Habis Galau Terbitlah Tenang

Ia berkata, mari mengobrol, aku jawab tidak, Allah dan Islam enggan memenuhi ajakanmu
Tidakkah engkau melihat Muhammad dan pasukannya, menaklukkan Mekkah di hari berhala-berhala dihancurkan
Sungguh aku melihat agama Allah menjadi sangat jelas, sedangkan kesyirikan tertutup oleh kegelapan-kegelapan.
Begitulah bunyi syair yang dikutip dalam kitab monumental Al Bidayah wa An Nihayah (IV:352) milik Abul Fida’ Ibnu Katsir, sang mufassir yang diakui keilmuannya diseluruh pelosok dunia Islam. Syair tersebut adalah ucapan lantang Fadhalah bin Umair bin Maluh Al Laitsi setelah Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam memegang dadanya dan menenangkan jiwanya. Allah Maha Tahu apa yang akan dilakukan oleh Fadhalah sebelumnya ketika niat buruk persembunyian hatinya disampaikan oleh Allah melalui wahyu kepada Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sehingga terbongkarlah niat buruknya. Berawal dari keseringannya Fadhalah duduk pada lingkungan yang buruk, bercengekerama dengan para wanita-wanita penghasut yang di hatinya menyimpan hasad kepada Muhammad maka darisanalah perencanaan itu berawal.
Pada mulanya Fadhalah berhajat besar untuk membunuh sang Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam kala sedang thawaf di Baitullah. Mengendap-endap Fadhalah mendekati Rasulullah dsertai persiapan belati yang siap menikam Nabi. Setelah dekat posisinya kala itu dengan Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam, maka Nabi bertanya kepada dirinya, “Apakah ini Fadhalah?”. Maka Fadhalah menjawab, “Betul, ini Fadhalah wahai Rasulullah”
Nabi kembali bertanya, “Apa yang kamu katakan dalam hatimu?”. Fadhalah pun menjawab, “Tidak ada apapun, melainkan aku hanya berdzikir kepada Allah”. Rasulullah tertawa mendengarnya, lalu bersabda “Minta ampunlah kepada Allah wahai Fadhalah”. Maka selanjutnya Nabi meletakkan tangannya diatas dada Fadhalah sehingga hatinya menjadi tenang. Setelah berlalu Fadhalah pun bertutur, “Demi Allah. Tidaklah beliau mengangkat tangannya dari dadaku sampai aku merasa tidak pernah Allah menciptakan sesuatau yang lebih aku cintai dibandingkan beliau.”
Lalu Fadhalah pulang kerumahnya untuk bertemu berkumpul kembali dengan keluarganya. Ditengah perjalanan Fadhalah menjumpai karib duduk yang jahat tersebut dari kalangan para wanita yang mengajaknya untuk duduk kembali berbicara. Maka keluarlah lantunan bait syair tersebut dari lisan Fadhalah sebagai apresiasi penolakan dan penegasan sikapnya saat ini untuk berlari menjauh dari persekongkolan makar buruk lainnya.
Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya Dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan Barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. Begitulah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman. (QS. Al An’am : 125).
Abu Umamah mengungkapkan kisah yang unik dalam mengajarkan pegangan pada dada dan mendoakan atasnya. Abu Umamah Al Bahili menuturkan : “Sesungguhnya pernah ada seorang pemuda yang datang kepada Nabi shallallahu `alaihi wa sallam mengatakan, ‘Wahai Rasulullah, ijinkanlah aku berzina.’ Saat itu, orang-orang yang ada di sekitar membentaknya seraya mengatakan, ‘Mah, mah!’ Sementara Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menyuruh pemuda itu untuk mendekat. ‘Mendekatlah,’ ajak beliau.
Pemuda itu pun mendekat. Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam bertanya, ‘Sukakah engkau kalau hal ini terjadi pada ibumu?’ ‘Tidak, demi Allah, aku sebagai jaminanmu,’ jawabnya. ‘Demikian pula halnya setiap manusia pasti tidak menyukai hal itu terjadi pada ibu-ibu mereka,’ jelas Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam kepada pemuda itu. Kemudian beliau ajukan pertanyaan lagi, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada anak perempuanmu?’ Ia Jawab, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan diriku sebagai jaminanmu’ Beliau jelaskan lagi, ‘Demikian pula manusia tidak menyukai hal itu terjadi pada anak perempuan mereka.’
Kemudian beliau tanya, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada saudara perempuanmu?’ Pemuda itu menjawab, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’ Lalu beliau bersabda, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada saudara-saudara perempuan mereka.’ ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (ammah / saudara perempuan bapak)?’ Tanya beliau kembali. Dijawabnya, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu’ Kemudian Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam nyatakan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi mereka.’ Beliau berikan lagi pertanyaan, ‘Sukakah engkau jika hal itu terjadi pada bibimu (khalah / saudara perempuan ibu)?’ Jawab pemuda itu, ‘Tidak, demi Allah, Allah menjadikan aku sebagai jaminanmu.’ Rasulullah shallallahu `alaihi wa sallam menuturkan, ‘Tidak pula manusia menyukai hal itu terjadi pada bibi (khalah) mereka.’ ”
Selanjutnya Abu Umamah menyatakan : “Maka Rasulullah meletakkan tangannya di atas dada pemuda itu seraya mengucapkan : ‘Ya Allah, ampunilah dosanya, bersihkanlah hatinya dan peliharalah kemaluannya.’ (HR. Ahmad dan Thabrani, disahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah no. 370).
Habis Galau Terbitlah Tenang
Begitulah pelajaran-pelajaran dari ketenangan. Selalu mengacu dan mengarah kepada pusat ketenangan yakni dada. Saat Fadhalah bersiasat buruk dan mencoba membunuh Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam sirna ditelan ucapan yang indah dan pegangan pada dada yang menenangkan, kala seorang pemuda yang galau hatinya meminta izin untuk berzina namun Nabi justru menasehati seraya memegang dada serta mendoakannya. Begitulah semestinya bagi mereka-mereka yang paham akan arti ilmu menyikapi para awwam dalam hal agama ini.
Bisa jadi kebanyakan mereka belum mengerti dan tidak mengetahui apa yang semestinya harus dilakukan, apa yang seharusnya dilaksanakan. Kala benih-benih hidayah mampir menyapa jiwa mereka. Dibutuhkan sebuah ketenangan untuk menghanguskan kegalauan. Dibutuhkan sebuah kesabaran dalam membimbing orang tersayang agar hidayah tetap menyapanya. Masa-masa ini adalah masa dimana sebagian manusia dipenuhi kegalauan dalam dadanya. Kala aktivitas dunia menyibukkan waktunya sehingga kejaran harta tak mampu menenangkan jiwa, ketika para populis berusaha menghapus citra diri yang selama ini terbangun dengan banyak kesalahan dan mencoba melenyapkannya dengan untaian harapan ketenangan. Selalu ada yang menunjukkan, namun selalu ada pula yang membelokan dari tunjukan-tunjukan tersebut. Waktunya bagi kita yang telah memahami, mengetahui, dan memancangkan harapan dari sebuah ketenangan untuk memadamkan hati-hati penuh galau dan risau yang menyayat dada bak pisau. Selalu menyeruak menghunus tajam menekan jiwa untuk mengajak kepada kesalahan.
Demikianlah Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam mengajarkan pada kita akan banyak hal yang semsetinya dilakukan. Ungkapan-ungkapan yang mengarah kepada satu tujuan yakni dada sebagai sebuah eksistensi perwakilan dari metabolisme keselarasan manusia. Kala arah kebaikan dan keburukan kesemuanya berada di dada. Dan ketika dada menjadi episentrum lokal kekuatan serta kemenangan apatah itu keburukan maupun kebaikan.
Oleh karena itu benarlah sabda baginda Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam bahwasanya Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling mencurangi, janganlah saling membenci, janganlah saling membelakangi dan janganlah sebagian kalian menjual atas penjualan sebagian yang lainnya. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara! Seorang muslim adalah bersaudara, janganlah mendholiminya, merendahkannya dan janganlah mengejeknya! Takwa ada di sini -beliau menunjuk ke dadanya tiga kali-. Cukup dikatakan jelek seorang muslim, jika ia menghinakan saudaranya muslim. Setiap muslim atas muslim lainnya haram darahnya, harta dan kehormatannya. (HR. Muslim).
Sehingga darisanalah semestinya kita memulai untuk menunjukkan hati-hati galau itu pada ketenangan yang kita pahami dan ketahui. Ketenangan sebagaimana para shahabat ridwanallahu ‘alayhim jami’an serta para salafush shalih terdahulu mengapresiasikannya dalam rona-rona keimanan yang menghujam dalam dada. Ternyata darisanalah pelajaran itu bermula. Bahwasanya muara kebaikan itu acapkali berasal dari sapaan dalam dada. Dada yang tenang, jiwa yang sehat, akal yang bersih, serta kemauan untuk mengamalkannya dengan benar. Ketenangan sejati adalah mahalnya diri untuk mempersembahkan usaha-usaha maksimal penuh potensi pencapaian ekspektasi keimanan dan ekstase kebahagiaan. Bukanlah sebuah usaha maksimal yang akhirnya menjadikan misi-misi kegalauan dari hembusan syaithan menerkam semakin tertular.
Sebagaimana sebuah ucapan seorang salaf Khalid bin Mi’dan, “Jika pintu kebaikan dibukakan untuk anda, maka bergegaslah menuju kesana. Karena anda tidak tahu kapan pintu itu akan ditutup.” (Hilyatul Auliyaa 5/211)












salam kenal sobat…
salam kenal kawan..
syukron ya akh ilmunya.
ana baru beli bukunya tp lum dibaca. jd semangat cepat2 mulai baca buku albidayah wannihayah..
yaa, dibaca aja akh bukunya.. penuh hikmah dan faidah
Assalamu’alaykum warahmatullah wabarakatuh
Artikel yang menarik….
Barakallahu fiyk
wa’alaykumsalam warahmatullahi wabarakatuh, terima kasih mbak suryani.. semoga kali lain bisa berkunjung kembali.. wafiiki barakalloh