<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rujak Kata &#187; Serut Pedas</title>
	<atom:link href="http://rujakkata.com/category/serut-pedas/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://rujakkata.com</link>
	<description>Kala Kata Berjumpa Makna</description>
	<lastBuildDate>Fri, 18 Jun 2010 10:36:50 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<xhtml:meta xmlns:xhtml="http://www.w3.org/1999/xhtml" name="robots" content="noindex" />
		<item>
		<title>Tergesa-gesa Lalu Salah Cara Serta Hasilnya</title>
		<link>http://rujakkata.com/2010/06/18/tergesa-gesa-lalu-salah-cara-serta-hasilnya.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2010/06/18/tergesa-gesa-lalu-salah-cara-serta-hasilnya.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 18 Jun 2010 10:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serut Pedas]]></category>
		<category><![CDATA[Ali Ghufron]]></category>
		<category><![CDATA[Amrozi bin Nur Hasyim]]></category>
		<category><![CDATA[Bom Bali I]]></category>
		<category><![CDATA[Khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[Kyai Senari]]></category>
		<category><![CDATA[Mukhlas]]></category>
		<category><![CDATA[Terorisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=75</guid>
		<description><![CDATA[
Saya cukup bergeming dan mengernyitkan dahi tatkala membaca buku yang ditulis oleh Amrozi bin Nur Hasyim. Eksekutor yang memiliki kebanggaan ketika dirinya melakukan operasi Bom Bali Jilid 1. Sebuah operasi yang mengantarkan dirinya menjadi pesakitan dengan dakwaan eksekusi mati. Sebelum pelaksanaan, beliau dan dua orang lainnya menyusun sebuah buku yang menjadi sebuah trilogi tersendiri. Salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://3.bp.blogspot.com/_7LrF6iz7XxQ/SWSV6SV7XFI/AAAAAAAAACw/LjgeIZacNEU/s400/failed.gif" alt="" width="249" height="198" /></p>
<p style="text-align: justify;">Saya cukup bergeming dan mengernyitkan dahi tatkala membaca buku yang ditulis oleh Amrozi bin Nur Hasyim. Eksekutor yang memiliki kebanggaan ketika dirinya melakukan operasi Bom Bali Jilid 1. Sebuah operasi yang mengantarkan dirinya menjadi pesakitan dengan dakwaan eksekusi mati. Sebelum pelaksanaan, beliau dan dua orang lainnya menyusun sebuah buku yang menjadi sebuah trilogi tersendiri. Salah satu buku yang ditulis dari ketiganya ialah buku yang ditulis oleh Amrozi berjudul Senyum Terakhir Sang Mujahid.</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-75"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Ada sebuah hal yang menggelitik saya ketika membaca tulisan tersebut. Bagi kita yang paham akan agama sesuai dengan pemahaman para sahabat Nabi shalallahu &#8216;alaihi wa sallam. Tentu akan memahami bagaimana kaidah dan tata cara amar ma&#8217;ruf yang benar. Bagaimana melakukan tashfiyah dan tarbiyah serta memahami tata cara dan konsekuensinya dalam mendakwahkan ajaran Islam. Seseorang pun mesti mengetahui dan memahami siapa yang dihadapinya dalam melakukan amar ma&#8217;ruf nahi munkar. Tak dinafikan bahwa dakwah memang penting dan memiliki keagungan yang sangat tinggi dalam Islam.</p>
<p style="text-align: justify;">Amrozi di usia mudanya mengisahkan dalam buku tersebut secara panjang lebar. Namun dari sekian ulasan yang panjang lebar tersebut saya mendapati hal yang menarik soal tata cara ia melaksanakan amar maruf di masa mudanya. Ia belajar agama Islam dari kakaknya yang juga terpidana mati hukuman mati yakni Ali Ghufron alias Mukhlas. Ia memahami mana syirik, khurafat, bid&#8217;ah, dan takhayul yang menjadi penyakit serta parasit bagi akidah lebih banyak juga ditimbanya di bawah asuhan Ali Ghufron.</p>
<p style="text-align: justify;">Dalam bukunya, Amrozi menceritakan di hal 93 &#8211; 99 dibawah sub judul &#8216;Kembali ke Tenggulun lagi’, bahwa setelah ia memahami dan mengetahui hakikat penyimpangan akidah dari ilmu agama yang ia pelajari selama ini. Menggugah dirinya untuk menghancurkan sebuah bangunan keramat di daerahnya. Bangunan keramat tersebut berupa cungkup yang diyakini terdapat dibawahnya makam orang shalih bernama Kyai Senari. Sebuah bangunan dimana banyak penduduk memberikan sesaji dan meminta banyak hal atas kubur tersebut.</p>
<p style="text-align: justify;">Singkat cerita setelah belajar agama, Amrozi muda berharap bisa menghancurkan bangunan tersebut. Dua kali kesempatan ia sempat gagal mengeksekusi, kepulangan dari Malaysia mengantarkan ia menjadi seorang montir sepeda motor hingga akhirnya disuatu malam yang telah direncanakan bersama temannya, Amrozi melakukan aksi yang telah dipendamnya selama ini. Bersama dengan temannya, Amrozi berupaya untuk menghancurkan cungkup keramat tersebut. Berbekal beberapa galon minyak tanah dan bensin, maka aksi pun dimulai pukul 11.</p>
<p style="text-align: justify;">Ia dan temannya tersebut pun sukses untuk membakar cungkup tersebut. Ya! Sebuah cungkup kebanggan warga setempat sukses dibakar oleh Amrozi. Kabar yang menggemparkan warga sekitar bahkan masuk ke surat kabar lokal. Namun lihatlah pembaca, apa yang dikisahkan Amrozi tersebut justru tidak mendatangkan kemaslahatan. Nahi Munkar yang dilakukannya justru mengantarkan warga mengumpulkan ung kembali dan berencana untuk membangun dengan bentuk yang permanen!</p>
<p style="text-align: justify;">Perhatikanlah wahai pembaca sekalian, Amrozi menghancurkan bangunan keramat sederhana tersebut. Terbukti sukses! Yaa sebuah kesuksesan yang mengantarkan kemadharatan berikutnya. Karena penduduk sekitar berencana membangun kembali dengan bangunan permanen yang sebelumnya hanya terbuat dari bambu.</p>
<p style="text-align: justify;">Amrozi berkata dalam bukunya, <em>&#8220;Ternyata aksi pembakaran bangunan cungkup yang telah saya lakukan belum berhasil menyadarkan sebagian warga untuk menghentikan tindakan mereka dalam mengeramatkan cungkup. Terbukti bahwa mereka hendak membangunnya kembali bahkan dengan cara permanen pula.&#8221;</em> (Amrozi : 2009, hal 96).</p>
<p style="text-align: justify;">Terbukti hingga akhirnya pada tanggal 13 Mei 1983 tepatnya Kamis dini hari. Amrozi beserta seorang temannya berupaya untuk melakukan sebuah penghancuran kembali atas makam tersebut. Kali ini aksinya ialah membongkar tanah makam tersebut. Ia dan temannya berbekal linggis dan berhasil meratakan tanah pada makam tersebut. Namun ternyata ia tak menemukan bekas mayat satupun yang disebut-sebut sebagai Kyai Senari.</p>
<p style="text-align: justify;">Amrozi sukses membongkar kebohongan makam tersebut tapi hanya untuk dirinya sendiri, seandainya ia menjadikan itu sebagai bukti salahnya pengkeramatan masyarakat atas makam tersebut. Bisa jadi hal tersebut lebih masuk logika masyarakat dan menjadikan masyarakat terbuka nuraninya sebab selama ini mereka melakukan sebuah kesalahan.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun Amrozi muda yang penuh semangat nahi munkar tersebut justru membawa batu nisan pada makam tersebut dan membuangnya ke rawa. Keesokan harinya masyarakat pun bertanya-tanya serta menjadi perbincangan kembali setelah aksi pertamanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah, tak ada manfaat yang didatangkan dari apa yang telah dilakukan oleh Amrozi di aksinya tersebut, yang ada justru menjadikan Amrozi masuk bui (polsek Paciran) selama beberapa hari lamanya akibat ulahnya. Lalu apakah yang dilakukan Amrozi sukses? Ternyata sama sekali tidak, justru ia mendapatkan sebuah kejengkelan kembali sebagaimana perkataannya:</p>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Ternyata peristiwa pembongkaran yang saya lakukan terhadap kuburan ini tidak menyurutkan keinginan sebagian penduduk desa untuk melanjutkan renovasi. Apalagi bahan-bahan material sudah terlanjur tersedia. Di tengah-tengah proyek renovasi ini mereka berusaha untuk mencari pelaku pembongkaran kuburan yang mereka keramatkan&#8230;&#8221; </em>(Amrozi : 2009, hal 99).</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Salah Cara Maka Salah Hasilnya</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah ketergesa-gesaan yang mendatangkan sebuah kehancuran. Tergesa-gesa ketika semangat sudah menyala dalam dada. Hanya dengan berbekal pemahaman seadanya tanpa guru yang benar-benar mumpuni keilmuannya menyebabkan seseorang tergelincir pada sebuah kesalahan dalam memahami dakwah yang sebenarnya. Amar Maruf dan Nahi Munkar merupakan perkara mulia, namun ketika sebuah perbuatan nahi munkar dilaksanakan dengan jalan yang salah maka hilanglah kemuliaan berganti menjadi sebuah kenistaan. Maksud hati adalah kebaikan, namun cara yang dilakukan menuai kesalahan. Bukan hanya sekedar keburukan yang terjadi namun masuk ke dalam lembah kehancuran yang menanti.</p>
<p style="text-align: justify;">Justru bisa jadi ketergesa-gesaan dengan maksud untuk sebuah pengabdian kepada Allah Ta’ala justru menjadikan seseorang jatuh kepada sifat yang merupakan tipu daya syaithan. Sebagaimana yang disabdakan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam<em>, “Sifat perlahan-lahan (sabar) berasal dari Allah. Sedangkan sifat ingin tergesa-gesa itu berasal dari setan.”</em> (HR. Baihaqi dan Abu Ya’la dan dihasankan oleh Al Albani dalam Al Jami’ Ash Shoghir).</p>
<p style="text-align: justify;">Sungguh kisah Amrozi diatas sebaiknya menjadikan seseorang agar tidak hanya mengandalkan semangat. Sebuah hikmah dalam berdakwah disertai dengan tata caranya kepada masyarakat akan lebih efektif dibandingkan tindakan gegabah. Sebuah bangunan keramat dihancurkan maka muncullah ide untuk membuat bangunan tersebut menjadi permanen. Bukan kemenangan Islam melainkan kemenangan kultus yang berada diatas kemusyrikan menjadi merajalela. Padahal seandainya seseorang mau belajar lebih baik, niscaya ia akan mendapatkan kebaikan yang banyak. Ada sebuah perkataan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam yang sangat berharga bagi kita agar tidak berbuat tergesa-gesa dalam bertindak hanya bermodal pada pengetahuan yang didapatkan secara spontan dan konsisten.<em>“Wahai ‘Aisyah, andaikata kaummu (penduduk Makkah) bukan orang yang baru (meninggalkan) kekufuran, niscaya saya merobohkan Ka’bah kemudian saya akan menjadikannya dua pintu: pintu tempat manusia masuk dan pintu mereka keluar</em> .<em>”</em> (Diriwayatkan oleh Bukhary-Muslim).</p>
<p style="text-align: justify;">Lihatlah apa yang dilakukan oleh Rasulullah disaat kaumnya baru masuk Islam. Beliau seharusnya lebih berhak untuk melakukan apa yang seharusnya beliau lakukan ketika itu, namun beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak melakukan penghancuran atau perubahan terhadap Ka’bah tersebut dikarenakan ketika itu mereka muallaf yang masih memberikan penghormatan atas Ka’bah. Mereka ketika itu masih mengagunggkan Ka’bah disebabkan ratusan berhala pernah berada di sekitarnya. Namun Nabi tidak menghancurkan. Nabi tidak melakukan perubahan terhadap Ka’bah. Akan tetapi Nabi merubah kaumnya terkebih dahulu dengan tashfiyah dan tarbiyah secara sempurna.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari Amrozi kita belajar, bukan karena aksi eksekusi matinya yang mengagumkan istri serta anaknya. Namun dari betapa ketergesa-gesaan dapat menghancurkan. Ketergesa-gesaan dapat mengundang kemudharatan. Masyarakat kita hari ini adalah masyarakat yang butuh dengan cahaya ilmu. Masyarakat yang membutuhkan sebuah pembersihan akidah. Dengan cara yang tepat, niscaya masyarakat akan menyambut dengan baik apa yang disampaikan. Bahkan dapat meresap kedalam dada dan terkenang sepanjang masa, sebagaimana harumnya nama Al Imam Muhammad bin Abdul Wahhab dalam menentang sebuah kemusyrikan di masanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terakhir saya bawakan ucapan Amrozi yang tak lagi mengernyitkan dahi melainkan membuat saya menyunggingkan senyum diatasnya, <em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>“Yach…beginilah nasibnya orang yang melaksanakan Amar Ma’ruf Nahi Munkar di negeri ini.”</em> (Amrozi : 2009, hal 99)</p>
<p style="text-align: justify;"><em> </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Wallahu ‘Alam bii Shawwab</em></p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2010/06/18/tergesa-gesa-lalu-salah-cara-serta-hasilnya.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kelak, Jangan Salahkan Kami!</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/12/22/kelak-jangan-salahkan-kami.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/12/22/kelak-jangan-salahkan-kami.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 07:38:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serut Pedas]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Ahmad]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Al Baghawi]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad bin Ismail Ash Shaigh]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Nashiruddin Al Albani]]></category>
		<category><![CDATA[Said bin Musayyib]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[
Masa senantiasa berganti dan menunjukkan selalu ada orang-orang yang mengisinya. Periode waktu menunjukkan bahwa adakalanya masa lampau dan ada pula masa yang datang. Kehidupan menyilihkan pergantian bagai siang menggeser malam. Islam, sebuah agama yang mulia dan tak ada yang mampu menandingi kemuliaannya. Islam senantiasa tetap akan ada hingga akhir jaman dan menjadi salah satu agama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://i115.photobucket.com/albums/n303/rblakester/150px-Icon-Warning-Red.png" alt="" width="150" height="125" /></p>
<p style="text-align: justify;">Masa senantiasa berganti dan menunjukkan selalu ada orang-orang yang mengisinya. Periode waktu menunjukkan bahwa adakalanya masa lampau dan ada pula masa yang datang. Kehidupan menyilihkan pergantian bagai siang menggeser malam. Islam, sebuah agama yang mulia dan tak ada yang mampu menandingi kemuliaannya. Islam senantiasa tetap akan ada hingga akhir jaman dan menjadi salah satu agama yang benar dan diakui kebenarannya dari masa ke masa. “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan Dia di akhirat Termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Ali Imraan : 85).</p>
<p style="text-align: justify;"><span id="more-52"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Telah berlalu jauh Islam dari masa keemasannya, masa yang memiliki penuh limpahan ilmu dimanapun dan kapanpun, menjadi masa yang diliputi oleh banyak kebodohan dan kesesatan lebih dominan dibandingkan dengan kebenaran dan kebaikan. Wafatnya para pewaris para Nabi yakni ulama telah menunjukkan pula hilangnya ilmu sedikit demi sedikit di atas bumi.</p>
<p style="text-align: justify;">Generasi muda sebagai tumpuan dan harapan lebih banyak mengisi aktivitasnya mengikuti dunia. Pergerakan musuh Islam yang membocorkan perahu-perahu keimanan para pemuda itu menjadi semakin besar dan meluas. Sebaliknya, kelompok tua tak ada lagi yang mewarisi keimanannya kepada anak-anaknya. Sebab acapkali sang ayah mengajak anaknya kepada jalan keimanan, acapkali pula sang anak lebih memilih berada di jalanan.</p>
<p style="text-align: justify;">Seiring dengan berjalannya waktu, lahirlah generasi-generasi Islam yang memiliki semangat dan mental berjuang kuat. Namun sangat disayangkan semangat dan mental tersebut jauh dari nilai-nilai kebenaran dan ilmu yang mendasarinya. Mental dan semangat keberanian itu pun sirna seiring dengan bertambahnya aktivitas. Gerakan tanpa ilmu pun berubah menjadi gerakan tak punya malu.</p>
<p style="text-align: justify;">Disisi lain muncul pula generasi yang sama mudanya, sama usia dan tingkatan generasi serta bisa jadi satu madrasah menuntut ilmu ketika dahulu. Mereka-mereka muda usia namun jauh dari agama. Ketika kecil anjangsana ke beberapa TPA merupakan bagian yang wajib setelah ashar tiba. Masjid-masjid penuh dengan kicauan mereka semasa kecil saat maghrib tegak waktunya. Orang tua sempat kewalahan mengatur tindak-tanduk mereka yang berlarian kesana kemari dan berbicara saat sedang shalat sehingga acapkali terjadi para bapak berbicara dalam hati soal tragedi betapa anaknya sangat mengusik kekhusyukan di hati. Tapi kini, warung makan dan tempat tongkrongan adalah aktivitas rutin sepulang kuliah dan selepas kerja. Menunggu macet sirna lebih asyik menghabiskan waktu ditengah kota bersama meja-meja berwarna hijau dengan bola berat bernomor satu sampai delapan atau sembilan. Istilahnya melepas penat dan jenuh dibangku kerja. Hadirnya teman-teman mesra menjadi pelengkap sang bocah yang dahulu duduk tenang di TPA. Gagang stick dan korek api di saku menjadi teman setia cerutu yang selalu sambung-menyambung menjadi satu bagaikan pulau-pulau.</p>
<p style="text-align: justify;">Tersadarlah dari kejenuhan sebagian diantara pemuda bangkit terbangun. Kehidupan bukan hanya di dunia saja, pasti ada sisi lain dari ini semua dan kenikmatan semu yang di punya. Tak punya pegangan dan pijakan yang benar dalam beragama maka justru berlari mendekatkan diri kepada praktik-praktik yang maksud hati baik, tapi apa daya syariat tidak mengizinkan sebagai suatu kebenaran.</p>
<p style="text-align: justify;">Masjid-masjid yang dahulu ramai teriakan aamiin dan celotehan shalawat badar di speaker hingga memutuskan kabel sudah tak lagi ada. Beceknya tempat wudhu telah cepat mengering, karena yang bermain air saat ini telah bermain bensin. Sang orangtua sangat merindukan kekesalan disaat sang anak dahulu rajin menggelayut disarung dan memainkan kopiah sang ayah. Nakal, tapi itulah sebuah kerinduan. Sehingga tak ada yang bisa ayah banggakan dari sang anak lewat sisi agama melainkan hanya perkataan waktu kecil anak saya juga pernah belajar mengaji. Miris, tapi itulah realita. Terkadang berjalan bersama, terkadang berpisah tanpa cerita.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Generasi Baru, Generasi Ilmu</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang, roda kembali berputar. Kejayaan Islam melalui keterwakilan eksistensi penarapan sunnah telah menjadi sesuatu hal yang mudah ditemui. Hakikat beragama yang mudah bila sesuai sunnah pun telah tumbuh dan sedang berbuah. Generasi muda yang baru, generasi muda penuh ilmu. Bukan generasi muda seperti sejawatnya yang lebih asyik menghisap dan bercandu. Generasi muda yang sadar betapa pentingnya agama dalam kehidupan mereka. Generasi yang senantiasa berkata sebagaimana perkataan seorang Imam yang pernah dibenci oleh kyai bapaknya.</p>
<p style="text-align: justify;">Berkata Imam Muhammad bin Abdul Wahhab At Tamimi dalam Tsalatsatil Ushul, wajib bagi kalian mengilmui dalam hal ini mengenal Allah, mengenal Nabi, dan mengenal agama. Setelah itu beramal, berdakwah, dan bersabar terhadap rintangan yang datang menghadang atas kesemuanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Karena sejatinya agama ini mudah, tak seperti yang pernah dibayangkan sebelumnya.sebagaimana dikatakan oleh Kanjeng Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Agama adalah mudah dan tidak seorang pun yang mempersulit dalam agama ini, kecuali ia akan terkalahkan&#8221;. (HR. Al-Bukhari (39), dan An-Nasa&#8217;i 5034). Hal ini juga diperkuat oleh firman Allah Ta’ala, “Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu” (QS. Al Baqarah 185).</p>
<p style="text-align: justify;">Maka, seiring dengan berjalannya waktu, bertambah pula dari generasi muda ini untuk mengajak orang-orang yang berada di lingkungan mereka. Para pemuda ini memulai urusannya dari awal pada tataran keluarga, lalu ajakan pun melebar kepada teman sejawat, sahabat setia, teman seperjuangan, teman sepergaulan dan permainan dahulu, hingga berharap besar agar lingkungannya terbentuk menjadi lingkungan yang penuh dengan ilmu dan menjadi lingkungan sesuai dengan akidah yang shahihah serta sesuai manhaj nubuwwah diatas sunnah, begitulah istilahnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Terdorong dari sebuah hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, &#8220;Permudahlah dan jangan kalian mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan kalian membuat orang lari&#8221;. (HR.Al-Bukhari (69&amp; 6125), dan Muslim(1734). Serta hadits berikutnya yang menyamangati kaum muda ini mendapatkan sesuatu yang lebih baik daripada unta merah, kendaraan mewah sepanjang masa. Rasulullah <em>shalallahu ‘alaihi wa sallam </em>berkata kepada Ali bin Abi Thalib <em>radhiyallohu ‘anhu</em> pada peperangan Khaibar <em>: </em><em>“ Majulah ke depan dengan tenang. Sampai kamu tiba ke tempat mereka, kemudian ajaklah mereka kepada Islam dan sampaikanlah kepada mereka hak-hak Alloh Ta’ala yang wajib mereka tunaikan. Demi Alloh, sekiranya Alloh azza wa jalla memberikan petunjuk kepada seseorang melalui dirimu, sungguh hal itu lebih baik (berharga) bagimu daripada memiliki unta-unta merah (unta-unta yang terbaik saat itu-pen) “</em> ( HR. Bukhari 3701 dan Muslim 2406 ).</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah sebuah semangat yang didasari ilmu, berjalan melaju sebagaimana arah yang dituju. Harapan besar bertumpu pada sebuah usaha yang tak padam karena dukungan acapkali mendatangi majelis-majelis kajian yang sekarang ini sudah sangat berserakan penuh manfaat di seantero penjuru nusa. Generasi baru, generasi yang mendasari segala aktivitas kepada ilmu. Dan mempersilahkan kepada punggawa-punggawa muara ilmu untuk menuntun generasi ini diatas jalan kebenaran untuk menyongsong kejayaan. Karena inilah generasi yang mengambil warisan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam dengan penuh lapang dada dan sabar ceria. Merekalah anak-anak muda yang mengatur rencana ketika malam minggu tiba untuk menyelenggarakan majelis ilmu di keesokan paginya. Bukan anak-anak muda yang mengatur rencana bila malam minggu tiba untuk waktunya kunjungan pacar.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak-anak muda yang berharap menjadi tanah basah yang dapat menahan air sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Perumpamaan apa yang aku diutus dengannya berupa petunnjuk dan ilmu, adalah seperti hujan deras yang mengenai tanah. Di antara tanah tersebut ada tanah yang baik, bias menerima air dan menumbuhkan banyak rerumputan. Dan diantara tanah tersebut ada yang keras bias menahan air, maka Allah memberikan manfaat dengannya kepada manusia. Mereka bisa minum, menyiram, dan menanam. Hujan deras itu juga mengenai bagian lainnya lagi dari tanah tersebut. Tidak lain tanah tersebut adalah lembah rata dan halus yang tidak bisa menahan air dan menumbuhkan rumput. Itulah perumpamaan orang yang paham tentang agama Allah dan bermanfaat baginya apa yang aku diutus oleh Allah dengannya; dia tahu dan mengajarkan. Dan itulah perumpamaan orang yang berpaling dan tidak mengambil manfaat darinya serta tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya.” (HR. Bukhari (79) dan Muslim). Panjanglah bila bahasan soal generasi muda penuh ilmu ini, generasi muda yang menyejukkan mata dan semestinya membuat iri pada anak-anak tetangga bagi sang empunya orangtua.</p>
<p style="text-align: justify;">Generasi muda yang jika suatu saat ditanya sebagaimana pemaparan Muhammad bin Ismail Ash Shaigh soal Imam Ahmad rahimahullah menceritakan kisahnya, Ahmad bin Hanbal melewati kami sambil memegang kedua sandalnya dengan kedua tangannya, beliau berlari di jalan-jalan Baghdad, berpindah dari satu majelis ke majelis lainnya. Maka berdirilah bapaknya yang bercerita itu yakni Ismail Ash Shaigh dan memegang baju Ahmad bin Hanbal seraya bertanya, Wahai Abu Abdillah! Sampai kapan kamu terus menuntut ilmu? Beliau Ahmad bin Hanbal menjawab, “sampai mati!” (Syaraf Ashhab Al Hadits hal 68). Atau dalam sesi lain saat Abdullah bin Muhammad Al Baghawi mendengarkan perkataan Abu Abdillah Ahmad bin Hanbal soal janjinya, “Aku akan terus mencari ilmu hingga dimasukkan kedalam kubur” (Manaqib lil Imam Ahmad hal 31).</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Kelak Jangan Salahkan Kami</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebegitu semangat yang membara, penuh arti tersendiri dalam lubuk relung hati jiwa. Semangat yang penuh menghasilkan manfaat dari anak-anak muda generasi sholeh sesuai dengan do’a orang tuanya dahulu agar menjadi anak yang beriman dan bertakwa. Anak-anak muda ini berinisiatif dengan daya karsa dan karya yang mereka miliki. Bukan untuk menguasai satu masjid ke masjid lainnya, tapi bermisi dan bervisi agar sunnah Nabi shalallahu ‘alayhi salam tegak di bumi pertiwi ini. Bukan layaknya pendemo sebagaimana barisan sakit hati dan frustasi terkena sindrom depresi sampai ujung kaki.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, acapkali usaha tak sejalan dengan hasil yang diharapkan. Para tetua tak rela merasa masjid yang dahulu telah lama dijejakkan kakinya oleh mereka terusik dengan kehadiran pemuda-pemuda yang berbahagia dan berilmu penuh kaya. Satu hal, karena bisa jadi anggapan tetua bahwasanya para pemuda ini telah salah jalan. Dan para tetua merasa pendaringan terganggu karena proposal perhelatan upacara perayaan hari besar islam terhambat laju karena pemuda baru kemarin sore ini.</p>
<p style="text-align: justify;">Mereka terkadang mengusir secara halus akan adanya sebuah kajian ilmiah yang dilaksanakan dan diadakan di masjid-masjidnya. Kadang pula secara kasar dengan terang-terangan tentunya dengan berbagai alasan. Namun di sisi lainnya, tenaga para tetua sudah payah, anak muda yang menjadi penerus mereka telah berubah orientasi ke arah dunia, pengajian yang mereka adakan sudah jauh dari nilai agama. Ketika kyainya mengajarkan cium tangan bolak-balik secara berlebihan, disaat air malam nifsyu sya’ban punya nilai sama dengan air zam-zam dan bertuah, ketika perayaan haul dan ziarah menjadi aktivitas rutin penguras biaya, disaat anak muda di mobilisasi untuk memperbaiki speaker yang kelak digunakan untuk berteriak qasidah dan shalawat yang tak jelas asal muasal, tak tahu artinya, dan jauh dari sunnah nabawiyyah sesungguhnya. Anak-anak muda dambaan tetua yang semakin banyak bagaikan buih. Penuh sesak tapi jauh dari ilmu.</p>
<p style="text-align: justify;">Kelak jangan salahkan kami jika saat shalat jamaah generasi muda penuh ilmu syar’i yang benar banyak mengisi shaf-shaf terdepan dan datang lebih dahulu sebelum adzan dikumandangkan. Jangan salahkan kami generasi muda yang antusias terhadap sunnah yang lekas pergi kala sang imam memimpin yasin dan tahlil setelah shalat maghrib tiba. Kelak jangan salahkan kami, bila dakwah yang kami bawa lebih membawa perubahan dalam kehidupan dan punya arti dibanding bernyanyi di subuh hari dengan tanpa fasih mengucap asma yang tak dikenal jaman Nabi serta para sahabatnya. Kelak jangan salahkan kami yang banyak mengisi masjid dengan aktivitas ilmu serta kajian dibandingkan anak-anak para tetua yang ramai memuja dunia atau membawa bendera di malam hari dengan knalpot motor meraung-raung disertai pelanggaran tata tertib dan berlalu lintas. Kelak jangan salahkan kami, tapi salahkanlah diri dan introspeksilah mengapa selama ini mengaji justru malah membuat hampa hati dan jauh dari ilmu syar’i. Bukan karena bapak tetua salah sebab beribadah karena beranggapan baiknya, tapi bapak tetua salah sebab telah menyalahi sunnah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah renungan indah yang dipaparkan oleh Said bin Musayyib rahimahullah, ia melihat seorang laki-laki menunaikan shalat setelah fajar lebih dari dua rakaat, lelaki tersebut memanjangkan ruku dan sujudnya, akhirnya Sa’id bin Musayyib pun melarangnya. Orang itu berkata: Wahai Abu Muhammad (kuniyah Sa’id) apakah Allah Ta’ala akan menyiksaku dengan sebab shalat?” Beliau (Sa’id bin Musayyib) menjawab: “Tidak, tetapi Allah Ta’ala akan menyiksamu karena menyelisihi sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam” (Al Baihaqi dalam Sunan Al Kubro 2/466). Pemaparan Sa’id ini menyiratkan pelajaran sebagaimana yang dikatakan oleh Muhammad Nashiruddin Al Albani, “Ini adalah jawaban Sa’id bin Musayyib yang sangat indah. Dan merupakan senjata pamungkas terhadap para ahlul bid’ah yang menganggap baik kebanyakan bid’ah dengan alasan dzikir dan shalat, kemudian membantai Ahlusunnah dengan pernyataan bahwasanya para Ahlusunnah mengingkari dzikir dan shalat! Padahal sebenarnya yang mereka (Ahlusunnah) ingkari adalah penyelewengan ahlul bid’ah dari tuntunan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dalam dzikir, shalat, dan lain-lain.” (Irwa’ul Gholil 2/236).</p>
<p style="text-align: justify;">Kelak, jangan salahkan kami bila masjid tetua yang selama ini tiba-tiba hidup kembali dengan tegaknya sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam.</p>
<p style="text-align: justify;">wallahu ‘alam bii shawwab</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/12/22/kelak-jangan-salahkan-kami.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>9</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Awalnya Lurus, Lalu Mencong.</title>
		<link>http://rujakkata.com/2009/12/21/awalnya-lurus-lalu-mencong.html</link>
		<comments>http://rujakkata.com/2009/12/21/awalnya-lurus-lalu-mencong.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 21 Dec 2009 07:56:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>rujakkata</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serut Pedas]]></category>
		<category><![CDATA[Al Mukhannats]]></category>
		<category><![CDATA[Al Mutarajjilah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://rujakkata.com/?p=49</guid>
		<description><![CDATA[
Dinamika kehidupan acapkali bersesuaian dengan perkembangan zaman. Dari masa ke masa selalu berubah-ubah tak pernah statis sisi lain kehidupan manusia. Segala sesuatu bisa menjadi dalih pembolehan dan pelarangan kala sendi tolok ukurnya bukan lagi dengan neraca syariat agama Islam yang mulia. Kebenaran semakin menjadi rancu, adakalanya kebenaran tertutup membisu karena kalahnya jumlah yang dominan bernama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="aligncenter" src="http://radicalbanana.files.wordpress.com/2008/08/lampu-merah.jpg" alt="" width="178" height="223" /></p>
<p style="text-align: justify;">Dinamika kehidupan acapkali bersesuaian dengan perkembangan zaman. Dari masa ke masa selalu berubah-ubah tak pernah statis sisi lain kehidupan manusia. Segala sesuatu bisa menjadi dalih pembolehan dan pelarangan kala sendi tolok ukurnya bukan lagi dengan neraca syariat agama Islam yang mulia. Kebenaran semakin menjadi rancu, adakalanya kebenaran tertutup membisu karena kalahnya jumlah yang dominan bernama kebiasaan dan kewajaran. Kesalahan sejatinya tetap tidak bisa dibiarkan apatah lagi kesalahan tersebut semakin melebar karena banyaknya dukungan. Padahal sebagai seorang muslim, sikap dasar dalam memahami suatu kebenaran itu ialah dengan memahami serta mengetahui ajaran sebaik-baiknya melalui neraca syariat yang telah digariskan oleh Allah Ta’ala dan dilaksanakan dengan sempurna oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam beserta para sahabatnya. Sekali lagi, kebenaran acapkali kalah dengan banyaknya kesalahan yang mendapatkan dukungan dari faktor kewajaran dan kebiasaan.<span id="more-49"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Adakalanya realita selalu bergandengan tangan mesra dengan fenomena. Realita seringkali pula menuruti apa yang menjadi sebuah fenomena umum. Salah satu fenomena itu adalah munculnya generasi-generasi yang kuat badannya tapi lemah jiwanya. Kuat perkasa, akan tetapi kemayu gerakannya. Berjenis kelamin pria, namun menyukai seorang yang berjenis kelamin sama dengan dirinya. Dalam istilah Arab dikatakan sebagai Al Mukhannats, yakni laki-laki yang menyerupai wanita dalam tingkah laku, ucapan, dan gerakannya (Syarah Shahih Muslim 14/163, Fathul Bari 9/404). Realita ini pun bukan terjadi dimasa sekarang ini saja, realita ini pun bahkan telah menjadi sebuah fenomena sebelumnya pada zaman Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam. Hal ini ditegaskan dalam sebuah hadits, “Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki.” (HR.Bukhari no. 5885, 6834).</p>
<p style="text-align: justify;">Mencong sebagai sebuah ekspektasi kehidupan masa kini adalah bukan lagi hal yang tabu untuk dibicarakan. Seseorang yang mengalami kemencongan dalam hidupnya akan merasa nyaman apabila kehadirannya diakui dan menjadi pewarna rasa dalam setiap aktivitas acara. Aktivitas mulutnya yang latah, gaya bicaranya yang sangat diluar batas norma, kasarnya dalam bertindak fisik menjadi sebuah labeling tersendiri bagi ekstase mencong, adakalanya diantara mereka genit terhadap sesuatu hal yang tak pantas untuk dibanyak artikan, menerobos batas sekat dinding pemisah secara bebas tak terarah, serta berani menghadapi masalah dengan rengekan dan tangisan ala wanita kebiasaan, ataukah juga tiba-tiba bisa berlari kencang padahal tak menggunakan celana panjang lalu tersingkaplah bulu di betis yang kacau berantakan akibat salah cukur dan kesiangan. Maaf, mencong disini adalah sebuah bahasa halus untuk setengah pria dan setengah wanita, waria, banci, bencong, atau istilah-istilah lain yang mewakili keadaan dimana seseorang telah menyalahi tabiat fitrah jenis kelaminnya. Dibebarapa negara, komunitas seperti ini memiliki kesejajaran hukum yang sama dengan dua lapisan gender sebelumnya yakni pria dan wanita, bahkan di beberapa negara telkah terjadi pengesahan pernikahan antara yang mencong dengan si cukong. Namun di dalam agama, terkadang agak susah untuk menguburkannya, apakah ia seorang yang wanita ataukah ia seorang pria. Karena konsekuensi yang ada akan berkaitan dengan tatacara penguburannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Begitulah fenomena terus berjalan lebih cepat dibandingkan guliran zaman, para mukhannats atau waria telah menjadi suatu kewajaran tersendiri. Suara-suara lantang bahwasanya hak asasi manusia mesti dijunjung tinggi pun lantang menggema bagaikan sebuah jeritan kera yang dahulunya adalah desis ular berbisa. Segala sesuatu mesti dihormati sekalipun di jaman Nabi yang demikian sudah terlarang dan dibenci. Atas nama kewajaran, maka para pria yang sebelumnya lurus menjadi mencong semakin banyak jumlahnya. Atas nama luka hati karena cinta terhadap lawan jenis, maka mereka ber-trans seksual linear segaris dengan jenis kelaminnya. Gender sudah menjadi prasasti kemenangan bagi dialektika dogma kewajaran. Atas nama himpitan ekonomi maka jalan pintas lantas berhias di sudut jalan serta kamar dagang dan perumahan dilakoni, sekali lagi atas nama kebebasan mereka menjadi juru rias wanita yang mencintai pria. Karena dapat mengocok gurau canda maka penerimaan lebih pun diberikan kepada mereka, disertakan dalam label yang mesti selalu dihormati dan dijunjung tinggi eksistensinya. Sungguh Al Mukhannats telah berjaya untuk merusak simbiosis kehidupan beragama. Sebab tokoh agama adakalanya memaklumi apa yang telah diperbuat mereka dan ikut tertawa kala mereka bergelak ria.</p>
<p style="text-align: justify;">Laknat Nabi jelas diberikan kepada mereka atas menyimpangnya mereka dan rusaknya kaidah yang dibawa oleh para Mukhannats, hadits Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam menjadi dalih yang semestinya tak bias terbantah lagi dari bibir latah serta asal bicara seenaknya soal status mereka. Sebab teranglah sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ini, “Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita  (mukhannats) dan wanita yang menyerupai laki-laki (mutarajjilah). Dan beliau Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “Keluarkan mereka (usir) dari rumah-rumah kalian”. Ibnu Abbas berkata: “Maka Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam pun mengeluarkan Fulan (seorang mukhannats) dan Umar mengeluarkan Fulanah (seorang mutarajjilah).” (HR. Bukhari no. 5886).</p>
<p style="text-align: left;">Sang mukhannats mesti terusir dengan sebab tiga syarat, yakni :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Disangka termasuk      laki-laki yang tidak punya syahwat terhadap wanita tapi ternyata ia punya      syahwat namun menyembunyikannya.</li>
<li>Ia menggambarkan      wanita, keindahan-keindahan mereka dan aurat mereka di hadapan laki-laki      sementara Nabi Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam telah melarang seorang wanita      menggambarkan keindahan wanita lain di hadapan suaminya, lalu bagaimana      bila hal itu dilakukan seorang lelaki di hadapan lelaki?</li>
<li>Tampak bagi      Rasulullah Shallallahu &#8216;alaihi wa sallam dari mukhannats ini bahwa dia      mencermati (memperhatikan dengan seksama) tubuh dan aurat wanita dengan      apa yang tidak dicermati oleh kebanyakan wanita. Terlebih lagi disebutkan      dalam hadits selain riwayat Muslim bahwa si mukhannats ini mensifatkan/      menggambarkan wanita dengan detail sampai-sampai ia menggambarkan kemaluan      wanita dan sekitarnya, wallahu a’lam.( Al Imam Nawawi dalam Syarah Shahih      Muslim, 14/164).</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;"><strong>Bagaimana Mengatasinya ?</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah kebiasaan tentunya tak bisa hilang lenyap hanya dengan sedikit usaha. Realitanya semua selalu butuh waktu penyelesaian. Kuatnya usaha adalah berpengaruh besar dari kuatnya kesungguhan dan keyakinan. Kesemuanya membutuhkan keteguhan dan kesabaran, menatap ke depan dan mencoba untuk berpikir kemudian akan bagaimana seseorang berhadapan dengan Tuhan. Nilai jual memang selalu mahal untuk harga-harga penyimpangan. Kiri kanan jalan selalu punya peluang untuk menjatuhkan. Maka bersama berpikir untuk mengatasi rintangan demi tercapainya sesuatu yang mencong menjadi lurus dan tidak kembali lagi tertukar. Ada beberapa hal yang sangat terkait untuk meluruskan sesuatu yang telah mencong. Seketika kemencongan bisa lebih parah jika tidak ada niat atau tekad untuk meluruskannya. Diantara kiat-kiat tersebut adalah :</p>
<ol style="text-align: justify;">
<li>Mempertajam niat dan memperbaharui tekad akan sebuah konsistensi dalam kehidupan di dunia ini. Terkadang mereka-mereka yang mengalami kemencongan karena adanya sebuah orientasi dasar perubahan dari arah lurus. Perubahan tersebut karena adanya nilai-nilai pencapaian dalam pergaulan dan dengan siapa ia bergaul. Maka mempertajam niat mesti dikedepankan agar bisa mencapai hasil yang sempurna. Setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niati dan usaha yang ia lakukan. Maka bila Al Mukhannats merasakan bahwasanya bukan disana hakikat identitas dirinya. Mulailah untuk berubah dengan niat yang tepat. Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh, Umar bin Al-Khathab radhiyallahu &#8216;anhu, ia berkata :<em> “Aku mendengar Rasulullah shallallahu &#8216;alaihi wa sallam bersabda: “Segala amal itu tergantung niatnya, dan setiap orang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan Rasul-Nya. Barang siapa yang hijrahnya itu Karena kesenangan dunia atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu kepada apa yang ditujunya”. </em>(Bukhari no.1 dan Muslim no. 1907).</li>
<li>Hijrah atau berpindah dari tempatnya ia berada. Bias jadi seseorang merasakan bahwa lingkungan telah membentuk ia menjadi seseorang yang menyimpang dari arah hakikat diri yang sebenarnya. Karena sebagian besar adik dan kakaknya adalah wanita maka seorang yang semestinya jantan bias menjadi betina, begitu pula sebaliknya. Maka setelah ia menemukan dan mengetahui bagaimana identitas diri yang sebenarnya dan bagaimana ia harus bersikap dan bersifat. Dibutuhkan bagi dirinya untuk berhijrah. Hijrah yang bermakna berpindah dari lingkungan pembentukan sebelumnya ke lingkungan yang sesuai dengan kodrat diri. Akan banyak kebaikan yang didapat bila hakikat ini telah terpenuhi. Jangan pernah merasa takut bila berpindah ke lingkungan selanjutnya, karena yakinlah bahwasanya hal yang demikian merupakan sebuah tipu daya dari hawa nafsu yang diikuti. Cobalah untuk menembus batas dan ruang yang selama ini menjadi selaput pembatas. Makanya makna dan hakikat hijrah ini sangat berkaitan dengan niat yang telah dirumuskan di awal. Sungguh sebuah kisah indah seperti yang dipaparkan oleh Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam ini, <em>&#8220;Dahulu ada seorang laki-laki sebelum kalian yang telah membunuh 99 nyawa. Dia bertanya tentang orang yang paling berilmu di atas permukaan bumi. Lalu ditunjukkanlah seorang rahib (ahli ibadah). Kemudian ia pun datang kepada sang rahib seraya mengatakan bahwa dirinya telah membunuh 99 nyawa. Apakah masih ada taubat baginya? &#8220;tidak ada!!&#8221;, tukas si rahib. Maka orang itu membunuh si rahib dan menyempurnakan (bilangan 99) dengan membunuh si rahib menjadi 100 nyawa. Kemudian ia bertanya lagi tentang orang yang paling berilmu di atas pemukaan bumi. Lalu ditunjukkan seorang yang berilmu (ulama’) seraya menyatakan bahwa dirinya telah membunuh 100 nyawa, apakah masih ada taubat baginya. Orang yang berilmu itu menyatakan bahwa siapakah yang menghalangi antara dirinya dengan taubat? &#8220;Berangkatlah engkau ke negeri demikian dan demikian, karena disana ada sekelompok manusia yang menyembah Allah -Ta’ala- . Maka sembahlah Allah bersama mereka, dan janganlah engkau kembali kembali ke kampungmu, karena ia adalah kampung yang jelek&#8221;, kata orang yang beilmu itu. Orang itu pun berangkat sampai di tengah perjalanan, ia di datangi oleh kematian. Maka para malaikat rahmat, dan malaikat adzab (siksa) pun bertengkar tentang orang itu. Malaikat rahmat berkata, &#8220;Dia (bekas pembunuh) ini telah datang dalam keadaan bertaubat lagi menghadapkan hatinya kepada Allah -Ta’ala-&#8221;. Malaikat adzab berkata, &#8220;Orang ini sama sekali belum mengamalkan suatu kebaikan&#8221;. Lalu mereka (para malaikat itu) pun didatangi oleh seorang malaikat dalam bentuk seorang manusia. Mereka (para malaikat) pun menjadikannya sebagai hakim. Malaikat (yang menjadi hakim) berkata, &#8220;Ukurlah antara dua tempat itu; kemana saja laki-laki lebih itu dekat, maka berarti ia kesitu&#8221;. Mereka mengukurnya; ternyata laki-laki itu lebih dekat ke negeri yang ia inginkan. Akhirnya malaikat rahmat menggenggam (ruh)nya&#8221;.</em> [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Al-Anbiyaa’, bab: Am Hasibta anna Ashhaba Kahfi war Roqim (3283), Muslim dalam Kitab At-Taubah, bab: Qobul Taubah Al-Qotil Wa in Katsuro qotluh (2766), Ibnu Majah dalam Kitab Ad-Diyat, bab: Hal li Qotil Al-Mu’min Taubah (2622)].</li>
<li>Mencari teman pergaulan yang baik adalah syarat perubahan berikutnya. Agar kelak niat dan hijrah bisa menjadi hasil. Maka diperlukan teman dan sahabat yang mau serta membantu untuk berubah. Pilihlah teman yang sebenar-benarnya. Bukan teman yang menjerumuskan dan menjadikan diri berpindah dari satu kesalhan menuju cabang-cabang kesalahan lainnya. Awali pemilihan teman itu dengan sifat dan sikap yang menunjukkan bahwa anda adalah sudah bukan anda yang dahulu lagi. Sudah menjadi sosok yang sesuai dengan kodratnya. Sama dengan pria yang lain, yang berpenampilan jantan. Sama dengan wanita lain yang berpenampilan feminin. Maka pilihlah teman yang tepat. Karena pilihan mempengaruhi sebuah akhiran yang menyenangkan. <em>&#8220;Seorang itu berada di atas jalan hidup (kebiasaan) temannya. Lantaran itu, hendaknya seseorang diantara kalian memeperhatikan orang yang ia temani&#8221;.</em> (At-Tirmidzi dalam Sunan-nya (2378). HR. Abu Dawud dalam Sunan-nya (4833), dan Hadits ini dihasankan oleh Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shohihah (927).</li>
<li>Berusaha dan bertawakal. Agar semua itu tidak menjadi hampa dan berakhir nestapa maka kesemuanya mesti membutuhkan usaha yang maksimal.</li>
<li>Berdoa. Urusan ini merupakan urusan pamungkas bagi setiap hamba. Dalam pepatah, tiada kata seindah doa. Tak ada ucapan yang lebih baik dibandingkan sebuah realitas pengharapan. Maka doa adalah eksistensi pengaharapan sebenarnya. Untuk hidup yang lebih baik. Maka buatlah harapan demi sebuah perubahan lebih indah lagi.</li>
</ol>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://rujakkata.com/2009/12/21/awalnya-lurus-lalu-mencong.html/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
