<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak Kata &#187; Ulek Manis</title>
	<atom:link href="http://rujakkata.com/category/ulek-manis/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujakkata.com</link>
	<description>Kala Kata Berjumpa Makna</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Jun 2010 10:36:50 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Ada Menunggu Dikala Rindu</title>
		<link>http://rujakkata.com/2010/03/03/ada-menunggu-dikala-rindu.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2010/03/03/ada-menunggu-dikala-rindu.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Mar 2010 03:51:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulek Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakr]]></category>
		<category><![CDATA[Hanzhalah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnul Qayyim]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah.]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[

Aku suka mati karena rindu kepada Rabb. Aku suka fakir (miskin) karena tawadhu’ kepada Rabb. Dan aku suka sakit karena itu bisa menghapus kesalahanku. (Hilyatul Auliya : 1/217)

Perkataan tadi keluar dari seorang shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Abu Darda. Salah seorsang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang taqwa nan wara’ dalam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em><img class="aligncenter" title="Menunggu Menetes" src="http://1.bp.blogspot.com/_Yiz02Yn6YZE/SmsW-GlPjPI/AAAAAAAAAGg/wd-klAJbpgs/s400/pembeli+rindu.jpg" alt="" width="191" height="143" /></em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Aku suka mati karena rindu kepada Rabb. Aku suka fakir (miskin) karena tawadhu’ kepada Rabb. Dan aku suka sakit karena itu bisa menghapus kesalahanku.</em> (Hilyatul Auliya : 1/217)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Perkataan tadi keluar dari seorang shahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang mulia. Abu Darda. Salah seorsang sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang taqwa nan wara’ dalam hidupnya. Istiqomah dalam beribadah serta dicintai oleh para sahabat lainnya. Perkataan itu merupakan nasihat yang menyejukkan dan seharusnya menjadi penyejuk jiwa dan pelapang dada atas apa yang terjadi pada setiap muslim. Karena hidup ini adalah siklus. Perputaran kehidupan terus terjadi di gelanggang dunia, setiap orang adakalanya mati, dan ketika itu pula di belahan dunia lain ada yang hidup. Dibelahan dunia barat ada yang fakir, maka disebelah timur tumbuhlah kekayaan yang diskriminan. Terus berputar dan silih berganti. Sebagaimana hari-hari yang diisi oleh matahari terbit dan terbenam berganti bulan bersinar dan menjadi sabit kembali.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-55"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kerinduan adalah asa yang menggelayut dalam dada. Semakin tinggi pautan kerinduan seseorang, maka akan semakin nyata pula tingkat harapan pencapaiannya. Rindu kadang menggelayut dan menorehkan seberkas senyum dalam wajah datar seorang ibu. Disaat menanti kedatangan anaknya setelah merantau sekian lama. Rindu pula menggelayut seorang pemuda dikala asa menggenapkan separuh agama sudah di depan mata, ataukah rindu para pendosa untuk mengakhiri hidupnya diatas sajadah taqwa. Seperti pula senandung rindu istri seorang mujahid yang bersiaga di medan jihad saat Umar bin Khattab mendengar syair kerinduannya, lalu Umar bertanya kepada anaknya Hafshah, soal sampai kapan seorang wanita dapat menahan kerinduan atas suaminya. Rindu itu adalah nyata dan sulit terhapus dalam dada.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Selalu ada nilai dalam momentum kerinduan. Menyibakkan nilai suka dan membakar nilai nestapa. Kadangkala rindu itu tiba dikala aktivitas seseorang terkabulkan oleh Allah atas doanya, dimasa yang sekarang dirindunya. Ketika ia rindu untuk membaca Al Qur’an dan mempunyai keluangan waktu untuk memahami secara mendalam kandungannya, maka rindu itu hadir menyeruak saat ia berada diatas meja kerja ketika kesibukan menyita waktunya. Disaat terbayang momentum indah dari kehidupan yang dirayakan penuh suka cita, maka rindu bisa menjadi obat untuk melepas kepenatan dan kejenuhan yang jemu mendera nilai-nilai hampa.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Handzhalah mengajarkan kita soal bagaimana membayar kerinduan senyatanya. Namanya adalah Hanzhalah Al Asadi, juru tulis pilihan Nabi. Suatu ketika ia berjumpa dengan Abu Bakar Ash Shiddiq. Hanzhalah menuturkan kisahnya, Suatu ketika, aku berjumpa dengan Abu Bakr Ash-Shiddiq radhiallahu &#8216;anhu.   “Ada apa denganmu, wahai Hanzhalah?” tanyanya (dalam riwayat lain ketika itu Hanzhalah melewati hadapan Abu Bakr sambil menangis).</p>
<p style="text-align: justify;">“Hanzhalah ini telah berbuat nifaq,” jawabku.</p>
<p style="text-align: justify;">“Subhanallah, apa yang engkau ucapkan?” tanya Abu Bakr.</p>
<p style="text-align: justify;">“Bila kita berada di sisi Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, beliau mengingatkan kita tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kita bisa melihatnya dengan mata kepala kita. Namun bila kita keluar meninggalkan majelis Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, istri, anak dan harta kita menyibukkan kita, hingga kita banyak lupa / lalai,” kataku.<br />
“Demi Allah, kami juga menjumpai yang semisal itu,” Abu Bakr menanggapi perasaan Hanzhalah. Aku pun pergi bersama Abu Bakar menemui Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam hingga kami dapat masuk ke tempat beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam.<br />
”Hanzhalah ini telah berbuat nifaq, wahai Rasulullah,” kataku.<br />
“Apa yang engkau katakan? Mengapa engkau bicara seperti itu?” tanya beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam. “Wahai Rasulullah, bila kami berada di sisimu, engkau mengingatkan kami tentang neraka dan surga hingga seakan-akan kami dapat melihatnya dengan mata kepala kami. Namun bila kami keluar meninggalkan majelismu, istri, anak dan harta kami (sawah ladang ataupun pekerjaan, –pent.) melalaikan kami, hingga kami banyak lupa/ lalai,” jawabku. Mendengar penuturan yang demikian itu, Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda
</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">“Demi Zat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya kalian tetap berada dalam perasaan sebagaimana yang kalian rasakan ketika berada di sisiku dan selalu ingat demikian, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian di atas tempat tidur kalian dan di jalan-jalan kalian. Akan tetapi wahai Hanzhalah, ada saatnya begini dan ada saatnya begitu.” Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam mengucapkannya tiga kali. (HR. Muslim no. 6900, kitab At-Taubah, bab Fadhlu Dawamidz Dzikr wal Fikr fi Umuril Akhirah wal Muraqabah, wa Jawazu Tarki Dzalik fi Ba’dhil Auqat wal Isytighal bid Dunya).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Dalam riwayat lain disebutkan sabda Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam di atas dengan lafadz “Wahai Hanzhalah, ada saatnya begini, ada saatnya begitu. Seandainya hati-hati kalian senantiasa keadaannya sebagaimana keadaan ketika ingat akan akhirat, niscaya para malaikat akan menjabat tangan kalian, hingga mereka mengucapkan salam kepada kalian di jalan-jalan.” (HR. Muslim no. 6901). Hanzhalah radhiallahu &#8216;anhu dengan kemuliaan dirinya sebagai salah seorang shahabat Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, tidaklah membuatnya merasa aman dari makar Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala. Bahkan ia merasa khawatir bila ia termasuk orang munafik, karena saat berada di majelis Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam rasa khauf (takut kepada Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala dan azab-Nya yang pedih) terus menyertainya, dibarengi muraqabah (merasa terus dalam pengawasan Allah Subhanahu wa Ta&#8217;ala), berpikir dan menghadapkan diri kepada akhirat. Namun ketika keluar meninggalkan majelis Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam, ia disibukkan dengan istri, anak-anak dan penghidupan dunia. Hanzhalah khawatir hal itu merupakan kemunafikan, maka Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun mengajari Hanzhalah dan para shahabat yang lain bahwa keadaan seperti itu bukanlah kemunafikan. Karena mereka tidaklah dibebani untuk terus menerus harus memikirkan dan menghadapkan diri hanya pada kehidupan akhirat. Ada waktunya begini dan ada waktunya begitu. Ada saatnya memikirkan akhirat dan ada saatnya mengurusi penghidupan di dunia. (Al-Minhaj Syarhu Shahih Muslim, 17/70).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Begitulah rindu, adakalanya berisi kegelisahan yang mendalam terhadap hal-hal yang ditakutkan, terlebih sebelumnya perindu memiliki kesan indah membekas pada momentum yang pernah direguk kenikmatan diatasnya. Balada sang perindu selalu hadir dalam antrian-antrian lorong tunggu. Menunggu bagaimana waktu merealisasikan hasil usaha yang ditempuh. Rindu bukan kumpulan fatamorgana kesia-siaan, ia hadir karena adanya panggilan jiwa. Lubuk hati yang menggelora dan hasrat asa berkumpul bersama. Pada hakikatnya rindu itu sendiri adalah tujuan dari garis-garis impian yang tersadarkan untuk memenuhi relung jiwa yang terpaut suatu kenikmatan dan kebahagiaan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Indah nian perkataan Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyyah dalam Ighatsatul Lahfan 2/194, “Sesungguhnya hati itu akan melewati waktu-waktu yang penuh dengan kegembiraan karena kerinduan dan kecintaannya kepada Allah Azza wa Jalla.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Wallahu ‘alam bi shawwab…</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2010/03/03/ada-menunggu-dikala-rindu.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Habis Galau Terbitlah Tenang</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/11/16/habis-galau-terbitlah-tenang.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/11/16/habis-galau-terbitlah-tenang.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Nov 2009 01:16:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulek Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Umamah]]></category>
		<category><![CDATA[Fadhalah bin Umair]]></category>
		<category><![CDATA[Khalid bin Mi'dan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=37</guid>
		<description><![CDATA[
Ia berkata, mari mengobrol, aku jawab tidak, Allah dan Islam enggan memenuhi ajakanmu
Tidakkah engkau melihat Muhammad dan pasukannya, menaklukkan Mekkah di hari berhala-berhala dihancurkan
Sungguh aku melihat agama Allah menjadi sangat jelas, sedangkan kesyirikan tertutup oleh kegelapan-kegelapan.
Begitulah bunyi syair yang dikutip dalam kitab monumental Al Bidayah wa An Nihayah (IV:352) milik Abul Fida’ Ibnu Katsir, sang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://sangbintang.files.wordpress.com/2009/03/gunung.jpg" alt="" width="465" height="309" /></p>
<p style="text-align: center;"><em>Ia berkata, mari mengobrol, aku jawab tidak, Allah dan Islam enggan memenuhi ajakanmu</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Tidakkah engkau melihat Muhammad dan pasukannya, menaklukkan Mekkah di hari berhala-berhala dihancurkan</em></p>
<p style="text-align: center;"><em>Sungguh aku melihat agama Allah menjadi sangat jelas, sedangkan kesyirikan tertutup oleh kegelapan-kegelapan</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah bunyi syair yang dikutip dalam kitab monumental Al Bidayah wa An Nihayah (IV:352) milik Abul Fida’ Ibnu Katsir, sang mufassir yang diakui keilmuannya diseluruh pelosok dunia Islam. Syair tersebut adalah ucapan lantang Fadhalah bin Umair bin Maluh Al Laitsi setelah Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam memegang dadanya dan menenangkan jiwanya. Allah Maha Tahu apa yang akan dilakukan oleh Fadhalah sebelumnya ketika niat buruk persembunyian hatinya disampaikan oleh Allah melalui wahyu kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sehingga terbongkarlah niat buruknya. Berawal dari keseringannya Fadhalah duduk pada lingkungan yang buruk, bercengekerama dengan para wanita-wanita penghasut yang di hatinya menyimpan hasad kepada Muhammad maka darisanalah perencanaan itu berawal.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-37"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Pada mulanya Fadhalah berhajat besar untuk membunuh sang Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam kala sedang thawaf di Baitullah. Mengendap-endap Fadhalah mendekati Rasulullah dsertai persiapan belati yang siap menikam Nabi. Setelah dekat posisinya kala itu dengan Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam, maka Nabi bertanya kepada dirinya, “Apakah ini Fadhalah?”. Maka Fadhalah menjawab, “Betul, ini Fadhalah wahai Rasulullah”</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi kembali bertanya, “Apa yang kamu katakan dalam hatimu?”. Fadhalah pun menjawab, “Tidak ada apapun, melainkan aku hanya berdzikir kepada Allah”. Rasulullah tertawa mendengarnya, lalu bersabda “Minta ampunlah kepada Allah wahai Fadhalah”. Maka selanjutnya Nabi meletakkan tangannya diatas dada Fadhalah sehingga hatinya menjadi tenang. Setelah berlalu Fadhalah pun bertutur, “Demi Allah. Tidaklah beliau mengangkat tangannya dari dadaku sampai aku merasa tidak pernah Allah menciptakan sesuatau yang lebih aku cintai dibandingkan beliau.”</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu Fadhalah pulang kerumahnya untuk bertemu berkumpul kembali dengan keluarganya. Ditengah perjalanan Fadhalah menjumpai karib duduk yang jahat tersebut dari kalangan para wanita yang mengajaknya untuk duduk kembali berbicara. Maka keluarlah lantunan bait syair tersebut dari lisan Fadhalah sebagai apresiasi penolakan dan penegasan sikapnya saat ini untuk berlari menjauh dari persekongkolan makar buruk lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. </em>(QS. Al An’am : 125).<em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Abu Umamah mengungkapkan kisah yang unik dalam mengajarkan pegangan pada dada dan mendoakan atasnya. Abu Umamah Al Bahili menuturkan : “Sesungguhnya pernah ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku berzina.’ Saat itu, orang-orang yang ada di sekitar membentaknya seraya mengatakan, <em>‘Mah, mah!’ </em>Sementara Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyuruh pemuda itu untuk mendekat. ‘Mendekatlah,’ ajak beliau.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemuda itu pun mendekat. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bertanya, ‘Sukakah engkau kalau hal ini terjadi pada ibumu?’ ‘Tidak, demi Allah, aku sebagai jaminanmu,’ jawabnya. ‘Demikian pula halnya setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi pada ibu-ibu mereka,’ jelas Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam kepada pemuda itu. Kemudian beliau ajukan pertanyaan lagi, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada anak perempuanmu?’ Ia Jawab, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan diriku sebagai jaminanmu’ Beliau jelaskan lagi, ‘Demikian pula manusia tidak menyukai hal itu terjadi pada anak perempuan mereka.’</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian beliau tanya, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’ Lalu beliau bersabda, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka.’ ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (ammah / saudara perempuan bapak)?’ Tanya beliau kembali. Dijawabnya, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’ Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam nyatakan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi mereka.’ Beliau berikan lagi pertanyaan, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (<em>khalah</em> / saudara perempuan ibu)?’ Jawab pemuda itu, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu.’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menuturkan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi <em>(khalah)</em> mereka.’ ”</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutnya Abu Umamah menyatakan : “Maka Rasulullah meletakkan tangannya di atas dada pemuda itu seraya mengucapkan : ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.’ (HR. Ahmad dan Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah no. 370).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Habis Galau Terbitlah Tenang</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah pelajaran-pelajaran dari ketenangan. Selalu mengacu dan mengarah kepada pusat ketenangan yakni dada. Saat Fadhalah bersiasat buruk dan mencoba membunuh Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sirna ditelan ucapan yang indah dan pegangan pada dada yang menenangkan, kala seorang pemuda yang galau hatinya meminta izin untuk berzina namun Nabi justru menasehati seraya memegang dada serta mendoakannya. Begitulah semestinya bagi mereka-mereka yang paham akan arti ilmu menyikapi para awwam dalam hal agama ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Bisa jadi kebanyakan mereka belum mengerti dan tidak mengetahui apa yang semestinya harus dilakukan, apa yang seharusnya dilaksanakan. Kala benih-benih hidayah mampir menyapa jiwa mereka. Dibutuhkan sebuah ketenangan untuk menghanguskan kegalauan. Dibutuhkan sebuah kesabaran dalam membimbing orang tersayang agar hidayah tetap menyapanya. Masa-masa ini adalah masa dimana sebagian manusia dipenuhi kegalauan dalam dadanya. Kala aktivitas dunia menyibukkan waktunya sehingga kejaran harta tak mampu menenangkan jiwa, ketika para populis berusaha menghapus citra diri yang selama ini terbangun dengan banyak kesalahan dan mencoba melenyapkannya dengan untaian harapan ketenangan. Selalu ada yang menunjukkan, namun selalu ada pula yang membelokan dari tunjukan-tunjukan tersebut. Waktunya bagi kita yang telah memahami, mengetahui, dan memancangkan harapan dari sebuah ketenangan untuk memadamkan hati-hati penuh galau dan risau yang menyayat dada bak pisau. Selalu menyeruak menghunus tajam menekan jiwa untuk mengajak kepada kesalahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Demikianlah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam mengajarkan pada kita akan banyak hal yang semsetinya dilakukan. Ungkapan-ungkapan yang mengarah kepada satu tujuan yakni dada sebagai sebuah eksistensi perwakilan dari metabolisme keselarasan manusia. Kala arah kebaikan dan keburukan kesemuanya berada di dada. Dan ketika dada menjadi episentrum lokal kekuatan serta kemenangan apatah itu keburukan maupun kebaikan.</p>
<p style="text-align: justify;">Oleh karena itu benarlah sabda baginda Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam bahwasanya <em>Janganla</em><em>h kalian saling mendengki, janganlah saling mencurangi, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lainnya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim adalah bersaudara, janganlah mendholiminya, merendahkannya dan janganlah mengejeknya! Takwa ada di sini -beliau menunjuk ke dadanya tiga kali-. Cukup dikatakan jelek seorang muslim, jika ia menghinakan saudaranya muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, harta dan kehormatannya. </em>(HR. Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Sehingga darisanalah semestinya kita memulai untuk menunjukkan hati-hati galau itu pada ketenangan yang kita pahami dan ketahui. Ketenangan sebagaimana para shahabat ridwanallahu ‘alayhim jami’an serta para salafush shalih terdahulu mengapresiasikannya dalam rona-rona keimanan yang menghujam dalam dada. Ternyata darisanalah pelajaran itu bermula. Bahwasanya muara kebaikan itu acapkali berasal dari sapaan dalam dada. Dada yang tenang, jiwa yang sehat, akal yang bersih, serta kemauan untuk mengamalkannya dengan benar. Ketenangan sejati adalah mahalnya diri untuk mempersembahkan usaha-usaha maksimal penuh potensi pencapaian ekspektasi keimanan dan ekstase kebahagiaan. Bukanlah sebuah usaha maksimal yang akhirnya menjadikan misi-misi kegalauan dari hembusan syaithan menerkam semakin tertular.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagaimana sebuah ucapan seorang salaf Khalid bin Mi’dan, “Jika pintu kebaikan dibukakan untuk anda, maka bergegaslah menuju kesana. Karena anda tidak tahu kapan pintu itu akan ditutup.” (Hilyatul Auliyaa 5/211)</p>
<p style="text-align: justify;"><strong> </strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/11/16/habis-galau-terbitlah-tenang.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekalipun Awalnya Keterpaksaan</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/11/12/sekalipun-awalnya-keterpaksaan.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/11/12/sekalipun-awalnya-keterpaksaan.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Nov 2009 06:31:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulek Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Sufyan]]></category>
		<category><![CDATA[Abwa']]></category>
		<category><![CDATA[Al Abbas]]></category>
		<category><![CDATA[ALi bin Abi Thalib]]></category>
		<category><![CDATA[Fathul Makkah]]></category>
		<category><![CDATA[Umayyah]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Salamah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=33</guid>
		<description><![CDATA[

Ada banyak hal yang menjadikan seseorang dapat mendapatkan hidayah kedalam dirinya secara umum. Memang selalu ada saja pelajaran yang dapat diambil dari kisah perjalanan orang-orang sebelum kita. Tentang romansa cinta, jejak kebahagiaan, ataupun semangat-semangat menyala penuh keberanian. Semestinya kisah-kisah tersebut dapat menjadi kaca spion terbaik bagi diri kita. Untuk menyamaratakan bahwa bukan kali ini kita [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://tetapbergerak.files.wordpress.com/2009/06/sujud.jpg" alt="" width="320" height="285" /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ada banyak hal yang menjadikan seseorang dapat mendapatkan hidayah kedalam dirinya secara umum. Memang selalu ada saja pelajaran yang dapat diambil dari kisah perjalanan orang-orang sebelum kita. Tentang romansa cinta, jejak kebahagiaan, ataupun semangat-semangat menyala penuh keberanian. Semestinya kisah-kisah tersebut dapat menjadi kaca spion terbaik bagi diri kita. Untuk menyamaratakan bahwa bukan kali ini kita saja yang berbahagia ataupun yang nelangsa.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-33"></span></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Abu Sufyan, ketika situasi tidak memungkinkan dirinya untuk berbuat banyak demi menghancurkan Islam pupus, ketika makar Darun Nadwah dan persekongkolan penuh konspirasinya hilang hangus, ketika ia lolos dari terbunuhnya di tangan seorang kaum muslimin yang menjadikan dirinya tidak bisa mengikuti jejak Abu Jahl kawan satu levelnya, ketika pergulatan batinnya untuk membungkam Muhammad musuh nomor wahidnya tak tembus. Allah Maha Berkehendak atas dirinya. Fathu Makkah menjadi saksi bahwa segala yang Allah kehendaki terjadi maka akan terjadi atas izin Allah Ta’ala. Keterjadian yang juga pernah dirasakan oleh Abu Hafsh Umar bin Khattab.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Di Abwa’ sebelum memasuki Makkah, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam bertemu dengan Abdullah bin Abi Umayyah dan Ibnu Harits. Namun beliau berpaling dari mereka berdua mengingat betapa hebatnya, betapa sengitnya, betapa kerasnya permusuhan dan kejahatan yang mereka lakukan dari masa ke masa, darah ke darah, dan perang ke perang kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam serta kaum muslimin. Namun Ummu Salamah berkata kepada beliau shalallahu ‘alayhi wa sallam: “janganlah sampai putra paman dan bibi anda menjadi orang yang celaka karena anda.”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah beliau sampai di suatu tempat yang bernama Marra Dhahraan, dekat dengan Makkah, beliau memerintahkan pasukan untuk membuat obor sejumlah pasukan. Beliau juga mengangkat Umar <em>radhiyallahu ‘anhu</em> sebagai penjaga.</p>
<p style="text-align: justify;">Malam itu, Abbas berangkat menuju Makkah dengan menaiki bighal (peranakan kuda dan keledai) milik Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Beliau mencari penduduk Makkah agar mereka keluar menemui Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> dan meminta jaminan keamanan, sehingga tidak terjadi peperangan di negeri Makkah. Tiba-tiba Abbas mendengar suara Abu Sufyan dan Budail bin Zarqa’ yang sedang berbincang-bincang tentang api unggun yang besar tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">“Ada apa dengan dirimu, wahai Abbas?” tanya Abu Sufyan</p>
<p style="text-align: justify;">“Itu Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> di tengah-tengah orang. Demi Allah, amat buruklah orang-orang Quraisy. Demi Allah, jika beliau mengalahkanmu, beliau akan memenggal lehermu. Naiklah ke atas punggung bighal ini, agar aku dapat membawamu ke hadapan Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>, lalu meminta jaminan keamanan kepada beliau!” jawab Abbas.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, Abu Sufyan pun naik di belakangku. Kami pun menuju tempat Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Ketika melewati obornya Umar bin Khattab, dia pun melihat Abu Sufyan. Dia berkata,</p>
<p style="text-align: justify;">“Wahai Abu Sufyan, musuh Allah, segala puji bagi Allah yang telah menundukkan dirimu tanpa suatu perjanjian-pun. Karena khawatir, Abbas mempercepat langkah bighalnya agar dapat mendahului Umar. Mereka pun langsung masuk ke tempat Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu, barulah Umar masuk sambil berkata, “Wahai Rasulullah, ini Abu Sufyan. Biarkan aku memenggal lehernya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Abbas pun mengatakan, “Wahai Rasulullah, aku telah melindunginya.”</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> bersabda, “Kembalilah ke kemahmu wahai Abbas! Besok pagi, datanglah ke sini!”</p>
<p style="text-align: justify;">Esok harinya, Abbas bersama Abu Sufyan menemui Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Beliau bersabda,”Celaka wahai Abu Sufyan, bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk mengetahui bahwa tiada ilah (sesembahan) yang berhak disembah selain Allah?”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sufyan mengatakan,“Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu. Jauh-jauh hari aku sudah menduga, andaikan ada sesembahan selain Allah, tentu aku tidak membutuhkan sesuatu apa pun setelah ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> bersabda,”Celaka kamu wahai Abu Sufyan, bukankah sudah saatnya kamu mengakui bahwa aku adalah utusan Allah?”</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Sufyan menjawab,”Demi ayah dan ibuku sebagai jaminanmu, kalau mengenai masalah ini, di dalam hatiku masih ada sesuatu yang mengganjal hingga saat ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Abbas menyela, “Celaka kau! Masuklah Islam! Bersaksilah laa ilaaha illa Allah, Muhammadur Rasulullah sebelum beliau memenggal lehermu!” Akhirnya Abu Sufyan-pun masuk Islam dan memberikan kesaksian yang benar.</p>
<p style="text-align: justify;">Tanggal 17 Ramadhan 8 H, Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> meninggalkan Marra Dzahran menuju Makkah. Sebelum berangkat, beliau memerintahkan Abbas untuk mengajak Abu Sufyan menuju jalan tembus melewati gunung, berdiam di sana hingga semua pasukan Allah lewat di sana. Dengan begitu, Abu Sufyan bisa melihat semua pasukan kaum muslimin. Maka Abbas dan Abu Sufyan melewati beberapa kabilah yang ikut gabung bersama pasukan kaum muslimin. Masing-masing kabilah membawa bendera. Setiap kali melewati satu kabilah, Abu Sufyan selalu bertanya kepada Abbas, “Kabilah apa ini?” dan setiap kali dijawab oleh Abbas, Abu Sufyan senantiasa berkomentar, “Aku tidak ada urusan dengan bani Fulan.” Setelah agak jauh dari pasukan, Abu Sufyan melihat segerombolan pasukan besar. Dia lantas bertanya, “Subhanallah, wahai Abbas, siapakah mereka ini?”</p>
<p style="text-align: justify;">Abbas menjawab: “Itu adalah Rasulullah bersama muhajirin dan anshar.” Abu Sufyan bergumam, “Tidak seorang-pun yang sanggup dan kuat menghadapi mereka.”</p>
<p style="text-align: justify;">Abbas berkata: “Wahai Abu Sufyan, itu adalah Nubuwah.” Bendera Anshar dipegang oleh Sa’ad bin Ubadah <em>radhiyallahu ‘anhu</em>. Ketika melewati tempat Abbas dan Abu Sufyan, Sa’ad berkata, “Hari ini adalah hari pembantaian. Hari dihalalkannya tanah al haram. Hari ini Allah menghinakan Quraisy.”</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika ketemu Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>, perkataan Sa’ad ini disampaikan kepada Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>. Beliau pun menjawab, “Sa’ad keliru, justru hari ini adalah hari diagungkannya Ka’bah dan dimuliakannya Quraisy oleh Allah.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> memerintahkan agar bendera di tangan Sa’d diambil dan diserahkan kepada anaknya, Qois. Akan tetapi, ternyata bendera itu tetap di tangan Sa’d. Ada yang mengatakan bendera tersebut diserahkan ke Zubair dan ditancapkan di daerah Hajun.</p>
<p style="text-align: justify;">Rasulullah <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> melanjutkan perjalanan hingga memasuki Dzi Thuwa. Di sana Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> menundukkan kepalanya hingga ujung jenggot beliau yang mulia hampir menyentuh pelana. Hal ini sebagai bentuk tawadlu’ beliau kepada Sang Pengatur alam semesta. Di sini pula, beliau membagi pasukan. Khalid bin Walid ditempatkan di sayap kanan untuk memasuki Makkah dari dataran rendah dan menunggu kedatangan Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> di Shafa. Sementara Zubair bin Awwam memimpin pasukan sayap kiri, membawa bendera Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> dan memasuki Makkah melalui dataran tingginya. Beliau perintahkan agar menancapkan bendera di daerah Hajun dan tidak meninggalkan tempat tersebut hingga beliau datang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> memasuki kota Makkah dengan tetap menundukkan kepala sambil membaca firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Sesungguhnya kami memberikan kepadamu kemenangan yang nyata.”</em> (Qs. Al Fath: 1)</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau mengumumkan kepada penduduk Makkah, “Siapa yang masuk masjid maka dia aman, siapa yang masuk rumah Abu Sufyan maka dia aman, siapa yang masuk rumahnya dan menutup pintunya maka dia aman.”</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau terus berjalan hingga sampai di Masjidil Haram. Beliau thawaf dengan menunggang onta sambil membawa busur yang beliau gunakan untuk menggulingkan berhala-berhala di sekeliling Ka’bah yang beliau lewati. Saat itu, beliau membaca firman Allah:</p>
<p style="text-align: justify;"><em> “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap”. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.”</em> (Qs. Al-Isra’: 81)</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Kebenaran telah datang dan yang batil itu tidak akan memulai dan tidak (pula) akan mengulangi.”</em> (Qs. Saba’: 49)</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, Nabi <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em> memasuki Ka’bah. Beliau melihat ada gambar Ibrahim bersama Ismail yang sedang berbagi anak panah ramalan.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau bersabda, “Semoga Allah membinasakan mereka. Demi Allah, sekali-pun Ibrahim tidak pernah mengundi dengan anak panah ini.”</p>
<p style="text-align: justify;">Kemudian, beliau perintahkan untuk menghapus semua gambar yang ada di dalam Ka’bah. Kemudian, beliau shalat. Seusai shalat beliau mengitari dinding bagian dalam Ka’bah dan bertakbir di bagian pojok-pojok Ka’bah. Sementara orang-orang Quraisy berkerumun di dalam masjid, menunggu keputusan beliau <em>shallallahu ‘alahi wa sallam</em>.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan memegangi pinggiran pintu Ka’bah, beliau bersabda:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Wahai orang Quraisy, sesungguhnya Allah telah menghilangkan kesombongan jahiliyah dan pengagungan terhadap nenek moyang. Manusia dari Adam dan Adam dari tanah.”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Wahai orang Quraisy, apa yang kalian bayangankan tentang apa yang akan aku lakukan terhadap kalian?”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Merekapun menjawab, “Yang baik-baik, sebagai saudara yang mulia, anak dari saudara yang mulia.”</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara itu Ali bin Abi Thalib berkata kepada Abu Sufyan: “Datangilah Rasulullah dari depan. Berkatalah kepadanya seperti perkataan-perkataan saudara-saudara Nabi Yusuf ‘alayhis salam: “Mereka berkata: &#8220;Demi Allah, Sesungguhnya Allah telah melebihkan kamu atas Kami, dan Sesungguhnya Kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)&#8221;. (QS. Yusuf : 91). Maka Abu Sufyan pun melakukannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beliau bersabda, “Aku sampaikan kepada kalian sebagaimana perkataan Yusuf kepada saudaranya: ‘Pada hari ini tidak ada cercaan atas kalian. Allah mengampuni kalian. Dia Maha penyayang.’ (QS. Yusuf : 92) Pergilah kalian! Sesungguhnya kalian telah bebas!”</p>
<p style="text-align: justify;">Setelah itu Abu Sufyan pun melantunkan syairnya penuh makna:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Demi umurmu, sungguh ketika aku membawa bendera</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Agar prajurit Latta mengalahkan tentara Muhammad</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Bagai orang Mudlij yang kebingungan diselimutiu kegelapan malam</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Inilah waktuku ketika hidayah dating lalu aku menyambutnya</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aku diberi hidayah oleh Haadi (Sang Pemberi Hidayah) bukan diriku, dan aku ditunjuki</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Kepada Allah, oleh dia yang dahulu kuusir dengan sebenar-benarnya.</em></p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar hal ini, Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam menepuk dadanya sambil berkata: “Engkaulah yang telah mengusirku dengan sebenar-benarnya.” Sejak saat itulah Nabi mendoakan Abu Sufyan “Saya berharap dia bisa menjadi pengganti Hamzah -<em>radhiyallahu ‘anhu</em>-” dan menjadi baiklah sang arsitek penghancur ketika kafirnya menjadi sang pembela Allah beserta Nabi-Nya shalallahu ‘alayhi wa sallam. Bahkan ketika wafatnya, Abu Sufyan berpesan pada keluarganya: “Janganlah kalian tangisi aku, karena demi Allah! Aku tidak pernah berbuat dosa sejak aku masuk Islam.”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Begitulah Sapaan Hidayah</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah sapaan hidayah, kala kemusykilan dihapus oleh cahaya kebenaran dan keimanan. Berawal dari situasi yang tak ada pilihan lain selain mengambil hidayah tersebut, menjadi akhir dari sebuah jawaban yang indah untuk sosok terjahat sekalipun. Yakinlah, terkadang anggapan buruk yang tersematkan pada seseorang yang dibenci bisa menjadi sebuah jalan betapa jika Allah telah berkehendak atas sesuatu menjadi mudah terbalik segalanya. Tak masuk akal memang. Namun kenyataan terkadang berbicara lain dari apa yang direncanakan. Sejarah telah mencatat bagaimana manusia-manusia terjahat menamatkan riwayatnya dengan bejana kebaikan dan janji surga, sejarah Islam telah terpenuhi dengan sosok-sosok Umar bin Khattab serta Abu Sufyan yang keburukannya terhapus oleh doa Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam. Maka begitulah hidayah, adakalanya suatu keterpaksaan menjadi sebuah keindahan, dan sebuah kebencian ditutup oleh haru kebahagiaan.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Maka sudah sepantasnyalah sosok-sosok yang mengerti hari-hari ini untuk mengajak dengan penuh kesabaran dan doa-doa terpanjatkan penuh keihlasan atas apa yang diharapkan dari yang dicinta. Kala orang tua belum memahami Islam dengan sebaik-baiknya, kala suami atau istri tercinta masih jauh dari apa yang diharapkan atas keimanannya, kala anak menjauh dari perencanaan kehidupan beragama, atau kala diri sendiri merasa gersang dengan aktivitas. Tak hanya sekedar untuk merenungi realita di depan mata akan kebobrokan suatu masa, tapi mencoba bergerak dengan perlahan dan punya tujuan pasti. Setiap orang memiliki fitrah yang condong kepada kebaikan. Ajaklah dengan usaha dan kemampuan yang dimiliki, “Barangsiapa yang mengajak kepada hidayah (Kebaikan) maka ia memperoleh pahala seperti pahala orang-orang yang mengikutinya dan pahala tersebut tidak kurang sama sekali. “ (HR. Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Yakinlah, bahwa setiap usaha akan mendapatkan hasil, dan terkadang usaha itu membutuhkan waktu yang lama. “Sesunggunya mereka yang beriman dan beramal saleh, tentulah Kami tidak akan menyia-nyiakan pahala orang-orang yang mengerjakan amalan(nya) dengan yang baik.” (QS. Al Kahfi : 30)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Pelajaran tadi telah menjadi bukti kerasnya hati Abu Sufyan dapat takluk dengan kelembutan usaha-usaha orang-orang yang sabar disekitarnya, disana ada Al Abbas bin Abdul Mutthalib dan Ali bin Abi Thalib. Sekali lagi, perubahan selalu membutuhkan bimbingan, dan setiap perubahan selalu memiliki hajat atas kesabaran. Sekeras batu yang terkikis oleh air.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/11/12/sekalipun-awalnya-keterpaksaan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Berbakti Kepadanya</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/11/10/berbakti-kepadanya.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/11/10/berbakti-kepadanya.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 08:02:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulek Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah bin Mas'ud]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Hurairah]]></category>
		<category><![CDATA[birul walidain]]></category>
		<category><![CDATA[chemoreceptor trigger zone (CTZ)]]></category>
		<category><![CDATA[HCG (Human Corionic  Gonadotropin)]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim…

 
Dari Abu Hurairah radhiyallohu’anhu dikisahkan, Rasululloh Shalallohu’Alaihi Wassalam pernah ditanya oleh seseorang yang ketika itu datang kepada beliau, “Ya Rosululloh..siapakah manusia yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari ku?”. Dan Rosululloh menjawab, “Ibumu…”. Orang tersebut kemudian bertanya lagi, “Siapa lagi ya Rosul?”. Rosul menjawab, “Ibumu..”. “Kemudian siapa lagi ya Rosul?”. “Ibumu….”. “Lalu siapa lagi..?”. “Ayahmu….dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Bismillahirrahmanirrahim…</p>
<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-19  aligncenter" title="15ROSERAIN" src="http://rujakkata.com/wp-content/uploads/2009/11/15ROSERAIN.gif" alt="15ROSERAIN" width="215" height="163" /></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Dari Abu Hurairah radhiyallohu’anhu dikisahkan, Rasululloh Shalallohu’Alaihi Wassalam pernah ditanya oleh seseorang yang ketika itu datang kepada beliau,<em> “Ya Rosululloh..siapakah manusia yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari ku?”</em>. Dan Rosululloh menjawab, <em>“Ibumu…”</em>. Orang tersebut kemudian bertanya lagi, <em>“Siapa lagi ya Rosul?”</em>. Rosul menjawab, <em>“Ibumu..”. “Kemudian siapa lagi ya Rosul?”. “Ibumu….”</em>. “<em>Lalu siapa lagi..?”. “Ayahmu….dan kemudian saudara-saudarmu…”</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;">Ibu..Bunda..Mama..Emak..Ummi… Siapapun kita memanggilnya…mereka adalah pahlawan kita!! Dan sungguh.. Islam telah memuliakan seorang wanita tangguh bernama ibu..yang namanya telah disebutkan oleh Rosulullah Shallallohu’Alaihi Wassalam dalam hadist tersebut diatas…</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-18"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ibu…. Tak pernah terhitung, berapa kali nama itu (dan penyebutan lainnya) disebut, dalam hitungan detik, menit, jam bahkan hari diseluruh sudut bumi ini. Nama yang menetramkan setiap kali disebut manakala hati dan jiwa kita merasa galau.. Nama yang membuat rindu manakala kita jauh darinya…. Nama yang akan selalu ada dan tinggal di hati kita….</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Wajahnya yang teduh..suara yang lembut…sentuhan yang menghangatkan…nasehat yang menguatkan…dan senyuman yang menenangkan…. Sungguh… semua yang ada didalam diri beliau tidak akan pernah tergantikan oleh sosok manusia manapun atau bahkan tambatan hati kita sekalipun.</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh.. Islam adalah agama yang sempurna. Salah satu bentuk kesempurnannya adalah dengan adanya pengaturan bagaimana seorang anak bermuamalah dengan kedua orangtuanya. Berbakti, mengabdi, dan berbuat baik kepada mereka berdua adalah suatu kewajiban yang mungkin saat ini telah luntur dalam ingatan anak-anak atau bahkan telah dilupakan seiring kemajuan jaman??</p>
<p style="text-align: justify;">Dan ingatlah firman ALLOH di dalam surat Luqman ayat 14 :</p>
<p style="text-align: justify;">“ <em>Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orangtuanya</em>…..”</p>
<p style="text-align: justify;">ALLOH Azza Wa’Jalla telah memberitakan  secara jelas dan tegas bahwa setiap manusia pada umumnya, dan setiap anak pada khususnya wajib berbuat baik kepada setiap orangtua, kepada ibu-bapak mereka. Adapun kewajiban berbuat baik disini adalah meliputi semua perkara-perkara kebaikan baik ucapan maupun perbuatan secara maknai maupun nyata (Birul Walidain). Dan tentunya, kewajiban dalam perkara ini tidak bertentangan dengan perintah ALLOH.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun hadist yang menjelaskan bagaimana kedudukan dan keutamaan  birul walidain yakni, Dari Abdullah Ibnu Mas’ud radhiyallohu’anhu, Rasululloh Shallallohu’Alaihi Wassalam pernah ditanya, <em>“ya Rosul..Amalan apakah yang paling dicintai oleh ALLOH?”</em>. Dan  Beliau menjawab : <em>“ Shalat tepat pada waktunya..”.</em> Kemudian beliau ditanya lagi,<em>“ Lalu apalagi ya Rosul?” </em>Rosul menjawab : <em>“ Birul Walidain…”.</em> Dan beliaupun ditanya kembali, <em>“Kemudian apa ya Rosul?”. </em>Beliaupun menjawab: <em>“ Jihad Fi Shabilillah..”</em></p>
<p style="text-align: justify;">Dan lihatlah wahai ikhwah fillah…bagaimana kedudukan dari birul walidain itu. Baginda Nabi menempatkan perkara itu setelah shalat dan sebelum jihad!!</p>
<p style="text-align: justify;">Mengapa? Karena shalat adalah hak ALLOH atas hambaNya dan itu merupakan kewajiban yang utama bagi seorang hamba. Adapun birul walidain itu memiliki keutamaan yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jihad fi sabilillah, karena itulah Rosul menempataknnya diatas jihad. Bila Rosul tidak mengetahui keutamaan yang jauh lebih tinggi dan juga istimewa tentang birul walidain, tentu beliau akan menyebutkan perkara jihad terlebih dahulu  dibandingkan perkara birul walidain (karena jihad bagi kaum muslimin memiliki keutamaan yang sangat besar). Sungguh…segala perkataan Rosulullah adalah benar!</p>
<p style="text-align: justify;">Tanpa kita sadari, ada perkara “mudah” dan mungkin sering kita lalaikan padahal perkara itu bisa mengatarkan kita semua pada suatu keutamaan dan juga kemulian. Keutamaan yang lebih tinggi dibandingkan dengan jihad  yang mungkin bagi kita (kaum muslimah tentunya tidak bisa mendapatkannya)</p>
<p style="text-align: justify;">Ya..birul walidain..berbuat baik kepada kedua orang tua kita sepanjang hayat kita… Subhanallah…..nikmat yang senantiasa terlupakan…..</p>
<p style="text-align: justify;">Terkait dengan perkara berbuat baik kepada kedua orangtua kita, Rasululloh telah memberikan contoh kepada kita semua, bagaimana kita berbuat baik kepada ke-2 orangtua kita. Telah disebutkan pada hadist pertama di atas..bahwa yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari seorang anak adalah orangtuanya, dimana ibu memliliki kedudukan yang 3x jauh lebih tinggi dibandingkan dengan ayah!</p>
<p style="text-align: justify;">Lalu mengapa Rosulullah menyebut nama IBU sampai 3 kali?? Sementara ayah dan saudara-saudara itu disebut 1 kali dan penyebutannya setelah ibu??</p>
<p style="text-align: justify;">Hadist yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah  diatas telah memberikan gambaran pada kita bahwa seorang ibu yang mana memiliki keistimewaan luar biasa ini dimuliakan dengan semulia-mulianya manusia yang lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Adapun mengapa Rosul menyebutkan sampai 3 kali, hal ini terkait oleh 3 perkara yang mendasari yakni,</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1.   Karena Ibu yang      mengandung kita selama 9 bulan 10 hari..</strong></p>
<ol style="text-align: justify;"></ol>
<p style="text-align: justify;">Telah disebutkan di dalam Al Qur’an dalam surat Luqman ayat 14 :</p>
<p style="text-align: justify;">“ Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada  kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kedua orangtuamu. Hanya kepada Aku kembalimu..”</p>
<p style="text-align: justify;">Telah terang didalam firman ALLOH diatas, bagaimana  ALLOH melukiskan kondisi seorang wanita ketika mengandung anak-anaknya. Diatas kelemahan dan kepayahan (walaupun kondisi seorang wanita satu dengan yang lain itu berbeda-beda).Seorang ibu tetap berjuang untuk merawat dan menjaga benih yang ada di dalam rahimnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika setetes mani telah berhasil membuahi sebuah ovum, maka atas ijinNya dalam waktu singkat terjadilah berbagai fase dari proses pembentukan manusia. Fase-fase itulah akan menimbulkan kondisi yang jauh berbeda bagi seoranng wanita. Dimulai dengan perubahan kadar hormonal tubuh, kondisi fisik dan kondisi psikologisnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Adanya perubahan kadar hormonal tubuh, dimana nantinya plasenta si janin akan mengeluarkan suatu hormon bernama HCG (Human Corionic  Gonadotropin) yang kadarnya akan meningkat diawal-awal kehamilan. Lalu apa akibatnya dari peningkatan kormon ini? Morning Sickness atau yang lebih familiar adalah mual dan muntah di pagi hari. Mengapa demikian? Karena diduga hormone hCG ini merangsang pusat mual dan muntah di chemoreceptor trigger zone (CTZ) di hipotalamus (bagian pada otak). Adanya perangsangan inilah yang membuat ibu-ibu yang tengah hamil muda cenderung merasakan mual yang amat sangat, tiap kali makan akan dimuntahkan kembali, hingga mereka merasakan kepayahan dan kelemahan. Bahkan mungkin, karena makanan tidak dapat masuk sama sekali melalui mulut, sang ibu dengan ikhlas merelakan sebuah jarum infus menembus venanya dan sungguh hal ini merupakan sebagian bentuk cintanya kepada calon anaknya… Subhanallah….</p>
<p style="text-align: justify;">Belumlah cukup rasa kelemahan fisik yang dirasakan oleh si ibu akibat perubahan kadar hormonal itu, ditambah lagi dengan kelemahan psikologisnya. Kondisi psikologis seorang wanita yang tengah hamil, sedikit banyak akan berubah berubah. Mungkin si ibu menjadi lebih sensitive, lebih sabar, lebih manja, lebih gampang marah, lebih gampang meneteskan air mata, atau bahkan lebih ‘aneh’ karena ngidam?? Wallohu’alam….</p>
<p style="text-align: justify;">Dan semakin bertambah usia kehamilannya, semakin berat pula “beban” yang harus ditanggungnya. Membawa buah cinta kemanapun beliau pergi. menjaganya dengan penuh kehati-hatian, merelakan malam-malamnya dengan “kenyamanan ala kadarnya” karena sulitnya mengatur posisi tidur. Tengkurap tidak bisa, miring ke kanan atau kekiri akan terasa capek, terlentang tidak nyaman. Belum lagi ketika sedang sedikit terlelap, tiba-tiba sang jagoan kecil menyapanya dengan sentuhan-sentuhan yang mengejutkan, berputar-putar mengelilingi “rumahnya” atau dengan tendangan-tendangan yang cukup membuat sang ibu menahan sakit.Tapi, apakah mereka protes? Tidak!!</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka akan tersenyum dan menyentuh dengan penuh cinta sang buah hati dan mengajaknya berkomunikasi…dalam kelelahan…mereka masih tersenyum bahagia… Subhanallah….</p>
<p style="text-align: justify;">Masa-masa sulit itu belumlah berakhir wahai saudaraku… Ketika harinya telah tiba… disaat sang bayi meminta untuk dilahirkan kedunia… Dengan sakit yang teramat sangat, beliau memulai perjuangan yang panjang.. Perjuangan dengan taruhan nyawa!!! Dengan segala risiko kelahiran yang telah siap “menunggu” dibelakangnya…prediksi kelahiran yang semula normal..bisa tiba-tiba saja berubah dalam sepersekian second!! Posisi bayi yang sungsang..tekanan darah yang tiba-tba tinggi (eklamsia).. tidak ada tenaga..perdarahan…solusio plasenta ..plasenta akreta ..ketuban pecah dini..semua itu bisa mengancam nyawa si ibu!! Kapanpun bila ALLOH berkendak…</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2.   Karena Ibu yang merawat….</strong></p>
<ol style="text-align: justify;"></ol>
<p style="text-align: justify;">Belumlah selesai perjuangan sang ibu…post partum (pasca melahirkan), Ibu harus langsung menyusui, memberikan ASI pertamanya kepada sang buah hati. Apalagi dengan adanya program IMD (inisiasi menyusu dini) ya karena ASI pertama mengandung banyak collostrum dan zat gizi penting lainnya yang sangat berguna dan menjadi “modal” bagi sang buah hati dalam kehidupannya kelak. Bayangkanlah wahai saudaraku..dalam kelelahan pasca melahirkan dengan sisa-sisa tenaga yang ada…beliau masih mempedulikan buah hatinya………Subhanallah…</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak hanya menyusui,ibu juga dengan penuh senyum melayani segala kebutuhan sang anak. Dia harus merelakan malam-malamnya untuk terjaga dan menggendong anaknya ketika menangis, menina-bobokan hingga sang anak terlelap kembali, menyusui ketika lapar, mengganti popoknya ketika sang anak kencing dan BAB, memandikannya, juga melakukan hal-hal “kecil” yang menakjubkan bagi si kecil…menyentuhnya dengan penuh cinta!</p>
<p style="text-align: justify;">Belum lagi ketika sang buah hati tiba-tiba jatuh dalam keadaan sakit. Segala rasa gundah, cemas, khawatir, sedih..bercampur jadi satu.. mau makan ndak enak..tidur apalagi?! Anak..anak..dan anak…..!! Itulah yang terpenting baginya….</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3.   Seorang Ibu adalah      pengasuh  bagi anak-anaknya..</strong></p>
<ol style="text-align: justify;"></ol>
<p style="text-align: justify;">“Rumah adalah madrasah pertama bagi seorang anak..” begitulah bunyi ungkapan kata hikmah serta bijak yang menggambarkan betapa semua dan semula bermuara pada rumah. Bangsa besar dimulai dari bangunan rumah yang besar. Bangunan tersebut bukanlah bangunan rumah dengan pencakar langit atau pengeruk luas bumi. Melainkan fondasi keimanan, saling sinergi yang menyatukan nilai-nilai harmoni.</p>
<p style="text-align: justify;">Madrasah dengan “guru” yang super jenius yang tidak akan pernah dijumpai di madrasah atau sekolah-sekolah favorit lainnya.. Ibu..dialah guru itu. Beliaulah yang pertama mengajari sang buah hati tentang segala sesuatu.  Pelajaran pertama yang hendaknya sang ibu berikan adalah pengajaran mengenai dienNya. Disinilah sang ibu hendaknya pertama mulai mengenalkan anaknya pada ALLOH, Rabb Sang Pencipta. Mengajarkan lafadz ALLOH sambil mengisyaratkan menunjuk ke atas, membiasakan membaca basmallah ketika hendak melakukan sesuatu, juga mengajarkan hal-hal kecil yang nantinya akan diingat si anak sampai besar kelak.</p>
<p style="text-align: justify;">Dan telah terang bagi kita, mengapa Rosululloh menyebutkan “ibu” pertama kali yang berhak mendapatkan pelayanan terbaik dari seorang anak.</p>
<p style="text-align: justify;">Ibu yang pastinya, semua anak mencintainya, menyayanginya, membanggakannya….</p>
<p style="text-align: justify;">Dan detik ini..tenggoklah wanita separuh baya di sudut rumah cinta kita…</p>
<p style="text-align: justify;">Yang sedang asyik menyapu, mengepel, menyuci, memasak, duduk tertidur karena kelelahan… beliau ..yang kita panggil “IBU”</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Sudahkah kau menyapanya hari ini? Sudahkah kau melayani keperluannya hari ini?</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">*catatan juli &#8216;08</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/11/10/berbakti-kepadanya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perubahan Selalu Membutuhkan Bimbingan</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/11/09/perubahan-selalu-membutuhkan-bimbingan.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/11/09/perubahan-selalu-membutuhkan-bimbingan.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Nov 2009 02:30:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulek Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Thalhah]]></category>
		<category><![CDATA[Anas bin Malik]]></category>
		<category><![CDATA[Malik bin Nadhlar]]></category>
		<category><![CDATA[Rasulullah.]]></category>
		<category><![CDATA[Ummu Sulaim]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[

Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah. Seorang wanita Bani Khazraj yang masuk Islam di awal-awal. Parasnya yang cantik dan akhlaknya yang baik mendorong para pria di masanya memperebutkan dirinya untuk memperistri. Ia menikah dengan Malik bin Nadhlar, yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: centre;"><img class="aligncenter" src="http://www.zubeyr-kureemun.com/SaudiArabia/Mosques%20of%20Medina/054.jpg" alt="" width="253" height="217" /></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Rumaisha’, Ummu Sulaim binti Malhan bin Khalid bin Zaid bin Haram bin Jundub bin Amir bin Ghanam bin ‘Ady bin Najjar al-Anshariyyah al-Khazrajiyyah. Seorang wanita Bani Khazraj yang masuk Islam di awal-awal. Parasnya yang cantik dan akhlaknya yang baik mendorong para pria di masanya memperebutkan dirinya untuk memperistri. Ia menikah dengan Malik bin Nadhlar, yang darisana lahirlah seorang pembantu Rasulullah terbaik pada masanya, dan seorang yang Rasulullah pernah doakan agar memiliki keberkahan umur dan banyaknya keturunan. Anak itu bernama Anas bin Malik.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-13"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Seiring dengan cahaya nubuwwah dan dakwah tauhid menyapa mereka-mereka yang berakal sehat dan fitrah yang lurus menghampiri hati setiap orang yang mendengar dan mempelajarinya. Tak terkecuali dengan Ummu Sulaim. Ia masuk Islam dengan kokoh sekalipun sang suami menentangnya. Suaminya menentang ke-Islaman Ummu Sulaim hingga akhirnya sang suami meninggalkannya karena merasa sang istri sudah keras kepala. Ada percakapan kemarahan sang suami yang dibantah dengan jawaban kecerdasan penuh kebijakan nan memenangkan. Kemarahan Malik suaminya yang baru saja pulang dari bepergian dan mendapati istrinya telah masuk Islam. Malik berkata dengan kemarahan yang memuncak, “Apakah engkau murtad dari agamamu?”. Maka dengan penuh yakin dan tegar beliau menjawab: ”Tidak, bahkan aku telah beriman”.</p>
<p style="text-align: justify;">Suatu ketika beliau menuntun Anas (putra beliau) sembari mengatakan: “Katakanlah La ilaha illallah.” (Tidak ada ilah yang haq kecuali Allah). Katakanlah, Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah.” (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) kemudian Anas mau menirukannya. Akan tetapi ayah Anas mengatakan, “Janganlah engkau merusak anakku”. Maka beliau menjawab: “Aku tidak merusaknya akan tetapi aku mendidik dan memperbaikinya”. Indah, begitulah semestinya seorang ibu, memiliki sikap dan tekad untuk mendidik anaknya dengan cermat dan menentukan apa yang tepat bagi kebaikan agamanya. Para pendahulu mengajarkan bahwasanya kebaikan bagi seorang ibu adalah terlihat dengan bagaimana kondisi sang anak. Bila sang anak terdidik dengan baik, maka tentulah ia lahir dari seorang ibu yang baik pula. Tidaklah suatu kebaikan melainkan Islam telah mengajarkannya dengan sempurna. <em>“Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”</em> (QS. Al Baqarah : 110)</p>
<p style="text-align: justify;">Perjalanan waktu selalu tak menentu, hanya yang dapat mengatur dengan baiklah mereka-mereka yang bisa menjadi pemenangnya. Sang suami pun akhirnya terbunuh dalam sebuah peperangan. Setelah kegengsian dirinya yang tak mau masuk Islam pasca meninggalkan seorang istri mulia serta anak yang dibangga. Babak baru kehidupan Ummu Sulaim pun berlanjut, ia bertekad untuk membesarkan sang anak dengan perkataannya, ““Aku tidak akan menyampih Anas sehingga dia sendiri yang memutusnya, dan aku tidak akan menikah sehingga Anas menyuruhku”. Lalu ia menyerahkan Anas kepada Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam agar dijadikan pembantu sekaligus dapat menimba ilmu sebanyak-banyaknya kepada tauladan terbaik bagi ummatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak orang bercerita tentang ketegaran hati dan kesabaran juga mulianya ibu dan anak ini. Terdengarlah berita ini ke telinga Zaid bin Sahal an-Najjary atau yang populer dengan nama Abu Thalhah, seorang berstatus sosial tinggi, kaya raya, serta terkenal sebagai penunggang kuda yang cekatan di kalangan Bani Najjar, selain itu juga pemanah jitu dari Yatsrib yang harus diperhitungkan..</p>
<p style="text-align: justify;">Ia menginginkan Ummu Sulaim karena telah mengetahui bahwasanya Ummu Sulaim memiliki kecakapan akhlak dan perangai disertai sifat-sifat wanita yang mulia. Berbeda jauh mungkin dengan saat ini, ketika para pemuda tertarik dengan gadis dengan paras yang lebih didahulukan dan agama dikebelakangkan. Dengan semangat sekarang atau tidak sama sekali, Abu Thalhah tahu sudah banyak pria yang berharap pula untuk memperistri Ummu Sulaim. Maka Abu Thalhah memberanikan diri untuk menemui Ummu Sulaim dengan harapan dapat menerima pinangannya. Dengan didampingi sang putra, diperkenankanlah Abu Thalhah untuk masuk kerumah dan menyampaikan maksud kedatangannya. Namun berbalik arah kapal yang dilaju oleh Abu Thalhah. Ummu Sulaim menolaknya dengan ucapan, &#8220;Sesungguhnya laki-laki seperti Anda, wahai Abu Thalhah, tidak pantas saya tolak lamarannya. Tetapi aku tidak akan kawin dengan Anda, karena Anda kafir.&#8221; Abu Thalhah terpaksa menggigit jari atas penolakan tersebut, pupus sudah rasa percaya diri atas criteria yang ia miliki. Popularitas dan materi tak berarti di hadapan Ummu Sulaim hanya karena sang peminang masih sebagai seorang musyrik. Abu Thalhah tetap penasaran dengan persangkaan ada laki-laki lain di hati Ummu Sulaim.</p>
<p style="text-align: justify;">Maka Abu Thalhah mencoba untuk menanyakannya kepada Ummu Sulaim, &#8220;Demi Allah! Apakah sesungguhnya yang menghalangi engkau untuk menolak lamaranku, hai Ummu Sulaim?&#8221; Jawab Ummu Sulaim, &#8220;Tidak ada, selain itu.&#8221;  Tanya Abu Thalhah, &#8220;Apakah yang kuning ataukah yang putih &#8230;? Emas atau perak?&#8221;  Ummu Sulaim balik bertanya, &#8220;Emas atau perak &#8230;?&#8221;  &#8220;Ya, emas atau perak?&#8221; jawab Abu Thalhah menegaskan. Kata Ummu Sulaim, &#8220;Kusaksikan kepada Anda, hai Abu Thalhah, kusaksikan kepada Allah dan Rasul-Nya, sesungguhnya jika engkau Islam, aku rela Anda menjadi suamiku tanpa emas dan perak, cukuplah emas itu menjadi mahar bagiku.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Mendengar ucapan dari Ummu Sulaim tersebut, Abu Thalhah teringat akan patung sembahannya yang terbuat dari kayu bagus dan mahal. Patung itu khusus dibuatnya untuk pribadinya, seperti kebiasaan bangsawan-bangsawan kaumnya, Bani Najjar.</p>
<p style="text-align: justify;">Ummu Sulaim telah bertekad hendak menempa besi itu selagi masih panas (mengislamkan Abu Thalhah). Sementara Abu Thalhah terbengong-bengong melihat berhala sesembahannya, Ummu Sulaim melanjutkan bicaranya, &#8220;Tidak tahukah Anda, wahai Abu Thalhah, patung yang Anda sembah itu terbuat dari kayu yang tumbuh di bumi?&#8221; Tanya Ummu Sulaim.&#8221;Ya, Betul!&#8221; jawab Abu Thalhah. &#8220;Apakah Anda tidak malu menyembah sepotong kayu menjadi Tuhan, sementara potongannya yang lain Anda jadikan kayu api untuk memasak? Jika Anda masuk Islam, hai Abu Thalhah, aku rela engkau menjadi suamiku. Aku tidak akan meminta mahar darimu selain itu,&#8221; kata Ummu Sulaim. &#8220;Siapakah yang harus mengislamkanku?&#8221; Tanya Abu Thalhah. &#8220;Aku bisa,&#8221; jawab Ummu Sulaim.  &#8220;Bagaimana caranya?&#8221; tanya Abu Thalhah. &#8220;Tidak sulit. Ucapkan saja kalimat syahadah! Saksikan tidak ada ilah yang berhak disembah selain Allah dan sesungguhnya Muhammad Rasulullah. Sesudah itu pulang ke rumahmu, hancurkan berhala sembahanmu, lalu buang!&#8221; kata Ummu Sulaim menjelaskan.</p>
<p style="text-align: justify;">Abu Thalhah tampak gembira. Lalu, dia mengucapkan dua kalimat syahadah. Sesudah itu Abu Thalhah menikah dengan Ummu Sulaim. Mendengar kabar Abu Thalhah menikah dengan Ummu Sulaim dengan maharnya Islam, maka kaum muslimin berkata, &#8220;Belum pernah kami mendengar mahar kawin yang lebih mahal daripada mahar kawin Ummu Sulaim. Maharnya ialah masuk Islam. Sejak hari itu Abu Thalhah berada di bawah naungan bendera Islam. Segala daya yang ada padanya dikorbankan untuk berkhidmat kepada Islam.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Ada Kerja Dan Bahagia</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah usaha, selalu menampakkan sisi bahagia di akhirnya. Seseorang bisa saja merasa percaya diri dan berani atas apapun kehendaknya. Namun kehendak terbesar berada di tangan Allah. Sapaan hidayah adalah sapaan akrab dan penuh pesona. Menarik setiap akal sehat yang penuh rona. Tak terkecuali bagi Abu Thalhah dan Ummu Sulaim yang banyak catatan sejarah mengisi hari-harinya. Keislaman Abu Thalhah adalah eksistensi pencapaian tekad untuk berubah. Perubahan selalu membutuhkan bimbingan dan panduan. Maka kelak tidak akan mungkin seseorang bisa mengikuti kafilah hidayah jika tak ada rombongan yang mengajaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudah berapa banyak sapaan mampir di hati-hati ini, dan sudah berapa banyak pula kekerasan dan ego Malik bin Nadhlar selalu menghalangi. Tipu daya dunia telah menghancurkan dan membutakan diri. Sekalipun surga sudah tersaji dan Malik pun mengakui bahwasanya Islam memang sempurna. Tapi sekali lagi, keegoisan meruntuhkan perubahan. Maka tepatlah sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam “<em>Tiga perkara yang merusak jiwa; kebakhilan yang ditaati, pengikut hawa nafsu, dan sombong dengan ketenaran popularitasnya.”</em> (Mushannaf Abdurrozaq, status hasan oleh Al Albani dalam Dhaif Jami’ush Shaghir 12/297).</p>
<p style="text-align: justify;">Maka kecongkakan apalagi yang bisa dibanggakan. Hidayah dalam Islam telah menunjukkan cengkeraman maknanya. Semua berpadu menjadi satu. Siapa yang pernah mulia dalam keadaan kafirnya, maka Islam pun akan memberikan kemuliaan atas dirinya saat ia mau berserah hanya Allah yang berhak untuk diibadahi. Kekuatan cinta Abu Thalhah telah mengubah jalan hidupnya, Keteguhan Ummu Sulaim telah memberikan keberkahan melalui lisan Nabi shallalahu ‘alayhi wa sallam “Semoga Allah memberikan keberkahan pada kalian berdua”. Terakhir, hidayah telah mengajarkan kita bagaimana menjadi mulia setelahnya dan bahagia di akhirnya. Berangkatlah menuju rombongan hidayah agar menjadi bagian darinya. Tak ada celah untuk egoisme dan takjub diri. Berikanlah sedikit sisa untuk kepasrahan dan biarkan keiklasan yang bekerja mencari maknanya.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Wallahu ‘Alam Bi Shawwab</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/11/09/perubahan-selalu-membutuhkan-bimbingan.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meniti Gerbang Hidayah</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/11/07/meniti-gerbang-hidayah.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/11/07/meniti-gerbang-hidayah.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 07 Nov 2009 00:33:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ulek Manis]]></category>
		<category><![CDATA[Al Fatihah]]></category>
		<category><![CDATA[Hidayah]]></category>
		<category><![CDATA[Ibnul Qayyim]]></category>
		<category><![CDATA[Rasul]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[

Hidayah, bukan kata tanpa makna. Justru darisanalah semua keindahan bermulai jumpa. Hidayah menemukan antara penantian dan perjalanan usaha yang dijalani seseorang. Hidayah senantiasa mengakrabi hati tiap hamba datang dan pergi silih berganti siapapun dia. Sejatinya hidayah sesuai dengan arti katanya adalah menunjukkan kepada sesuatu. Ibnul Qayyim menegasikan bahwasanya hidayah adalah bayan (penjelasan) dan dilalah (bimbingan), [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class=" aligncenter" src="http://tutinonka.files.wordpress.com/2008/12/img_1016.jpg" alt="Gerbang Makkah" width="326" height="215" /></p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Hidayah, bukan kata tanpa makna. Justru darisanalah semua keindahan bermulai jumpa. Hidayah menemukan antara penantian dan perjalanan usaha yang dijalani seseorang. Hidayah senantiasa mengakrabi hati tiap hamba datang dan pergi silih berganti siapapun dia. Sejatinya hidayah sesuai dengan arti katanya adalah menunjukkan kepada sesuatu. Ibnul Qayyim menegasikan bahwasanya hidayah adalah bayan (penjelasan) dan dilalah (bimbingan), serta taufiq dan ilham.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-8"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Kadangkala seseorang menunggu suatu perubahan dalam dirinya dengan perkataan, <em>‘saya belum dapat hidayah’</em>. Atau ketika ingin melakukan suatu kebaikan padahal sudah melintas di hati dan pikirannya dengan ucapan, <em>‘saya masih menunggu hidayah untuk melakukannya’</em>. Sahabat, momentum hidayah adalah momentum terindah. Segala keindahan itu sejatinya adalah tempuhan suatu usaha yang dijalankan. Setelah perintah untuk menyegerakan kebaikan menyeru dalam hati, selanjutnya adalah adakah diri untuk melaksanakan. Hidayah adalah situasi bahagia, tidak ada yang memiliki harga termahal selain mahalnya sebuah hidayah bagi seseorang yang telah merasakannya, dan tak ada yang dapat menandingi cahayanya terkecuali bagi mereka yang sebelumnya barada dalam kejahatan salah pintu kesesatan. Benarlah apa yang diucapkan oleh Ibnul Qayyim takkala mengambil faidah mengapa dalam setiap shalat seseorang diwajibkan mengucapkan <em>“ Tunjukilah kami jalan yang lurus ”</em> (QS. Al Fatihah : 6), karena hidayah yang telah Allah berikan kepada seseorang telah banyak jumlahnya. Takkala seseorang dapat mengetahui bagaimana adab makan dan minum yang benar, bagaimana adab buang hajat yang sesuai Islam, bagaimana seseorang paham tentang tata cara penyelenggaraan jenazah. Maka kesemua itu adalah hidayah. Semua tak terlepas dari doa yang terpanjatkan dalam tiap shalat tersebut dan Allah telah menunjukkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Allah Ta’ala banyak menjelaskan soal kemuliaan jalan-jalan raihan hidayah ini di banyak ayat. Salah satunya adalah, “<em>Dan Kami cabut segala macam dendam yang berada di dalam dada mereka; mengalir di bawah mereka sungai-sungai dan mereka berkata: &#8220;Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki Kami kepada (surga) ini. dan Kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi Kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang Rasul-rasul Tuhan Kami, membawa kebenaran.&#8221; dan diserukan kepada mereka: &#8220;ltulah surga yang diwariskan kepadamu, disebabkan apa yang dahulu kamu kerjakan.&#8221; </em>(QS. Al A’raaf : 43).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ibnu Katsir menjelaskan salah satu dari makna ayat tersebut adalah sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, <em>“Setiap penghuni surga menyaksikan tempatnya di neraka, lalu berkata : ‘Jikalau Allah tak memberi hidayah kepada kami niscaya kami akan celaka maka bagi-Nya syukur’.”</em> (HR. An Nasai, di-hasankan oleh Syaikh Albani dalam Shahih Al Jami’ 4514).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Disebabkan hidayah terbagi menjadi dua, ada hidayah yang sifatnya taufiq sebagai salah satu bentuk kekhususan milik Allah Ta’ala, sebagaimana firman-Nya <em>“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” </em>(QS. Al Qashshash : 56), dan ada pula hidayah yang sifatnya penjelasan serta pengarahan seperti yang dilakukan oleh para penyeru dijalan Allah seperti yang Allah firmankan <em>“Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al Quran) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan Dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan Sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”</em> (QS. Asy Syuura : 52).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Ibnul Qayyim mengatakan, Taufiq dan ilham datang setelah adanya penjelasan dan petunjuk. Penjelasan dan bimbingan hanya bisa diperoleh melalui diutusnya para rasul. Setelah datang penjelasan, petunjuk dan bimbingan, hidayah taufiq akan datang kemudian. Yakni dengan diciptakannya iman dalam hati sehingga menjadi hiasannya, membuatnya menjadi suka dan menyukai petunjuk tersebut. (Badai’ut Tafsir I : 116)</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Panggilan hidayah adalah sebuah panggilan jiwa yang menyelusup halus kedalam dada dengan penuh makna. Selalu punya cerita bagi setiap hasil, dan selalu indah dikenang setiap momentum yang digapai. Begitulah hidayah selalu menunjukkan eksistensinya. Ada keberadaan yang tak terlepas dari harapan dan dukungan. Ada sebuah tekad untuk memenuhi fitrah setiap manusia sebagaimana ia dilahirkan,  <em>“Tidaklah setiap anak yang lahir kecuali dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orangtuanyalah yang akan menjadikannya sebagai Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Seperti hewan melahirkan anaknya yang sempurna, apakah kalian melihat darinya buntung (pada telinga)?”</em> Hadits diriwayatkan oleh Al-Imam Malik rahimahullahu dalam Al-Muwaththa` (no. 507); Al-Imam Ahmad rahimahullahu dalam Musnad-nya (no. 8739); Al-Imam Al-Bukhari rahimahullahu dalam Kitabul Jana`iz (no. 1358, 1359, 1385), Kitabut Tafsir (no. 4775), Kitabul Qadar (no. 6599); Al-Imam Muslim rahimahullahu dalam Kitabul Qadar (no. 2658).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Insya Allah dalam kesempatan berikutnya akan disampaikan beberapa sebab hidayah tersebut datang kepada seseorang. Diantaranya adalah adanya sebuah pengaruh lingkungan, kesadaran dalam diri, dan tak ada pilihan lain yang harus diambil atau keterdesakan. Insya Allahu Ta’ala dalam kesempatan berikutnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/11/07/meniti-gerbang-hidayah.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
