tersadarlah dari kejenuhan sebagian diantara pemuda bangkit terbangun. Kehidupan bukan hanya di dunia saja, pasti ada sisi lain dari ini semua dan kenikmatan semu yang di punya. Tak punya pegangan dan pijakan yang benar dalam beragama maka justru berlari mendekatkan diri kepada praktik-praktik yang maksud hati baik, tapi apa daya syariat tidak mengizinkan sebagai suatu kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Masjid-masjid yang dahulu ramai teriakan aamiin dan celotehan shalawat badar di speaker hingga memutuskan kabel sudah tak lagi ada. Beceknya tempat wudhu telah cepat mengering, karena yang bermain air saat ini telah bermain bensin. Sang orangtua sangat merindukan kekesalan disaat sang anak dahulu rajin menggelayut disarung dan memainkan kopiah sang ayah. Nakal, tapi itulah sebuah kerinduan. Sehingga tak ada yang bisa ayah banggakan dari sang anak lewat sisi agama melainkan hanya perkataan waktu kecil anak saya juga pernah belajar mengaji. Miris, tapi itulah realita. Terkadang berjalan bersama, terkadang berpisah tanpa cerita.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Generasi Baru, Generasi Ilmu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang, roda kembali berputar. Kejayaan Islam melalui keterwakilan eksistensi penarapan sunnah telah menjadi sesuatu hal yang mudah ditemui. Hakikat beragama yang mudah bila sesuai sunnah pun telah tumbuh dan sedang berbuah. Generasi muda yang baru, generasi muda penuh ilmu. Bukan generasi muda seperti sejawatnya yang lebih asyik menghisap dan bercandu. Generasi muda yang sadar betapa pentingnya agama dalam kehidupan mereka. Generasi yang senantiasa berkata sebagaimana perkataan seorang Imam yang pernah dibenci oleh kyai bapaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkata Imam Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi dalam Tsalatsatil Ushul, wajib bagi kalian mengilmui dalam hal ini mengenal Allah, mengenal Nabi, dan mengenal agama. Setelah itu beramal, berdakwah, dan bersabar terhadap rintangan yang datang menghadang atas kesemuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sejatinya agama ini mudah, tak seperti yang pernah dibayangkan sebelumnya.sebagaimana dikatakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Agama adalah mudah dan tidak seorang pun yang mempersulit dalam agama ini, kecuali ia akan terkalahkan&#8221;. (HR. Al-Bukhari (39), dan An-Nasa&#8217;i 5034). Hal ini juga diperkuat oleh firman Allah Ta’ala, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al Baqarah 185).</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, seiring dengan berjalannya waktu, bertambah pula dari generasi muda ini untuk mengajak orang-orang yang berada di lingkungan mereka. Para pemuda ini memulai urusannya dari awal pada tataran keluarga, lalu ajakan pun melebar kepada teman sejawat, sahabat setia, teman seperjuangan, teman sepergaulan dan permainan dahulu, hingga berharap besar agar lingkungannya terbentuk menjadi lingkungan yang penuh dengan ilmu dan menjadi lingkungan sesuai dengan akidah yang shahihah serta sesuai manhaj nubuwwah diatas sunnah, begitulah istilahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdorong dari sebuah hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, &#8220;Permudahlah dan jangan kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari&#8221;. (HR.Al-Bukhari (69&amp; 6125), dan Muslim(1734). Serta hadits berikutnya yang menyamangati kaum muda ini mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada unta merah, kendaraan mewah sepanjang masa. Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam </em>berkata kepada Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallohu ‘anhu</em> pada peperangan Khaibar <em>: </em><em>“ Majulah ke depan dengan tenang. Sampai kamu tiba ke tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan sampaikanlah kepada mereka hak-hak Alloh Ta’ala yang wajib mereka tunaikan. Demi Alloh, sekiranya Alloh azza wa jalla memberikan petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, sungguh hal itu lebih baik (berharga) bagimu daripada memiliki unta-unta merah (unta-unta yang terbaik saat itu-pen) “</em> ( HR. Bukhari 3701 dan Muslim 2406 ).</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah sebuah semangat yang didasari ilmu, berjalan melaju sebagaimana arah yang dituju. Harapan besar bertumpu pada sebuah usaha yang tak padam karena dukungan acapkali mendatangi majelis-majelis kajian yang sekarang ini sudah sangat berserakan penuh manfaat di seantero penjuru nusa. Generasi baru, generasi yang mendasari segala aktivitas kepada ilmu. Dan mempersilahkan kepada punggawa-punggawa muara ilmu untuk menuntun generasi ini diatas jalan kebenaran untuk menyongsong kejayaan. Karena inilah generasi yang mengambil warisan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh lapang dada dan sabar ceria. Merekalah anak-anak muda yang mengatur rencana ketika malam minggu tiba untuk menyelenggarakan majelis ilmu di keesokan paginya. Bukan anak-anak muda yang mengatur rencana bila malam minggu tiba untuk waktunya kunjungan pacar.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak-anak muda yang berharap menjadi tanah basah yang dapat menahan air sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Perumpamaan apa yang aku diutus dengannya berupa petunnjuk dan ilmu, adalah seperti hujan deras yang mengenai tanah. Di antara tanah tersebut ada tanah yang baik, bias menerima air dan menumbuhkan banyak rerumputan. Dan diantara tanah tersebut ada yang keras bias menahan air, maka Allah memberikan manfaat dengannya kepada manusia. Mereka bisa minum, menyiram, dan menanam. Hujan deras itu juga mengenai bagian lainnya lagi dari tanah tersebut. Tidak lain tanah tersebut adalah lembah rata dan halus yang tidak bisa menahan air dan menumbuhkan rumput. Itulah perumpamaan orang yang paham tentang agama Allah dan bermanfaat baginya apa yang aku diutus oleh Allah dengannya; dia tahu dan mengajarkan. Dan itulah perumpamaan orang yang berpaling dan tidak mengambil manfaat darinya serta tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (HR. Bukhari (79) dan Muslim). Panjanglah bila bahasan soal generasi muda penuh ilmu ini, generasi muda yang menyejukkan mata dan semestinya membuat iri pada anak-anak tetangga bagi sang empunya orangtua.</p>
<p style="text-align: justify;">Generasi muda yang jika suatu saat ditanya sebagaimana pemaparan Muhammad bin Ismail Ash Shaigh soal Imam Ahmad rahimahullah menceritakan kisahnya, Ahmad bin Hanbal melewati kami sambil memegang kedua sandalnya dengan kedua tangannya, beliau berlari di jalan-jalan Baghdad, berpindah dari satu majelis ke majelis lainnya. Maka berdirilah bapaknya yang bercerita itu yakni Ismail Ash Shaigh dan memegang baju Ahmad bin Hanbal seraya bertanya, Wahai Abu Abdillah! Sampai kapan kamu terus menuntut ilmu? Beliau Ahmad bin Hanbal menjawab, “sampai mati!” (Syaraf Ashhab Al Hadits hal 68). Atau dalam sesi lain saat Abdullah bin Muhammad Al Baghawi mendengarkan perkataan Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal soal janjinya, “Aku akan terus mencari ilmu hingga dimasukkan kedalam kubur” (Manaqib lil Imam Ahmad hal 31).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelak Jangan Salahkan Kami</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebegitu semangat yang membara, penuh arti tersendiri dalam lubuk relung hati jiwa. Semangat yang penuh menghasilkan manfaat dari anak-anak muda generasi sholeh sesuai dengan do’a orang tuanya dahulu agar menjadi anak yang beriman dan bertakwa. Anak-anak muda ini berinisiatif dengan daya karsa dan karya yang mereka miliki. Bukan untuk menguasai satu masjid ke masjid lainnya, tapi bermisi dan bervisi agar sunnah Nabi shalallahu ‘alayhi salam tegak di bumi pertiwi ini. Bukan layaknya pendemo sebagaimana barisan sakit hati dan frustasi terkena sindrom depresi sampai ujung kaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, acapkali usaha tak sejalan dengan hasil yang diharapkan. Para tetua tak rela merasa masjid yang dahulu telah lama dijejakkan kakinya oleh mereka terusik dengan kehadiran pemuda-pemuda yang berbahagia dan berilmu penuh kaya. Satu hal, karena bisa jadi anggapan tetua bahwasanya para pemuda ini telah salah jalan. Dan para tetua merasa pendaringan terganggu karena proposal perhelatan upacara perayaan hari besar islam terhambat laju karena pemuda baru kemarin sore ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka terkadang mengusir secara halus akan adanya sebuah kajian ilmiah yang dilaksanakan dan diadakan di masjid-masjidnya. Kadang pula secara kasar dengan terang-terangan tentunya dengan berbagai alasan. Namun di sisi lainnya, tenaga para tetua sudah payah, anak muda yang menjadi penerus mereka telah berubah orientasi ke arah dunia, pengajian yang mereka adakan sudah jauh dari nilai agama. Ketika kyainya mengajarkan cium tangan bolak-balik secara berlebihan, disaat air malam nifsyu sya’ban punya nilai sama dengan air zam-zam dan bertuah, ketika perayaan haul dan ziarah menjadi aktivitas rutin penguras biaya, disaat anak muda di mobilisasi untuk memperbaiki speaker yang kelak digunakan untuk berteriak qasidah dan shalawat yang tak jelas asal muasal, tak tahu artinya, dan jauh dari sunnah nabawiyyah sesungguhnya. Anak-anak muda dambaan tetua yang semakin banyak bagaikan buih. Penuh sesak tapi jauh dari ilmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelak jangan salahkan kami jika saat shalat jamaah generasi muda penuh ilmu syar’i yang benar banyak mengisi shaf-shaf terdepan dan datang lebih dahulu sebelum adzan dikumandangkan. Jangan salahkan kami generasi muda yang antusias terhadap sunnah yang lekas pergi kala sang imam memimpin yasin dan tahlil setelah shalat maghrib tiba. Kelak jangan salahkan kami, bila dakwah yang kami bawa lebih membawa perubahan dalam kehidupan dan punya arti dibanding bernyanyi di subuh hari dengan tanpa fasih mengucap asma yang tak dikenal jaman Nabi serta para sahabatnya. Kelak jangan salahkan kami yang banyak mengisi masjid dengan aktivitas ilmu serta kajian dibandingkan anak-anak para tetua yang ramai memuja dunia atau membawa bendera di malam hari dengan knalpot motor meraung-raung disertai pelanggaran tata tertib dan berlalu lintas. Kelak jangan salahkan kami, tapi salahkanlah diri dan introspeksilah mengapa selama ini mengaji justru malah membuat hampa hati dan jauh dari ilmu syar’i. Bukan karena bapak tetua salah sebab beribadah karena beranggapan baiknya, tapi bapak tetua salah sebab telah menyalahi sunnah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah renungan indah yang dipaparkan oleh Said bin Musayyib rahimahullah, ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua rakaat, lelaki tersebut memanjangkan ruku dan sujudnya, akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata: Wahai Abu Muhammad (kuniyah Sa’id) apakah Allah Ta’ala akan menyiksaku dengan sebab shalat?” Beliau (Sa’id bin Musayyib) menjawab: “Tidak, tetapi Allah Ta’ala akan menyiksamu karena menyelisihi sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam” (Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 2/466). Pemaparan Sa’id ini menyiratkan pelajaran sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Nashiruddin Al Albani, “Ini adalah jawaban Sa’id bin Musayyib yang sangat indah. Dan merupakan senjata pamungkas terhadap para ahlul bid’ah yang menganggap baik kebanyakan bid’ah dengan alasan dzikir dan shalat, kemudian membantai Ahlusunnah dengan pernyataan bahwasanya para Ahlusunnah mengingkari dzikir dan shalat! Padahal sebenarnya yang mereka (Ahlusunnah) ingkari adalah penyelewengan ahlul bid’ah dari tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam dzikir, shalat, dan lain-lain.” (Irwa’ul Gholil 2/236).</p>
<p style="text-align: justify;">Kelak, jangan salahkan kami bila masjid tetua yang selama ini tiba-tiba hidup kembali dengan tegaknya sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p style="text-align: justify;">wallahu ‘alam bii shawwab</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/12/22/kelak-jangan-salahkan-kami.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awalnya Lurus, Lalu Mencong.</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/12/21/awalnya-lurus-lalu-mencong.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/12/21/awalnya-lurus-lalu-mencong.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 07:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serut Pedas]]></category>
		<category><![CDATA[Al Mukhannats]]></category>
		<category><![CDATA[Al Mutarajjilah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[
Dinamika kehidupan acapkali bersesuaian dengan perkembangan zaman. Dari masa ke masa selalu berubah-ubah tak pernah statis sisi lain kehidupan manusia. Segala sesuatu bisa menjadi dalih pembolehan dan pelarangan kala sendi tolok ukurnya bukan lagi dengan neraca syariat agama Islam yang mulia. Kebenaran semakin menjadi rancu, adakalanya kebenaran tertutup membisu karena kalahnya jumlah yang dominan bernama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://radicalbanana.files.wordpress.com/2008/08/lampu-merah.jpg" alt="" width="178" height="223" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dinamika kehidupan acapkali bersesuaian dengan perkembangan zaman. Dari masa ke masa selalu berubah-ubah tak pernah statis sisi lain kehidupan manusia. Segala sesuatu bisa menjadi dalih pembolehan dan pelarangan kala sendi tolok ukurnya bukan lagi dengan neraca syariat agama Islam yang mulia. Kebenaran semakin menjadi rancu, adakalanya kebenaran tertutup membisu karena kalahnya jumlah yang dominan bernama kebiasaan dan kewajaran. Kesalahan sejatinya tetap tidak bisa dibiarkan apatah lagi kesalahan tersebut semakin melebar karena banyaknya dukungan. Padahal sebagai seorang muslim, sikap dasar dalam memahami suatu kebenaran itu ialah dengan memahami serta mengetahui ajaran sebaik-baiknya melalui neraca syariat yang telah digariskan oleh Allah Ta’ala dan dilaksanakan dengan sempurna oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya. Sekali lagi, kebenaran acapkali kalah dengan banyaknya kesalahan yang mendapatkan dukungan dari faktor kewajaran dan kebiasaan.<span id="more-49"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Adakalanya realita selalu bergandengan tangan mesra dengan fenomena. Realita seringkali pula menuruti apa yang menjadi sebuah fenomena umum. Salah satu fenomena itu adalah munculnya generasi-generasi yang kuat badannya tapi lemah jiwanya. Kuat perkasa, akan tetapi kemayu gerakannya. Berjenis kelamin pria, namun menyukai seorang yang berjenis kelamin sama dengan dirinya. Dalam istilah Arab dikatakan sebagai Al Mukhannats, yakni laki-laki yang menyerupai wanita dalam tingkah laku, ucapan, dan gerakannya (Syarah Shahih Muslim 14/163, Fathul Bari 9/404). Realita ini pun bukan terjadi dimasa sekarang ini saja, realita ini pun bahkan telah menjadi sebuah fenomena sebelumnya pada zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits, “Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR.Bukhari no. 5885, 6834).</p>
<p style="text-align: justify;">Mencong sebagai sebuah ekspektasi kehidupan masa kini adalah bukan lagi hal yang tabu untuk dibicarakan. Seseorang yang mengalami kemencongan dalam hidupnya akan merasa nyaman apabila kehadirannya diakui dan menjadi pewarna rasa dalam setiap aktivitas acara. Aktivitas mulutnya yang latah, gaya bicaranya yang sangat diluar batas norma, kasarnya dalam bertindak fisik menjadi sebuah labeling tersendiri bagi ekstase mencong, adakalanya diantara mereka genit terhadap sesuatu hal yang tak pantas untuk dibanyak artikan, menerobos batas sekat dinding pemisah secara bebas tak terarah, serta berani menghadapi masalah dengan rengekan dan tangisan ala wanita kebiasaan, ataukah juga tiba-tiba bisa berlari kencang padahal tak menggunakan celana panjang lalu tersingkaplah bulu di betis yang kacau berantakan akibat salah cukur dan kesiangan. Maaf, mencong disini adalah sebuah bahasa halus untuk setengah pria dan setengah wanita, waria, banci, bencong, atau istilah-istilah lain yang mewakili keadaan dimana seseorang telah menyalahi tabiat fitrah jenis kelaminnya. Dibebarapa negara, komunitas seperti ini memiliki kesejajaran hukum yang sama dengan dua lapisan gender sebelumnya yakni pria dan wanita, bahkan di beberapa negara telkah terjadi pengesahan pernikahan antara yang mencong dengan si cukong. Namun di dalam agama, terkadang agak susah untuk menguburkannya, apakah ia seorang yang wanita ataukah ia seorang pria. Karena konsekuensi yang ada akan berkaitan dengan tatacara penguburannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah fenomena terus berjalan lebih cepat dibandingkan guliran zaman, para mukhannats atau waria telah menjadi suatu kewajaran tersendiri. Suara-suara lantang bahwasanya hak asasi manusia mesti dijunjung tinggi pun lantang menggema bagaikan sebuah jeritan kera yang dahulunya adalah desis ular berbisa. Segala sesuatu mesti dihormati sekalipun di jaman Nabi yang demikian sudah terlarang dan dibenci. Atas nama kewajaran, maka para pria yang sebelumnya lurus menjadi mencong semakin banyak jumlahnya. Atas nama luka hati karena cinta terhadap lawan jenis, maka mereka ber-trans seksual linear segaris dengan jenis kelaminnya. Gender sudah menjadi prasasti kemenangan bagi dialektika dogma kewajaran. Atas nama himpitan ekonomi maka jalan pintas lantas berhias di sudut jalan serta kamar dagang dan perumahan dilakoni, sekali lagi atas nama kebebasan mereka menjadi juru rias wanita yang mencintai pria. Karena dapat mengocok gurau canda maka penerimaan lebih pun diberikan kepada mereka, disertakan dalam label yang mesti selalu dihormati dan dijunjung tinggi eksistensinya. Sungguh Al Mukhannats telah berjaya untuk merusak simbiosis kehidupan beragama. Sebab tokoh agama adakalanya memaklumi apa yang telah diperbuat mereka dan ikut tertawa kala mereka bergelak ria.</p>
<p style="text-align: justify;">Laknat Nabi jelas diberikan kepada mereka atas menyimpangnya mereka dan rusaknya kaidah yang dibawa oleh para Mukhannats, hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi dalih yang semestinya tak bias terbantah lagi dari bibir latah serta asal bicara seenaknya soal status mereka. Sebab teranglah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ini, “Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita  (mukhannats) dan wanita yang menyerupai laki-laki (mutarajjilah). Dan beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “Keluarkan mereka (usir) dari rumah-rumah kalian”. Ibnu Abbas berkata: “Maka Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun mengeluarkan Fulan (seorang mukhannats) dan Umar mengeluarkan Fulanah (seorang mutarajjilah).” (HR. Bukhari no. 5886).</p>
<p style="text-align: left;">Sang mukhannats mesti terusir dengan sebab tiga syarat, yakni :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Disangka termasuk      laki-laki yang tidak punya syahwat terhadap wanita tapi ternyata ia punya      syahwat namun menyembunyikannya.</li>
<li>Ia menggambarkan      wanita, keindahan-keindahan mereka dan aurat mereka di hadapan laki-laki      sementara Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah melarang seorang wanita      menggambarkan keindahan wanita lain di hadapan suaminya, lalu bagaimana      bila hal itu dilakukan seorang lelaki di hadapan lelaki?</li>
<li>Tampak bagi      Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dari mukhannats ini bahwa dia      mencermati (memperhatikan dengan seksama) tubuh dan aurat wanita dengan      apa yang tidak dicermati oleh kebanyakan wanita. Terlebih lagi disebutkan      dalam hadits selain riwayat Muslim bahwa si mukhannats ini mensifatkan/      menggambarkan wanita dengan detail sampai-sampai ia menggambarkan kemaluan      wanita dan sekitarnya, wallahu a’lam.( Al Imam Nawawi dalam Syarah Shahih      Muslim, 14/164).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana Mengatasinya ?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah kebiasaan tentunya tak bisa hilang lenyap hanya dengan sedikit usaha. Realitanya semua selalu butuh waktu penyelesaian. Kuatnya usaha adalah berpengaruh besar dari kuatnya kesungguhan dan keyakinan. Kesemuanya membutuhkan keteguhan dan kesabaran, menatap ke depan dan mencoba untuk berpikir kemudian akan bagaimana seseorang berhadapan dengan Tuhan. Nilai jual memang selalu mahal untuk harga-harga penyimpangan. Kiri kanan jalan selalu punya peluang untuk menjatuhkan. Maka bersama berpikir untuk mengatasi rintangan demi tercapainya sesuatu yang mencong menjadi lurus dan tidak kembali lagi tertukar. Ada beberapa hal yang sangat terkait untuk meluruskan sesuatu yang telah mencong. Seketika kemencongan bisa lebih parah jika tidak ada niat atau tekad untuk meluruskannya. Diantara kiat-kiat tersebut adalah :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Mempertajam niat dan memperbaharui tekad akan sebuah konsistensi dalam kehidupan di dunia ini. Terkadang mereka-mereka yang mengalami kemencongan karena adanya sebuah orientasi dasar perubahan dari arah lurus. Perubahan tersebut karena adanya nilai-nilai pencapaian dalam pergaulan dan dengan siapa ia bergaul. Maka mempertajam niat mesti dikedepankan agar bisa mencapai hasil yang sempurna. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niati dan usaha yang ia lakukan. Maka bila Al Mukhannats merasakan bahwasanya bukan disana hakikat identitas dirinya. Mulailah untuk berubah dengan niat yang tepat. Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu &#8216;anhu, ia berkata :<em> “Aku mendengar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. </em>(Bukhari no.1 dan Muslim no. 1907).</li>
<li>Hijrah atau berpindah dari tempatnya ia berada. Bias jadi seseorang merasakan bahwa lingkungan telah membentuk ia menjadi seseorang yang menyimpang dari arah hakikat diri yang sebenarnya. Karena sebagian besar adik dan kakaknya adalah wanita maka seorang yang semestinya jantan bias menjadi betina, begitu pula sebaliknya. Maka setelah ia menemukan dan mengetahui bagaimana identitas diri yang sebenarnya dan bagaimana ia harus bersikap dan bersifat. Dibutuhkan bagi dirinya untuk berhijrah. Hijrah yang bermakna berpindah dari lingkungan pembentukan sebelumnya ke lingkungan yang sesuai dengan kodrat diri. Akan banyak kebaikan yang didapat bila hakikat ini telah terpenuhi. Jangan pernah merasa takut bila berpindah ke lingkungan selanjutnya, karena yakinlah bahwasanya hal yang demikian merupakan sebuah tipu daya dari hawa nafsu yang diikuti. Cobalah untuk menembus batas dan ruang yang selama ini menjadi selaput pembatas. Makanya makna dan hakikat hijrah ini sangat berkaitan dengan niat yang telah dirumuskan di awal. Sungguh sebuah kisah indah seperti yang dipaparkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ini, <em>&#8220;Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kalian yang telah membunuh 99 nyawa. Dia bertanya tentang orang yang paling berilmu di atas permukaan bumi. Lalu ditunjukkanlah seorang rahib (ahli ibadah). Kemudian ia pun datang kepada sang rahib seraya mengatakan bahwa dirinya telah membunuh 99 nyawa. Apakah masih ada taubat baginya? &#8220;tidak ada!!&#8221;, tukas si rahib. Maka orang itu membunuh si rahib dan menyempurnakan (bilangan 99) dengan membunuh si rahib menjadi 100 nyawa. Kemudian ia bertanya lagi tentang orang yang paling berilmu di atas pemukaan bumi. Lalu ditunjukkan seorang yang berilmu (ulama’) seraya menyatakan bahwa dirinya telah membunuh 100 nyawa, apakah masih ada taubat baginya. Orang yang berilmu itu menyatakan bahwa siapakah yang menghalangi antara dirinya dengan taubat? &#8220;Berangkatlah engkau ke negeri demikian dan demikian, karena disana ada sekelompok manusia yang menyembah Allah -Ta’ala- . Maka sembahlah Allah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali kembali ke kampungmu, karena ia adalah kampung yang jelek&#8221;, kata orang yang beilmu itu. Orang itu pun berangkat sampai di tengah perjalanan, ia di datangi oleh kematian. Maka para malaikat rahmat, dan malaikat adzab (siksa) pun bertengkar tentang orang itu. Malaikat rahmat berkata, &#8220;Dia (bekas pembunuh) ini telah datang dalam keadaan bertaubat lagi menghadapkan hatinya kepada Allah -Ta’ala-&#8221;. Malaikat adzab berkata, &#8220;Orang ini sama sekali belum mengamalkan suatu kebaikan&#8221;. Lalu mereka (para malaikat itu) pun didatangi oleh seorang malaikat dalam bentuk seorang manusia. Mereka (para malaikat) pun menjadikannya sebagai hakim. Malaikat (yang menjadi hakim) berkata, &#8220;Ukurlah antara dua tempat itu; kemana saja laki-laki lebih itu dekat, maka berarti ia kesitu&#8221;. Mereka mengukurnya; ternyata laki-laki itu lebih dekat ke negeri yang ia inginkan. Akhirnya malaikat rahmat menggenggam (ruh)nya&#8221;.</em> [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Anbiyaa’, bab: Am Hasibta anna Ashhaba Kahfi war Roqim (3283), Muslim dalam Kitab At-Taubah, bab: Qobul Taubah Al-Qotil Wa in Katsuro qotluh (2766), Ibnu Majah dalam Kitab Ad-Diyat, bab: Hal li Qotil Al-Mu’min Taubah (2622)].</li>
<li>Mencari teman pergaulan yang baik adalah syarat perubahan berikutnya. Agar kelak niat dan hijrah bisa menjadi hasil. Maka diperlukan teman dan sahabat yang mau serta membantu untuk berubah. Pilihlah teman yang sebenar-benarnya. Bukan teman yang menjerumuskan dan menjadikan diri berpindah dari satu kesalhan menuju cabang-cabang kesalahan lainnya. Awali pemilihan teman itu dengan sifat dan sikap yang menunjukkan bahwa anda adalah sudah bukan anda yang dahulu lagi. Sudah menjadi sosok yang sesuai dengan kodratnya. Sama dengan pria yang lain, yang berpenampilan jantan. Sama dengan wanita lain yang berpenampilan feminin. Maka pilihlah teman yang tepat. Karena pilihan mempengaruhi sebuah akhiran yang menyenangkan. <em>&#8220;Seorang itu berada di atas jalan hidup (kebiasaan) temannya. Lantaran itu, hendaknya seseorang diantara kalian memeperhatikan orang yang ia temani&#8221;.</em> (At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (2378). HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4833), dan Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (927).</li>
<li>Berusaha dan bertawakal. Agar semua itu tidak menjadi hampa dan berakhir nestapa maka kesemuanya mesti membutuhkan usaha yang maksimal.</li>
<li>Berdoa. Urusan ini merupakan urusan pamungkas bagi setiap hamba. Dalam pepatah, tiada kata seindah doa. Tak ada ucapan yang lebih baik dibandingkan sebuah realitas pengharapan. Maka doa adalah eksistensi pengaharapan sebenarnya. Untuk hidup yang lebih baik. Maka buatlah harapan demi sebuah perubahan lebih indah lagi.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/12/21/awalnya-lurus-lalu-mencong.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Habis Galau Terbitlah Tenang</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/11/16/habis-galau-terbitlah-tenang.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/11/16/habis-galau-terbitlah-tenang.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 01:16:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulek Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Umamah]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhalah bin Umair]]></category>
		<category><![CDATA[Khalid bin Mi'dan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[
Ia berkata, mari mengobrol, aku jawab tidak, Allah dan Islam enggan memenuhi ajakanmu
Tidakkah engkau melihat Muhammad dan pasukannya, menaklukkan Mekkah di hari berhala-berhala dihancurkan
Sungguh aku melihat agama Allah menjadi sangat jelas, sedangkan kesyirikan tertutup oleh kegelapan-kegelapan.
Begitulah bunyi syair yang dikutip dalam kitab monumental Al Bidayah wa An Nihayah (IV:352) milik Abul Fida’ Ibnu Katsir, sang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://sangbintang.files.wordpress.com/2009/03/gunung.jpg" alt="" width="465" height="309" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>Ia berkata, mari mengobrol, aku jawab tidak, Allah dan Islam enggan memenuhi ajakanmu</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Tidakkah engkau melihat Muhammad dan pasukannya, menaklukkan Mekkah di hari berhala-berhala dihancurkan</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Sungguh aku melihat agama Allah menjadi sangat jelas, sedangkan kesyirikan tertutup oleh kegelapan-kegelapan</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah bunyi syair yang dikutip dalam kitab monumental Al Bidayah wa An Nihayah (IV:352) milik Abul Fida’ Ibnu Katsir, sang mufassir yang diakui keilmuannya diseluruh pelosok dunia Islam. Syair tersebut adalah ucapan lantang Fadhalah bin Umair bin Maluh Al Laitsi setelah Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam memegang dadanya dan menenangkan jiwanya. Allah Maha Tahu apa yang akan dilakukan oleh Fadhalah sebelumnya ketika niat buruk persembunyian hatinya disampaikan oleh Allah melalui wahyu kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sehingga terbongkarlah niat buruknya. Berawal dari keseringannya Fadhalah duduk pada lingkungan yang buruk, bercengekerama dengan para wanita-wanita penghasut yang di hatinya menyimpan hasad kepada Muhammad maka darisanalah perencanaan itu berawal.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-37"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada mulanya Fadhalah berhajat besar untuk membunuh sang Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam kala sedang thawaf di Baitullah. Mengendap-endap Fadhalah mendekati Rasulullah dsertai persiapan belati yang siap menikam Nabi. Setelah dekat posisinya kala itu dengan Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam, maka Nabi bertanya kepada dirinya, “Apakah ini Fadhalah?”. Maka Fadhalah menjawab, “Betul, ini Fadhalah wahai Rasulullah”</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi kembali bertanya, “Apa yang kamu katakan dalam hatimu?”. Fadhalah pun menjawab, “Tidak ada apapun, melainkan aku hanya berdzikir kepada Allah”. Rasulullah tertawa mendengarnya, lalu bersabda “Minta ampunlah kepada Allah wahai Fadhalah”. Maka selanjutnya Nabi meletakkan tangannya diatas dada Fadhalah sehingga hatinya menjadi tenang. Setelah berlalu Fadhalah pun bertutur, “Demi Allah. Tidaklah beliau mengangkat tangannya dari dadaku sampai aku merasa tidak pernah Allah menciptakan sesuatau yang lebih aku cintai dibandingkan beliau.”</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Fadhalah pulang kerumahnya untuk bertemu berkumpul kembali dengan keluarganya. Ditengah perjalanan Fadhalah menjumpai karib duduk yang jahat tersebut dari kalangan para wanita yang mengajaknya untuk duduk kembali berbicara. Maka keluarlah lantunan bait syair tersebut dari lisan Fadhalah sebagai apresiasi penolakan dan penegasan sikapnya saat ini untuk berlari menjauh dari persekongkolan makar buruk lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. </em>(QS. Al An’am : 125).<em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Abu Umamah mengungkapkan kisah yang unik dalam mengajarkan pegangan pada dada dan mendoakan atasnya. Abu Umamah Al Bahili menuturkan : “Sesungguhnya pernah ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku berzina.’ Saat itu, orang-orang yang ada di sekitar membentaknya seraya mengatakan, <em>‘Mah, mah!’ </em>Sementara Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyuruh pemuda itu untuk mendekat. ‘Mendekatlah,’ ajak beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu pun mendekat. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bertanya, ‘Sukakah engkau kalau hal ini terjadi pada ibumu?’ ‘Tidak, demi Allah, aku sebagai jaminanmu,’ jawabnya. ‘Demikian pula halnya setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi pada ibu-ibu mereka,’ jelas Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam kepada pemuda itu. Kemudian beliau ajukan pertanyaan lagi, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada anak perempuanmu?’ Ia Jawab, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan diriku sebagai jaminanmu’ Beliau jelaskan lagi, ‘Demikian pula manusia tidak menyukai hal itu terjadi pada anak perempuan mereka.’</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian beliau tanya, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’ Lalu beliau bersabda, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka.’ ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (ammah / saudara perempuan bapak)?’ Tanya beliau kembali. Dijawabnya, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’ Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam nyatakan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi mereka.’ Beliau berikan lagi pertanyaan, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (<em>khalah</em> / saudara perempuan ibu)?’ Jawab pemuda itu, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu.’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menuturkan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi <em>(khalah)</em> mereka.’ ”</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Abu Umamah menyatakan : “Maka Rasulullah meletakkan tangannya di atas dada pemuda itu seraya mengucapkan : ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.’ (HR. Ahmad dan Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah no. 370).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Habis Galau Terbitlah Tenang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah pelajaran-pelajaran dari ketenangan. Selalu mengacu dan mengarah kepada pusat ketenangan yakni dada. Saat Fadhalah bersiasat buruk dan mencoba membunuh Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sirna ditelan ucapan yang indah dan pegangan pada dada yang menenangkan, kala seorang pemuda yang galau hatinya meminta izin untuk berzina namun Nabi justru menasehati seraya memegang dada serta mendoakannya. Begitulah semestinya bagi mereka-mereka yang paham akan arti ilmu menyikapi para awwam dalam hal agama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa jadi kebanyakan mereka belum mengerti dan tidak mengetahui apa yang semestinya harus dilakukan, apa yang seharusnya dilaksanakan. Kala benih-benih hidayah mampir menyapa jiwa mereka. Dibutuhkan sebuah ketenangan untuk menghanguskan kegalauan. Dibutuhkan sebuah kesabaran dalam membimbing orang tersayang agar hidayah tetap menyapanya. Masa-masa ini adalah masa dimana sebagian manusia dipenuhi kegalauan dalam dadanya. Kala aktivitas dunia menyibukkan waktunya sehingga kejaran harta tak mampu menenangkan jiwa, ketika para populis berusaha menghapus citra diri yang selama ini terbangun dengan banyak kesalahan dan mencoba melenyapkannya dengan untaian harapan ketenangan. Selalu ada yang menunjukkan, namun selalu ada pula yang membelokan dari tunjukan-tunjukan tersebut. Waktunya bagi kita yang telah memahami, mengetahui, dan memancangkan harapan dari sebuah ketenangan untuk memadamkan hati-hati penuh galau dan risau yang menyayat dada bak pisau. Selalu menyeruak menghunus tajam menekan jiwa untuk mengajak kepada kesalahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam mengajarkan pada kita akan banyak hal yang semsetinya dilakukan. Ungkapan-ungkapan yang mengarah kepada satu tujuan yakni dada sebagai sebuah eksistensi perwakilan dari metabolisme keselarasan manusia. Kala arah kebaikan dan keburukan kesemuanya berada di dada. Dan ketika dada menjadi episentrum lokal kekuatan serta kemenangan apatah itu keburukan maupun kebaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu benarlah sabda baginda Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam bahwasanya <em>Janganla</em><em>h kalian saling mendengki, janganlah saling mencurangi, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lainnya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim adalah bersaudara, janganlah mendholiminya, merendahkannya dan janganlah mengejeknya! Takwa ada di sini -beliau menunjuk ke dadanya tiga kali-. Cukup dikatakan jelek seorang muslim, jika ia menghinakan saudaranya muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, harta dan kehormatannya. </em>(HR. Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga darisanalah semestinya kita memulai untuk menunjukkan hati-hati galau itu pada ketenangan yang kita pahami dan ketahui. Ketenangan sebagaimana para shahabat ridwanallahu ‘alayhim jami’an serta para salafush shalih terdahulu mengapresiasikannya dalam rona-rona keimanan yang menghujam dalam dada. Ternyata darisanalah pelajaran itu bermula. Bahwasanya muara kebaikan itu acapkali berasal dari sapaan dalam dada. Dada yang tenang, jiwa yang sehat, akal yang bersih, serta kemauan untuk mengamalkannya dengan benar. Ketenangan sejati adalah mahalnya diri untuk mempersembahkan usaha-usaha maksimal penuh potensi pencapaian ekspektasi keimanan dan ekstase kebahagiaan. Bukanlah sebuah usaha maksimal yang akhirnya menjadikan misi-misi kegalauan dari hembusan syaithan menerkam semakin tertular.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana sebuah ucapan seorang salaf Khalid bin Mi’dan, “Jika pintu kebaikan dibukakan untuk anda, maka bergegaslah menuju kesana. Karena anda tidak tahu kapan pintu itu akan ditutup.” (Hilyatul Auliyaa 5/211)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/11/16/habis-galau-terbitlah-tenang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekalipun Awalnya Keterpaksaan</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/11/12/sekalipun-awalnya-keterpaksaan.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/11/12/sekalipun-awalnya-keterpaksaan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 06:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulek Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Sufyan]]></category>
		<category><![CDATA[Abwa']]></category>
		<category><![CDATA[Al Abbas]]></category>
		<category><![CDATA[ALi bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Fathul Makkah]]></category>
		<category><![CDATA[Umayyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Salamah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[

Ada banyak hal yang menjadikan seseorang dapat mendapatkan hidayah kedalam dirinya secara umum. Memang selalu ada saja pelajaran yang dapat diambil dari kisah perjalanan orang-orang sebelum kita. Tentang romansa cinta, jejak kebahagiaan, ataupun semangat-semangat menyala penuh keberanian. Semestinya kisah-kisah tersebut dapat menjadi kaca spion terbaik bagi diri kita. Untuk menyamaratakan bahwa bukan kali ini kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://tetapbergerak.files.wordpress.com/2009/06/sujud.jpg" alt="" width="320" height="285" /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ada banyak hal yang menjadikan seseorang dapat mendapatkan hidayah kedalam dirinya secara umum. Memang selalu ada saja pelajaran yang dapat diambil dari kisah perjalanan orang-orang sebelum kita. Tentang romansa cinta, jejak kebahagiaan, ataupun semangat-semangat menyala penuh keberanian. Semestinya kisah-kisah tersebut dapat menjadi kaca spion terbaik bagi diri kita. Untuk menyamaratakan bahwa bukan kali ini kita saja yang berbahagia ataupun yang nelangsa.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-33"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Abu Sufyan, ketika situasi tidak memungkinkan dirinya untuk berbuat banyak demi menghancurkan Islam pupus, ketika makar Darun Nadwah dan persekongkolan penuh konspirasinya hilang hangus, ketika ia lolos dari terbunuhnya di tangan seorang kaum muslimin yang menjadikan dirinya tidak bisa mengikuti jejak Abu Jahl kawan satu levelnya, ketika pergulatan batinnya untuk membungkam Muhammad musuh nomor wahidnya tak tembus. Allah Maha Berkehendak atas dirinya. Fathu Makkah menjadi saksi bahwa segala yang Allah kehendaki terjadi maka akan terjadi atas izin Allah Ta’ala. Keterjadian yang juga pernah dirasakan oleh Abu Hafsh Umar bin Khattab.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Di Abwa’ sebelum memasuki Makkah, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bertemu dengan Abdullah bin Abi Umayyah dan Ibnu Harits. Namun beliau berpaling dari mereka berdua mengingat betapa hebatnya, betapa sengitnya, betapa kerasnya permusuhan dan kejahatan yang mereka lakukan dari masa ke masa, darah ke darah, dan perang ke perang kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam serta kaum muslimin. Namun Ummu Salamah berkata kepada beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam: “janganlah sampai putra paman dan bibi anda menjadi orang yang celaka karena anda.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beliau sampai di suatu tempat yang bernama Marra Dhahraan, dekat dengan Makkah, beliau memerintahkan pasukan untuk membuat obor sejumlah pasukan. Beliau juga mengangkat Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> sebagai penjaga.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu, Abbas berangkat menuju Makkah dengan menaiki bighal (peranakan kuda dan keledai) milik Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Beliau mencari penduduk Makkah agar mereka keluar menemui Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> dan meminta jaminan keamanan, sehingga tidak terjadi peperangan di negeri Makkah. Tiba-tiba Abbas mendengar suara Abu Sufyan dan Budail bin Zarqa’ yang sedang berbincang-bincang tentang api unggun yang besar tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada apa dengan dirimu, wahai Abbas?” tanya Abu Sufyan</p>
<p style="text-align: justify;">“Itu Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> di tengah-tengah orang. Demi Allah, amat buruklah orang-orang Quraisy. Demi Allah, jika beliau mengalahkanmu, beliau akan memenggal lehermu. Naiklah ke atas punggung bighal ini, agar aku dapat membawamu ke hadapan Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>, lalu meminta jaminan keamanan kepada beliau!” jawab Abbas.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, Abu Sufyan pun naik di belakangku. Kami pun menuju tempat Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Ketika melewati obornya Umar bin Khattab, dia pun melihat Abu Sufyan. Dia berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">“Wahai Abu Sufyan, musuh Allah, segala puji bagi Allah yang telah menundukkan dirimu tanpa suatu perjanjian-pun. Karena khawatir, Abbas mempercepat langkah bighalnya agar dapat mendahului Umar. Mereka pun langsung masuk ke tempat Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, barulah Umar masuk sambil berkata, “Wahai Rasulullah, ini Abu Sufyan. Biarkan aku memenggal lehernya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Abbas pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, aku telah melindunginya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> bersabda, “Kembalilah ke kemahmu wahai Abbas! Besok pagi, datanglah ke sini!”</p>
<p style="text-align: justify;">Esok harinya, Abbas bersama Abu Sufyan menemui Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Beliau bersabda,”Celaka wahai Abu Sufyan, bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah?”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sufyan mengatakan,“Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu. Jauh-jauh hari aku sudah menduga, andaikan ada sesembahan selain Allah, tentu aku tidak membutuhkan sesuatu apa pun setelah ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> bersabda,”Celaka kamu wahai Abu Sufyan, bukankah sudah saatnya kamu mengakui bahwa aku adalah utusan Allah?”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sufyan menjawab,”Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu, kalau mengenai masalah ini, di dalam hatiku masih ada sesuatu yang mengganjal hingga saat ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Abbas menyela, “Celaka kau! Masuklah Islam! Bersaksilah laa ilaaha illa Allah, Muhammadur Rasulullah sebelum beliau memenggal lehermu!” Akhirnya Abu Sufyan-pun masuk Islam dan memberikan kesaksian yang benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanggal 17 Ramadhan 8 H, Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> meninggalkan Marra Dzahran menuju Makkah. Sebelum berangkat, beliau memerintahkan Abbas untuk mengajak Abu Sufyan menuju jalan tembus melewati gunung, berdiam di sana hingga semua pasukan Allah lewat di sana. Dengan begitu, Abu Sufyan bisa melihat semua pasukan kaum muslimin. Maka Abbas dan Abu Sufyan melewati beberapa kabilah yang ikut gabung bersama pasukan kaum muslimin. Masing-masing kabilah membawa bendera. Setiap kali melewati satu kabilah, Abu Sufyan selalu bertanya kepada Abbas, “Kabilah apa ini?” dan setiap kali dijawab oleh Abbas, Abu Sufyan senantiasa berkomentar, “Aku tidak ada urusan dengan bani Fulan.” Setelah agak jauh dari pasukan, Abu Sufyan melihat segerombolan pasukan besar. Dia lantas bertanya, “Subhanallah, wahai Abbas, siapakah mereka ini?”</p>
<p style="text-align: justify;">Abbas menjawab: “Itu adalah Rasulullah bersama muhajirin dan anshar.” Abu Sufyan bergumam, “Tidak seorang-pun yang sanggup dan kuat menghadapi mereka.”</p>
<p style="text-align: justify;">Abbas berkata: “Wahai Abu Sufyan, itu adalah Nubuwah.” Bendera Anshar dipegang oleh Sa’ad bin Ubadah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Ketika melewati tempat Abbas dan Abu Sufyan, Sa’ad berkata, “Hari ini adalah hari pembantaian. Hari dihalalkannya tanah al haram. Hari ini Allah menghinakan Quraisy.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika ketemu Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>, perkataan Sa’ad ini disampaikan kepada Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Beliau pun menjawab, “Sa’ad keliru, justru hari ini adalah hari diagungkannya Ka’bah dan dimuliakannya Quraisy oleh Allah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> memerintahkan agar bendera di tangan Sa’d diambil dan diserahkan kepada anaknya, Qois. Akan tetapi, ternyata bendera itu tetap di tangan Sa’d. Ada yang mengatakan bendera tersebut diserahkan ke Zubair dan ditancapkan di daerah Hajun.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> melanjutkan perjalanan hingga memasuki Dzi Thuwa. Di sana Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> menundukkan kepalanya hingga ujung jenggot beliau yang mulia hampir menyentuh pelana. Hal ini sebagai bentuk tawadlu’ beliau kepada Sang Pengatur alam semesta. Di sini pula, beliau membagi pasukan. Khalid bin Walid ditempatkan di sayap kanan untuk memasuki Makkah dari dataran rendah dan menunggu kedatangan Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> di Shafa. Sementara Zubair bin Awwam memimpin pasukan sayap kiri, membawa bendera Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> dan memasuki Makkah melalui dataran tingginya. Beliau perintahkan agar menancapkan bendera di daerah Hajun dan tidak meninggalkan tempat tersebut hingga beliau datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> memasuki kota Makkah dengan tetap menundukkan kepala sambil membaca firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”</em> (Qs. Al Fath: 1)</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau mengumumkan kepada penduduk Makkah, “Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.”</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau terus berjalan hingga sampai di Masjidil Haram. Beliau thawaf dengan menunggang onta sambil membawa busur yang beliau gunakan untuk menggulingkan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah yang beliau lewati. Saat itu, beliau membaca firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”</em> (Qs. Al-Isra’: 81)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.”</em> (Qs. Saba’: 49)</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> memasuki Ka’bah. Beliau melihat ada gambar Ibrahim bersama Ismail yang sedang berbagi anak panah ramalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau bersabda, “Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah, sekali-pun Ibrahim tidak pernah mengundi dengan anak panah ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, beliau perintahkan untuk menghapus semua gambar yang ada di dalam Ka’bah. Kemudian, beliau shalat. Seusai shalat beliau mengitari dinding bagian dalam Ka’bah dan bertakbir di bagian pojok-pojok Ka’bah. Sementara orang-orang Quraisy berkerumun di dalam masjid, menunggu keputusan beliau <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan memegangi pinggiran pintu Ka’bah, beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia dari Adam dan Adam dari tanah.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangankan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Merekapun menjawab, “Yang baik-baik, sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Ali bin Abi Thalib berkata kepada Abu Sufyan: “Datangilah Rasulullah dari depan. Berkatalah kepadanya seperti perkataan-perkataan saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alayhis salam: “Mereka berkata: &#8220;Demi Allah, Sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas Kami, dan Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)&#8221;. (QS. Yusuf : 91). Maka Abu Sufyan pun melakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau bersabda, “Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ (QS. Yusuf : 92) Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu Abu Sufyan pun melantunkan syairnya penuh makna:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Demi umurmu, sungguh ketika aku membawa bendera</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Agar prajurit Latta mengalahkan tentara Muhammad</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Bagai orang Mudlij yang kebingungan diselimutiu kegelapan malam</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Inilah waktuku ketika hidayah dating lalu aku menyambutnya</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aku diberi hidayah oleh Haadi (Sang Pemberi Hidayah) bukan diriku, dan aku ditunjuki</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kepada Allah, oleh dia yang dahulu kuusir dengan sebenar-benarnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar hal ini, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam menepuk dadanya sambil berkata: “Engkaulah yang telah mengusirku dengan sebenar-benarnya.” Sejak saat itulah Nabi mendoakan Abu Sufyan “Saya berharap dia bisa menjadi pengganti Hamzah -<em>radhiyallahu ‘anhu</em>-” dan menjadi baiklah sang arsitek penghancur ketika kafirnya menjadi sang pembela Allah beserta Nabi-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam. Bahkan ketika wafatnya, Abu Sufyan berpesan pada keluarganya: “Janganlah kalian tangisi aku, karena demi Allah! Aku tidak pernah berbuat dosa sejak aku masuk Islam.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Begitulah Sapaan Hidayah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah sapaan hidayah, kala kemusykilan dihapus oleh cahaya kebenaran dan keimanan. Berawal dari situasi yang tak ada pilihan lain selain mengambil hidayah tersebut, menjadi akhir dari sebuah jawaban yang indah untuk sosok terjahat sekalipun. Yakinlah, terkadang anggapan buruk yang tersematkan pada seseorang yang dibenci bisa menjadi sebuah jalan betapa jika Allah telah berkehendak atas sesuatu menjadi mudah terbalik segalanya. Tak masuk akal memang. Namun kenyataan terkadang berbicara lain dari apa yang direncanakan. Sejarah telah mencatat bagaimana manusia-manusia terjahat menamatkan riwayatnya dengan bejana kebaikan dan janji surga, sejarah Islam telah terpenuhi dengan sosok-sosok Umar bin Khattab serta Abu Sufyan yang keburukannya terhapus oleh doa Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam. Maka begitulah hidayah, adakalanya suatu keterpaksaan menjadi sebuah keindahan, dan sebuah kebencian ditutup oleh haru kebahagiaan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Maka sudah sepantasnyalah sosok-sosok yang mengerti hari-hari ini untuk mengajak dengan penuh kesabaran dan doa-doa terpanjatkan penuh keihlasan atas apa yang diharapkan dari yang dicinta. Kala orang tua belum memahami Islam dengan sebaik-baiknya, kala suami atau istri tercinta masih jauh dari apa yang diharapkan atas keimanannya, kala anak menjauh dari perencanaan kehidupan beragama, atau kala diri sendiri merasa gersang dengan aktivitas. Tak hanya sekedar untuk merenungi realita di depan mata akan kebobrokan suatu masa, tapi mencoba bergerak dengan perlahan dan punya tujuan pasti. Setiap orang memiliki fitrah yang condong kepada kebaikan. Ajaklah dengan usaha dan kemampuan yang dimiliki, “Barangsiapa yang mengajak kepada hidayah (Kebaikan) maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya dan pahala tersebut tidak kurang sama sekali. “ (HR. Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Yakinlah, bahwa setiap usaha akan mendapatkan hasil, dan terkadang usaha itu membutuhkan waktu yang lama. “Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.” (QS. Al Kahfi : 30)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pelajaran tadi telah menjadi bukti kerasnya hati Abu Sufyan dapat takluk dengan kelembutan usaha-usaha orang-orang yang sabar disekitarnya, disana ada Al Abbas bin Abdul Mutthalib dan Ali bin Abi Thalib. Sekali lagi, perubahan selalu membutuhkan bimbingan, dan setiap perubahan selalu memiliki hajat atas kesabaran. Sekeras batu yang terkikis oleh air.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/11/12/sekalipun-awalnya-keterpaksaan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbakti Kepadanya</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/11/10/berbakti-kepadanya.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/11/10/berbakti-kepadanya.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 08:02:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulek Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Mas'ud]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Hurairah]]></category>
		<category><![CDATA[birul walidain]]></category>
		<category><![CDATA[chemoreceptor trigger zone (CTZ)]]></category>
		<category><![CDATA[HCG (Human Corionic  Gonadotropin)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim…

 
Dari Abu Hurairah radhiyallohu’anhu dikisahkan, Rasululloh Shalallohu’Alaihi Wassalam pernah ditanya oleh seseorang yang ketika itu datang kepada beliau, “Ya Rosululloh..siapakah manusia yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari ku?”. Dan Rosululloh menjawab, “Ibumu…”. Orang tersebut kemudian bertanya lagi, “Siapa lagi ya Rosul?”. Rosul menjawab, “Ibumu..”. “Kemudian siapa lagi ya Rosul?”. “Ibumu….”. “Lalu siapa lagi..?”. “Ayahmu….dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Bismillahirrahmanirrahim…</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-19  aligncenter" title="15ROSERAIN" src="http://rujakkata.com/wp-content/uploads/2009/11/15ROSERAIN.gif" alt="15ROSERAIN" width="215" height="163" /></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Hurairah radhiyallohu’anhu dikisahkan, Rasululloh Shalallohu’Alaihi Wassalam pernah ditanya oleh seseorang yang ketika itu datang kepada beliau,<em> “Ya Rosululloh..siapakah manusia yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari ku?”</em>. Dan Rosululloh menjawab, <em>“Ibumu…”</em>. Orang tersebut kemudian bertanya lagi, <em>“Siapa lagi ya Rosul?”</em>. Rosul menjawab, <em>“Ibumu..”. “Kemudian siapa lagi ya Rosul?”. “Ibumu….”</em>. “<em>Lalu siapa lagi..?”. “Ayahmu….dan kemudian saudara-saudarmu…”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Ibu..Bunda..Mama..Emak..Ummi… Siapapun kita memanggilnya…mereka adalah pahlawan kita!! Dan sungguh.. Islam telah memuliakan seorang wanita tangguh bernama ibu..yang namanya telah disebutkan oleh Rosulullah Shallallohu’Alaihi Wassalam dalam hadist tersebut diatas…</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-18"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ibu…. Tak pernah terhitung, berapa kali nama itu (dan penyebutan lainnya) disebut, dalam hitungan detik, menit, jam bahkan hari diseluruh sudut bumi ini. Nama yang menetramkan setiap kali disebut manakala hati dan jiwa kita merasa galau.. Nama yang membuat rindu manakala kita jauh darinya…. Nama yang akan selalu ada dan tinggal di hati kita….</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Wajahnya yang teduh..suara yang lembut…sentuhan yang menghangatkan…nasehat yang menguatkan…dan senyuman yang menenangkan…. Sungguh… semua yang ada didalam diri beliau tidak akan pernah tergantikan oleh sosok manusia manapun atau bahkan tambatan hati kita sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh.. Islam adalah agama yang sempurna. Salah satu bentuk kesempurnannya adalah dengan adanya pengaturan bagaimana seorang anak bermuamalah dengan kedua orangtuanya. Berbakti, mengabdi, dan berbuat baik kepada mereka berdua adalah suatu kewajiban yang mungkin saat ini telah luntur dalam ingatan anak-anak atau bahkan telah dilupakan seiring kemajuan jaman??</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ingatlah firman ALLOH di dalam surat Luqman ayat 14 :</p>
<p style="text-align: justify;">“ <em>Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya</em>…..”</p>
<p style="text-align: justify;">ALLOH Azza Wa’Jalla telah memberitakan  secara jelas dan tegas bahwa setiap manusia pada umumnya, dan setiap anak pada khususnya wajib berbuat baik kepada setiap orangtua, kepada ibu-bapak mereka. Adapun kewajiban berbuat baik disini adalah meliputi semua perkara-perkara kebaikan baik ucapan maupun perbuatan secara maknai maupun nyata (Birul Walidain). Dan tentunya, kewajiban dalam perkara ini tidak bertentangan dengan perintah ALLOH.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun hadist yang menjelaskan bagaimana kedudukan dan keutamaan  birul walidain yakni, Dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallohu’anhu, Rasululloh Shallallohu’Alaihi Wassalam pernah ditanya, <em>“ya Rosul..Amalan apakah yang paling dicintai oleh ALLOH?”</em>. Dan  Beliau menjawab : <em>“ Shalat tepat pada waktunya..”.</em> Kemudian beliau ditanya lagi,<em>“ Lalu apalagi ya Rosul?” </em>Rosul menjawab : <em>“ Birul Walidain…”.</em> Dan beliaupun ditanya kembali, <em>“Kemudian apa ya Rosul?”. </em>Beliaupun menjawab: <em>“ Jihad Fi Shabilillah..”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan lihatlah wahai ikhwah fillah…bagaimana kedudukan dari birul walidain itu. Baginda Nabi menempatkan perkara itu setelah shalat dan sebelum jihad!!</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa? Karena shalat adalah hak ALLOH atas hambaNya dan itu merupakan kewajiban yang utama bagi seorang hamba. Adapun birul walidain itu memiliki keutamaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jihad fi sabilillah, karena itulah Rosul menempataknnya diatas jihad. Bila Rosul tidak mengetahui keutamaan yang jauh lebih tinggi dan juga istimewa tentang birul walidain, tentu beliau akan menyebutkan perkara jihad terlebih dahulu  dibandingkan perkara birul walidain (karena jihad bagi kaum muslimin memiliki keutamaan yang sangat besar). Sungguh…segala perkataan Rosulullah adalah benar!</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa kita sadari, ada perkara “mudah” dan mungkin sering kita lalaikan padahal perkara itu bisa mengatarkan kita semua pada suatu keutamaan dan juga kemulian. Keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jihad  yang mungkin bagi kita (kaum muslimah tentunya tidak bisa mendapatkannya)</p>
<p style="text-align: justify;">Ya..birul walidain..berbuat baik kepada kedua orang tua kita sepanjang hayat kita… Subhanallah…..nikmat yang senantiasa terlupakan…..</p>
<p style="text-align: justify;">Terkait dengan perkara berbuat baik kepada kedua orangtua kita, Rasululloh telah memberikan contoh kepada kita semua, bagaimana kita berbuat baik kepada ke-2 orangtua kita. Telah disebutkan pada hadist pertama di atas..bahwa yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari seorang anak adalah orangtuanya, dimana ibu memliliki kedudukan yang 3x jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ayah!</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mengapa Rosulullah menyebut nama IBU sampai 3 kali?? Sementara ayah dan saudara-saudara itu disebut 1 kali dan penyebutannya setelah ibu??</p>
<p style="text-align: justify;">Hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah  diatas telah memberikan gambaran pada kita bahwa seorang ibu yang mana memiliki keistimewaan luar biasa ini dimuliakan dengan semulia-mulianya manusia yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun mengapa Rosul menyebutkan sampai 3 kali, hal ini terkait oleh 3 perkara yang mendasari yakni,</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.   Karena Ibu yang      mengandung kita selama 9 bulan 10 hari..</strong></p>
<ol style="text-align: justify;"></ol>
<p style="text-align: justify;">Telah disebutkan di dalam Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 14 :</p>
<p style="text-align: justify;">“ Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada  kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu..”</p>
<p style="text-align: justify;">Telah terang didalam firman ALLOH diatas, bagaimana  ALLOH melukiskan kondisi seorang wanita ketika mengandung anak-anaknya. Diatas kelemahan dan kepayahan (walaupun kondisi seorang wanita satu dengan yang lain itu berbeda-beda).Seorang ibu tetap berjuang untuk merawat dan menjaga benih yang ada di dalam rahimnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika setetes mani telah berhasil membuahi sebuah ovum, maka atas ijinNya dalam waktu singkat terjadilah berbagai fase dari proses pembentukan manusia. Fase-fase itulah akan menimbulkan kondisi yang jauh berbeda bagi seoranng wanita. Dimulai dengan perubahan kadar hormonal tubuh, kondisi fisik dan kondisi psikologisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adanya perubahan kadar hormonal tubuh, dimana nantinya plasenta si janin akan mengeluarkan suatu hormon bernama HCG (Human Corionic  Gonadotropin) yang kadarnya akan meningkat diawal-awal kehamilan. Lalu apa akibatnya dari peningkatan kormon ini? Morning Sickness atau yang lebih familiar adalah mual dan muntah di pagi hari. Mengapa demikian? Karena diduga hormone hCG ini merangsang pusat mual dan muntah di chemoreceptor trigger zone (CTZ) di hipotalamus (bagian pada otak). Adanya perangsangan inilah yang membuat ibu-ibu yang tengah hamil muda cenderung merasakan mual yang amat sangat, tiap kali makan akan dimuntahkan kembali, hingga mereka merasakan kepayahan dan kelemahan. Bahkan mungkin, karena makanan tidak dapat masuk sama sekali melalui mulut, sang ibu dengan ikhlas merelakan sebuah jarum infus menembus venanya dan sungguh hal ini merupakan sebagian bentuk cintanya kepada calon anaknya… Subhanallah….</p>
<p style="text-align: justify;">Belumlah cukup rasa kelemahan fisik yang dirasakan oleh si ibu akibat perubahan kadar hormonal itu, ditambah lagi dengan kelemahan psikologisnya. Kondisi psikologis seorang wanita yang tengah hamil, sedikit banyak akan berubah berubah. Mungkin si ibu menjadi lebih sensitive, lebih sabar, lebih manja, lebih gampang marah, lebih gampang meneteskan air mata, atau bahkan lebih ‘aneh’ karena ngidam?? Wallohu’alam….</p>
<p style="text-align: justify;">Dan semakin bertambah usia kehamilannya, semakin berat pula “beban” yang harus ditanggungnya. Membawa buah cinta kemanapun beliau pergi. menjaganya dengan penuh kehati-hatian, merelakan malam-malamnya dengan “kenyamanan ala kadarnya” karena sulitnya mengatur posisi tidur. Tengkurap tidak bisa, miring ke kanan atau kekiri akan terasa capek, terlentang tidak nyaman. Belum lagi ketika sedang sedikit terlelap, tiba-tiba sang jagoan kecil menyapanya dengan sentuhan-sentuhan yang mengejutkan, berputar-putar mengelilingi “rumahnya” atau dengan tendangan-tendangan yang cukup membuat sang ibu menahan sakit.Tapi, apakah mereka protes? Tidak!!</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka akan tersenyum dan menyentuh dengan penuh cinta sang buah hati dan mengajaknya berkomunikasi…dalam kelelahan…mereka masih tersenyum bahagia… Subhanallah….</p>
<p style="text-align: justify;">Masa-masa sulit itu belumlah berakhir wahai saudaraku… Ketika harinya telah tiba… disaat sang bayi meminta untuk dilahirkan kedunia… Dengan sakit yang teramat sangat, beliau memulai perjuangan yang panjang.. Perjuangan dengan taruhan nyawa!!! Dengan segala risiko kelahiran yang telah siap “menunggu” dibelakangnya…prediksi kelahiran yang semula normal..bisa tiba-tiba saja berubah dalam sepersekian second!! Posisi bayi yang sungsang..tekanan darah yang tiba-tba tinggi (eklamsia).. tidak ada tenaga..perdarahan…solusio plasenta ..plasenta akreta ..ketuban pecah dini..semua itu bisa mengancam nyawa si ibu!! Kapanpun bila ALLOH berkendak…</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.   Karena Ibu yang merawat….</strong></p>
<ol style="text-align: justify;"></ol>
<p style="text-align: justify;">Belumlah selesai perjuangan sang ibu…post partum (pasca melahirkan), Ibu harus langsung menyusui, memberikan ASI pertamanya kepada sang buah hati. Apalagi dengan adanya program IMD (inisiasi menyusu dini) ya karena ASI pertama mengandung banyak collostrum dan zat gizi penting lainnya yang sangat berguna dan menjadi “modal” bagi sang buah hati dalam kehidupannya kelak. Bayangkanlah wahai saudaraku..dalam kelelahan pasca melahirkan dengan sisa-sisa tenaga yang ada…beliau masih mempedulikan buah hatinya………Subhanallah…</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak hanya menyusui,ibu juga dengan penuh senyum melayani segala kebutuhan sang anak. Dia harus merelakan malam-malamnya untuk terjaga dan menggendong anaknya ketika menangis, menina-bobokan hingga sang anak terlelap kembali, menyusui ketika lapar, mengganti popoknya ketika sang anak kencing dan BAB, memandikannya, juga melakukan hal-hal “kecil” yang menakjubkan bagi si kecil…menyentuhnya dengan penuh cinta!</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lagi ketika sang buah hati tiba-tiba jatuh dalam keadaan sakit. Segala rasa gundah, cemas, khawatir, sedih..bercampur jadi satu.. mau makan ndak enak..tidur apalagi?! Anak..anak..dan anak…..!! Itulah yang terpenting baginya….</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.   Seorang Ibu adalah      pengasuh  bagi anak-anaknya..</strong></p>
<ol style="text-align: justify;"></ol>
<p style="text-align: justify;">“Rumah adalah madrasah pertama bagi seorang anak..” begitulah bunyi ungkapan kata hikmah serta bijak yang menggambarkan betapa semua dan semula bermuara pada rumah. Bangsa besar dimulai dari bangunan rumah yang besar. Bangunan tersebut bukanlah bangunan rumah dengan pencakar langit atau pengeruk luas bumi. Melainkan fondasi keimanan, saling sinergi yang menyatukan nilai-nilai harmoni.</p>
<p style="text-align: justify;">Madrasah dengan “guru” yang super jenius yang tidak akan pernah dijumpai di madrasah atau sekolah-sekolah favorit lainnya.. Ibu..dialah guru itu. Beliaulah yang pertama mengajari sang buah hati tentang segala sesuatu.  Pelajaran pertama yang hendaknya sang ibu berikan adalah pengajaran mengenai dienNya. Disinilah sang ibu hendaknya pertama mulai mengenalkan anaknya pada ALLOH, Rabb Sang Pencipta. Mengajarkan lafadz ALLOH sambil mengisyaratkan menunjuk ke atas, membiasakan membaca basmallah ketika hendak melakukan sesuatu, juga mengajarkan hal-hal kecil yang nantinya akan diingat si anak sampai besar kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan telah terang bagi kita, mengapa Rosululloh menyebutkan “ibu” pertama kali yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari seorang anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibu yang pastinya, semua anak mencintainya, menyayanginya, membanggakannya….</p>
<p style="text-align: justify;">Dan detik ini..tenggoklah wanita separuh baya di sudut rumah cinta kita…</p>
<p style="text-align: justify;">Yang sedang asyik menyapu, mengepel, menyuci, memasak, duduk tertidur karena kelelahan… beliau ..yang kita panggil “IBU”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sudahkah kau menyapanya hari ini? Sudahkah kau melayani keperluannya hari ini?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">*catatan juli &#8216;08</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/11/10/berbakti-kepadanya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perubahan Selalu Membutuhkan Bimbingan</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/11/09/perubahan-selalu-membutuhkan-bimbingan.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/11/09/perubahan-selalu-membutuhkan-bimbingan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 02:30:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulek Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Thalhah]]></category>
		<category><![CDATA[Anas bin Malik]]></category>
		<category><![CDATA[Malik bin Nadhlar]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah.]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Sulaim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[

Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah. Seorang wanita Bani Khazraj yang masuk Islam di awal-awal. Parasnya yang cantik dan akhlaknya yang baik mendorong para pria di masanya memperebutkan dirinya untuk memperistri. Ia menikah dengan Malik bin Nadhlar, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: centre;"><img class="aligncenter" src="http://www.zubeyr-kureemun.com/SaudiArabia/Mosques%20of%20Medina/054.jpg" alt="" width="253" height="217" /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah. Seorang wanita Bani Khazraj yang masuk Islam di awal-awal. Parasnya yang cantik dan akhlaknya yang baik mendorong para pria di masanya memperebutkan dirinya untuk memperistri. Ia menikah dengan Malik bin Nadhlar, yang darisana lahirlah seorang pembantu Rasulullah terbaik pada masanya, dan seorang yang Rasulullah pernah doakan agar memiliki keberkahan umur dan banyaknya keturunan. Anak itu bernama Anas bin Malik.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-13"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Seiring dengan cahaya nubuwwah dan dakwah tauhid menyapa mereka-mereka yang berakal sehat dan fitrah yang lurus menghampiri hati setiap orang yang mendengar dan mempelajarinya. Tak terkecuali dengan Ummu Sulaim. Ia masuk Islam dengan kokoh sekalipun sang suami menentangnya. Suaminya menentang ke-Islaman Ummu Sulaim hingga akhirnya sang suami meninggalkannya karena merasa sang istri sudah keras kepala. Ada percakapan kemarahan sang suami yang dibantah dengan jawaban kecerdasan penuh kebijakan nan memenangkan. Kemarahan Malik suaminya yang baru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, “Apakah engkau murtad dari agamamu?”. Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab: ”Tidak, bahkan aku telah beriman”.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika beliau menuntun Anas (putra beliau) sembari mengatakan: “Katakanlah La ilaha illallah.” (Tidak ada ilah yang haq kecuali Allah). Katakanlah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) kemudian Anas mau menirukannya. Akan tetapi ayah Anas mengatakan, “Janganlah engkau merusak anakku”. Maka beliau menjawab: “Aku tidak merusaknya akan tetapi aku mendidik dan memperbaikinya”. Indah, begitulah semestinya seorang ibu, memiliki sikap dan tekad untuk mendidik anaknya dengan cermat dan menentukan apa yang tepat bagi kebaikan agamanya. Para pendahulu mengajarkan bahwasanya kebaikan bagi seorang ibu adalah terlihat dengan bagaimana kondisi sang anak. Bila sang anak terdidik dengan baik, maka tentulah ia lahir dari seorang ibu yang baik pula. Tidaklah suatu kebaikan melainkan Islam telah mengajarkannya dengan sempurna. <em>“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”</em> (QS. Al Baqarah : 110)</p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan waktu selalu tak menentu, hanya yang dapat mengatur dengan baiklah mereka-mereka yang bisa menjadi pemenangnya. Sang suami pun akhirnya terbunuh dalam sebuah peperangan. Setelah kegengsian dirinya yang tak mau masuk Islam pasca meninggalkan seorang istri mulia serta anak yang dibangga. Babak baru kehidupan Ummu Sulaim pun berlanjut, ia bertekad untuk membesarkan sang anak dengan perkataannya, ““Aku tidak akan menyampih Anas sehingga dia sendiri yang memutusnya, dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku”. Lalu ia menyerahkan Anas kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam agar dijadikan pembantu sekaligus dapat menimba ilmu sebanyak-banyaknya kepada tauladan terbaik bagi ummatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang bercerita tentang ketegaran hati dan kesabaran juga mulianya ibu dan anak ini. Terdengarlah berita ini ke telinga Zaid bin Sahal an-Najjary atau yang populer dengan nama Abu Thalhah, seorang berstatus sosial tinggi, kaya raya, serta terkenal sebagai penunggang kuda yang cekatan di kalangan Bani Najjar, selain itu juga pemanah jitu dari Yatsrib yang harus diperhitungkan..</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menginginkan Ummu Sulaim karena telah mengetahui bahwasanya Ummu Sulaim memiliki kecakapan akhlak dan perangai disertai sifat-sifat wanita yang mulia. Berbeda jauh mungkin dengan saat ini, ketika para pemuda tertarik dengan gadis dengan paras yang lebih didahulukan dan agama dikebelakangkan. Dengan semangat sekarang atau tidak sama sekali, Abu Thalhah tahu sudah banyak pria yang berharap pula untuk memperistri Ummu Sulaim. Maka Abu Thalhah memberanikan diri untuk menemui Ummu Sulaim dengan harapan dapat menerima pinangannya. Dengan didampingi sang putra, diperkenankanlah Abu Thalhah untuk masuk kerumah dan menyampaikan maksud kedatangannya. Namun berbalik arah kapal yang dilaju oleh Abu Thalhah. Ummu Sulaim menolaknya dengan ucapan, &#8220;Sesungguhnya laki-laki seperti Anda, wahai Abu Thalhah, tidak pantas saya tolak lamarannya. Tetapi aku tidak akan kawin dengan Anda, karena Anda kafir.&#8221; Abu Thalhah terpaksa menggigit jari atas penolakan tersebut, pupus sudah rasa percaya diri atas criteria yang ia miliki. Popularitas dan materi tak berarti di hadapan Ummu Sulaim hanya karena sang peminang masih sebagai seorang musyrik. Abu Thalhah tetap penasaran dengan persangkaan ada laki-laki lain di hati Ummu Sulaim.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Abu Thalhah mencoba untuk menanyakannya kepada Ummu Sulaim, &#8220;Demi Allah! Apakah sesungguhnya yang menghalangi engkau untuk menolak lamaranku, hai Ummu Sulaim?&#8221; Jawab Ummu Sulaim, &#8220;Tidak ada, selain itu.&#8221;  Tanya Abu Thalhah, &#8220;Apakah yang kuning ataukah yang putih &#8230;? Emas atau perak?&#8221;  Ummu Sulaim balik bertanya, &#8220;Emas atau perak &#8230;?&#8221;  &#8220;Ya, emas atau perak?&#8221; jawab Abu Thalhah menegaskan. Kata Ummu Sulaim, &#8220;Kusaksikan kepada Anda, hai Abu Thalhah, kusaksikan kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya jika engkau Islam, aku rela Anda menjadi suamiku tanpa emas dan perak, cukuplah emas itu menjadi mahar bagiku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar ucapan dari Ummu Sulaim tersebut, Abu Thalhah teringat akan patung sembahannya yang terbuat dari kayu bagus dan mahal. Patung itu khusus dibuatnya untuk pribadinya, seperti kebiasaan bangsawan-bangsawan kaumnya, Bani Najjar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ummu Sulaim telah bertekad hendak menempa besi itu selagi masih panas (mengislamkan Abu Thalhah). Sementara Abu Thalhah terbengong-bengong melihat berhala sesembahannya, Ummu Sulaim melanjutkan bicaranya, &#8220;Tidak tahukah Anda, wahai Abu Thalhah, patung yang Anda sembah itu terbuat dari kayu yang tumbuh di bumi?&#8221; Tanya Ummu Sulaim.&#8221;Ya, Betul!&#8221; jawab Abu Thalhah. &#8220;Apakah Anda tidak malu menyembah sepotong kayu menjadi Tuhan, sementara potongannya yang lain Anda jadikan kayu api untuk memasak? Jika Anda masuk Islam, hai Abu Thalhah, aku rela engkau menjadi suamiku. Aku tidak akan meminta mahar darimu selain itu,&#8221; kata Ummu Sulaim. &#8220;Siapakah yang harus mengislamkanku?&#8221; Tanya Abu Thalhah. &#8220;Aku bisa,&#8221; jawab Ummu Sulaim.  &#8220;Bagaimana caranya?&#8221; tanya Abu Thalhah. &#8220;Tidak sulit. Ucapkan saja kalimat syahadah! Saksikan tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah. Sesudah itu pulang ke rumahmu, hancurkan berhala sembahanmu, lalu buang!&#8221; kata Ummu Sulaim menjelaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Thalhah tampak gembira. Lalu, dia mengucapkan dua kalimat syahadah. Sesudah itu Abu Thalhah menikah dengan Ummu Sulaim. Mendengar kabar Abu Thalhah menikah dengan Ummu Sulaim dengan maharnya Islam, maka kaum muslimin berkata, &#8220;Belum pernah kami mendengar mahar kawin yang lebih mahal daripada mahar kawin Ummu Sulaim. Maharnya ialah masuk Islam. Sejak hari itu Abu Thalhah berada di bawah naungan bendera Islam. Segala daya yang ada padanya dikorbankan untuk berkhidmat kepada Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ada Kerja Dan Bahagia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah usaha, selalu menampakkan sisi bahagia di akhirnya. Seseorang bisa saja merasa percaya diri dan berani atas apapun kehendaknya. Namun kehendak terbesar berada di tangan Allah. Sapaan hidayah adalah sapaan akrab dan penuh pesona. Menarik setiap akal sehat yang penuh rona. Tak terkecuali bagi Abu Thalhah dan Ummu Sulaim yang banyak catatan sejarah mengisi hari-harinya. Keislaman Abu Thalhah adalah eksistensi pencapaian tekad untuk berubah. Perubahan selalu membutuhkan bimbingan dan panduan. Maka kelak tidak akan mungkin seseorang bisa mengikuti kafilah hidayah jika tak ada rombongan yang mengajaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah berapa banyak sapaan mampir di hati-hati ini, dan sudah berapa banyak pula kekerasan dan ego Malik bin Nadhlar selalu menghalangi. Tipu daya dunia telah menghancurkan dan membutakan diri. Sekalipun surga sudah tersaji dan Malik pun mengakui bahwasanya Islam memang sempurna. Tapi sekali lagi, keegoisan meruntuhkan perubahan. Maka tepatlah sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam “<em>Tiga perkara yang merusak jiwa; kebakhilan yang ditaati, pengikut hawa nafsu, dan sombong dengan ketenaran popularitasnya.”</em> (Mushannaf Abdurrozaq, status hasan oleh Al Albani dalam Dhaif Jami’ush Shaghir 12/297).</p>
<p style="text-align: justify;">Maka kecongkakan apalagi yang bisa dibanggakan. Hidayah dalam Islam telah menunjukkan cengkeraman maknanya. Semua berpadu menjadi satu. Siapa yang pernah mulia dalam keadaan kafirnya, maka Islam pun akan memberikan kemuliaan atas dirinya saat ia mau berserah hanya Allah yang berhak untuk diibadahi. Kekuatan cinta Abu Thalhah telah mengubah jalan hidupnya, Keteguhan Ummu Sulaim telah memberikan keberkahan melalui lisan Nabi shallalahu ‘alayhi wa sallam “Semoga Allah memberikan keberkahan pada kalian berdua”. Terakhir, hidayah telah mengajarkan kita bagaimana menjadi mulia setelahnya dan bahagia di akhirnya. Berangkatlah menuju rombongan hidayah agar menjadi bagian darinya. Tak ada celah untuk egoisme dan takjub diri. Berikanlah sedikit sisa untuk kepasrahan dan biarkan keiklasan yang bekerja mencari maknanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Wallahu ‘Alam Bi Shawwab</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/11/09/perubahan-selalu-membutuhkan-bimbingan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
